News  

BI DIY Gelar Ngobrol Santai Bareng Media: Pentingnya Data untuk Laporan Berita Ekonomi

Peserta dan Narasumber “Ngobrol Santai Bareng Media” foto bersama usai kegiatan. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY menyelenggarakan acara “Ngobrol Santai Bareng Media” bertempat di Hotel Grand Rohan, Yogyakarta, pada Rabu, 12 November 2025. Acara tersebut dihadiri oleh 30 reporter/ jurnalis baik media cetak dan media elektronik, termasuk media online. Juga tampak hadir Hermanto, Deputi Kepala Perwakilan BI DIY.

Pada kesempatan tersebut disampaikan kondisi perekonomian DIY terkini oleh Sri Darmadi Sudibyo, Kepala Perwakilan BI DIY. Sementara materi lain dengan topik “Data untuk Laporan Berita Ekonomi” disampaikan oleh Y. Sri Susilo, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY yang juga Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta.

Y. Sri Susilo mengemukakan, bahwa reporter dan jurnalis wajib membuat berita atau artikel dengan baik dan benar. Menurut Susilo, baik dalam arti mencakup penentuan sudut pandang (angle) yang menarik, riset mendalam, dan penyajian informasi secara akurat, objektif, dan relevan.

“Juga menggunakan struktur piramida terbalik dengan informasi terpenting di awal, bahasa sederhana. Benar dalam arti laporan didukung data yang valid. Jangan lupa cantumkan sumber terpercaya, serta hindari jargon teknis yang rumit atau bias,” kata Y. Sri Susilo, dalam rilisnya, Jumat (14/11/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Susilo menegaskan bahwa laporan berita ekonomi dan bisnis yang menarik jika: (1) menyajikan data informatif. (2) Jika mengutip data sekunder, sebaiknya sumber primer. Misalnya data inflasi mengacu dari sumber BPS, untuk data Jumlah Uang Beredar (JUB) bersumber dari BI.

Narasumber: dari Kiri, Y Sri Susilo, Sri Darmadi Sudibyo dan Hermanto. (Foto: Istimewa)

(3) Jika ragu terhadap data atau informasi wajib melakukan konfirmasi ke sumber primer khususnya lembaga yang menerbitkan data. (4) Penyajian dalam laporan, sebaiknya dibandingkan baik secara cross section (misalnya antar sektor atau daerah) dan time series (dibandingkan dari waktu ke waktu, misalnya bulanan, triwulanan atau tahunan).

“Pada saat mengutip data dari lembaga resmi, wajib melihat definisi operasional dari data tersebut,” tegas Susilo.

Hal tersebut, menurut Susilo, dilakukan karena perbedaan definisi menjadikan datanya juga berbeda. Sebagai contoh, data ekspor menurut BPS dan BI tentu datanya berbeda. Definisi ekspor BPS dengan basis perhitungan free on board (fob), sedangkan definisi ekspor BI dengan basis perhitungan cost insurance and freight (cif).

Dikatakan, reporter dan jurnalis menjadi sangat penting khususnya menyampaikan data kemudian dilaporkan menjadi informasi yang mudah dipahami oleh khalayak pembaca, penonton dan pendengar media cetak, online dan elekronik.

“Reporter dan jurnalis yang baik adalah mereka yang mampu melaporkan data menjadi informasi yang menarik dan mudah dipahami,” ungkap Susilo yang gemar gowes dan touring motor.

Dalam sesi tanya jawab, sebagain besar bertanya terkait prospek pertumbuhan ekonomi nasional dan DIY tahun 2026. Pertanyaan tersebut diajukan ke Sri Darmadi Sudibyo dan Hermanto. Dengan jawaban, bahwa pada intinya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 diperkirakan masih tumbuh sedikit diatas 5%.

Demikian pula untuk perekonomian DIY, namun pertumbuhan ekonomi DIY diperkirakan akan lebih tinggi dari perekonomian nasional. Sementara terkait dengan isu redominasi rupiah, menurut Susilo, kebijakan tersebut bertujuan untuk efisiensi dalam menyusun laporan keuangan.

Redominasi tidak akan merubah nilai rupiah baik nominal dan rill. “Kebijakan sanering dan devaluasi rupiah yang lebih berdampak pada nilai rupiah yang dapat mempengaruhi perekonomian,” pungkas Y. Sri Susilo. (*/ ted)