News  

Menelisik Makna Leadership Day 2025, Strategi Pemimpin Menghadapi Era Ketidakpastian Global

Event Leadeship Day 2025 yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM. foto: birgita/bernasnews

bernasnews – Di tengah gelombang ketidakpastian global, krisis lingkungan, dan revolusi digital yang terus berakselerasi, Leadership Day 2025 yang digelar di Gedung Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Selasa (11/11/2025) menjadi panggung refleksi bagi para pemimpin lintas bidang untuk meninjau kembali makna kepemimpinan masa kini dan masa depan.

Acara ini menyoroti bagaimana pemimpin di era disrupsi harus mampu beradaptasi dengan kompleksitas masyarakat dunia. “Leadership Day ini diselenggarakan sejalan dengan situasi saat ini, di mana kita berada dalam arus perubahan global yang pesat. Kita membutuhkan model kepemimpinan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga adaptif, kolaboratif, dan berdaya,” ujar Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Wening Udasmoro.

Menurutnya, kepemimpinan masa depan menuntut visi dan misi yang inklusif, yakni kepemimpinan yang mampu berdiri di atas berbagai golongan dan penuh empati. Model ini diyakini menjadi fondasi bagi terciptanya masa depan Indonesia yang adil dan berkelanjutan.

Kepemimpinan sebagai Alat Transformasi

Kepemimpinan sejatinya bukan sekadar posisi atau jabatan, melainkan alat transformasi yang membawa perubahan nyata. Hal ini ditegaskan oleh Mayjen TNI (Purn) Hassanudin, Ketua Keluarga Alumni Magister dan Doktor Kepemimpinan dan Inovasi (Kapimgama), yang menyoroti pentingnya substansi dan suksesi kepemimpinan di berbagai jenjang.

“Kepemimpinan tidak hanya bicara tentang posisi, tapi berkaitan dengan tindakan yang lebih dari sekadar aktivitas dalam organisasi. Sejatinya, kepemimpinan harus melakukan perubahan,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan kepemimpinan saat ini tidaklah ringan. Setidaknya, ada tiga tantangan besar yang dihadapi para pemimpin masa kini: ketidakpastian global, tekanan ekonomi, dan percepatan transformasi digital.

Sejumlah pembicara serta peserta event Leadeship Day 2025 yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM. foto: birgita/bernasnews

Tantangan Global yang Menguji Kepemimpinan

Ketidakpastian menjadi tantangan pertama yang mencolok. Berdasarkan laporan konsultan internasional di bidang sumber daya manusia, sekitar 42 persen pemimpin menyatakan banyak isu masa kini sulit diprediksi. Kondisi ini juga tercermin dalam koreksi pertumbuhan ekonomi global yang dilakukan oleh IMF.

Dalam menghadapi hal tersebut, pemimpin dituntut untuk “tetap mendapatkan informasi, membuat rencana, memantau, dan terbuka terhadap perubahan yang terjadi.”

Tantangan kedua adalah ekonomi. 52 persen pemimpin global menyatakan kekhawatiran terhadap ancaman resesi dan inflasi, sementara 73 persen masyarakat dunia kini cemas terhadap kenaikan harga. Indonesia sendiri tengah berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap di kisaran 5,2 persen, dengan kontribusi besar dari investasi hijau dan kebijakan pemerataan ekonomi.

“Peran kepemimpinan di semua level sangat penting dalam menghadapi hal ini, tidak hanya pada kebijakan fiskal dan moneter, tetapi juga pada upaya menurunkan kesenjangan ekonomi,” ujar Hassanudin menekankan.

Tantangan ketiga adalah transformasi digital dan adopsi AI. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah merasa tertinggal dari perusahaan besar yang lebih cepat beradaptasi. Karena itu, strategi pemimpin dalam memanfaatkan teknologi menjadi kunci agar bisnis tetap kompetitif di era digital.

Refleksi bagi Pemimpin Muda

Momentum Leadership Day 2025 juga menjadi ajakan untuk melakukan refleksi mendalam. Para peserta diajak untuk mengubah ketidakpastian menjadi peluang dan menjadikan tantangan sebagai pendorong inovasi.

“Pemimpin masa depan harus berani bermimpi, mendorong perubahan, mengembangkan kemampuan, dan memberi inspirasi,” tutur Hassanudin. Ia menambahkan, kepemimpinan sejati bukan soal kekuasaan, melainkan kemampuan memahami dan beradaptasi demi kebaikan bersama.

Sementara itu, Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Siti Malkhamah, menekankan bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari diri sendiri.

“Kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, bagaimana kita bisa memimpin diri untuk hidup lebih bahagia,” katanya.

Ia berharap Leadership Day menjadi gerakan berkelanjutan, bukan hanya satu hari perayaan, tetapi “awal dari Leadership Days” yang menginspirasi kolaborasi dan empati demi Indonesia Emas 2045.

Leadership Day 2025 menjadi refleksi bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh karakter pemimpin yang berani, inklusif, dan berorientasi pada perubahan nyata.

“Pemimpin sejati tidak hanya bicara angka, tetapi menepati janji, menciptakan nilai, dan meninggalkan warisan berarti,” pungkas Hassanudin.

Semangat yang diusung dalam forum ini seolah menegaskan bahwa untuk mencapai Indonesia Emas 2045, dibutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan kepentingan, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan kebahagiaan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.