bernasnews – Ziarah Seniman Infonesia sebagai penutup rangkaian kegiatan peringatan 100 tahun kelahiran Saptohoedojo bukan sekadar mengenang seorang maestro seni rupa, tetapi merayakan kehadiran seni sebagai napas bangsa.
“Setiap tanggal 10 November kita memperingati Hari Pahlawan, mengenang keberanian Revolusi Surabaya 1945. Tetapi sejarah bangsa ini tidak hanya ditopang oleh para pejuang bersenjata. Ada barisan seniman yang sejak awal turut menggerakkan kesadaran rakyat, menanamkan semangat kebangsaan, dan menyalakan nyala perlawanan melalui karya-karya simbolik, estetik, dan penuh daya jiwa.
Mereka itulah yang hari ini kita sebut Pahlawan Wirabangsa, para pejuang yang mengabdikan hidupnya di ranah kebudayaan dan kemanusiaan,” kata Yani Saptohoedojo dalam sambutan acara Ziarah Seniman Indonesia di Kompleks Makam Seniman Giri Sapto, Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Minggu (9/10/2025).
Acara ini diselenggarakan oleh 100 Tahun Saptohoedojo, Milenial Berbudaya, dan KOSETA (Koperasi Seniman dan Budayawan Yogyakarta). Pada kesempatan ini, panitia secara simbolis memberikan Piagam Pahlawan Wirabangsa kepada tiga tokoh seniman yang dimakamkan di tempat itu yang diwakili keluarga mereka.
Mereka adalah Saptohoedojo (maestro seni rupa) yang diwakili Yani Saptohoedojo, Kusbini (pencipta lagu “Bagimu Negri”) yang diwakili Titik Kusbini dan Liberty Manik (pencipta lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”) yang diwakili Bambang Haryana. Piagam penghargaan diberikan oleh seniman Taufik Rahzein dan Ketua KOSETA Sigit Sugito.
Hadir antara lain yang mewakili Bupati Bantul, kemudian Panewu, Kapolsek dan Danramil Kapanewon Imogiri, Kartika Affandi, Ny Idham Samawi, para sesepuh, seniman, budayawan, dan aktor pemajuan kebudayaan Indonesia. Memberikan sambutan pula perwakilan Bupati Bantul, serta wakil ahli waris dan shohibul bait Susilo Hapsoro.
CAHAYA KEMANUSIAAN
Pada bagian lain Yani Saptohoedojo mengatakan, “Pagi ini kita berkumpul dalam suasana yang sangat istimewa dan penuh makna. Di tempat yang penuh zikir budaya ini, di halaman para leluhur seni, para teladan kreativitas bangsa. Kita hadir untuk memuliakan para Pahlawan Wirabangsa, mereka yang berjuang bukan dengan senjata, melainkan dengan karya, dengan gagasan, dan dengan cahaya kemanusiaan.
Acara Ziarah Seniman Indonesia hari ini merupakan bagian penutup dari seluruh rangkaian peringatan 100 tahun kelahiran Maestro Seni Rupa Indonesia, Saptohoedojo. Agenda yang telah kita laksanakan mulai dari Peringatan Haul 100 Tahun Saptohoedojo pada 6 Februari lalu, peluncuran buku 100 Tahun Saptohoedojo pada 20 Mei, dan kita pungkasi dengan Acara Ziarah Seniman Indoensia pada hari ini bersamaan dengan momentum Hari Pahlawan.
Dalam tradisi Jawa, kita diajarkan untuk “mikul dhuwur, mendhem jero”: menjunjung tinggi jasa-jasa para pendahulu, dan menyimpan dalam-dalam segala nilai kebijaksanaan yang mereka wariskan. Tradisi ziarah hari ini adalah bentuk nyata dari laku budaya itu—sebuah penghormatan, pengingat, dan peneguhan bahwa karya mereka tetap hidup, tetap mengalir, dan tetap menjadi suluh bagi generasi berikutnya.
Ada dua agenda penting yang kita laksanakan: Pertama, Pemberian Piagam Pahlawan Wirabangsa kepada para seniman, budayawan, dan aktor pemajuan kebudayaan. Ini adalah bentuk penghormatan atas dedikasi mereka yang telah menorehkan jejak penting bagi kebudayaan Indonesia. Kedua, Nyekar bersama, sebuah laku spiritual budaya untuk mengirim doa, mengetuk kesadaran, dan merawat hubungan kita dengan para leluhur seni.
Melalui ziarah ini, kita ingin menegaskan bahwa kebudayaan tidak akan hidup tanpa gotong royong, tanpa kebersamaan, dan tanpa kepedulian untuk menjaga warisan yang telah dititipkan.
Semoga ziarah ini memberi energi baru bagi dunia seni, memberi semangat baru bagi kita semua, dan membuka jalan bagi generasi muda untuk terus berkarya dengan jiwa yang merdeka dan mulia,” kata Yani Saptohoedojo.
Acara Ziarah Seniman Indonesia ini dimeriahkan dengan pembacaan macapat oleh Supriyadi dan tim, pembacaan puisi oleh Oka Swastika Mahendra, Anastasia Purwoputranto, dan Slamet Widodo, serta ditutup dengan dialog budaya. (mar)












