bernasnews – Setiap warga masyarakat tinggal di suatu tempat, di kota atau di desa. Di kota kita mengenal adanya kampung, sedangkan di desa ada dusun atau dukuh. Setiap nama tempat itu pasti menyimpan jejak sejarah, kisah perjuangan, nilai spiritual, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kita juga mengenal apa yang dinamakan toponimi. Yakni studi tentang penamaan tempat yang meliputi asal-usul, makna, bentuk, dan sejarahnya. Aspek utama di sini adalah studi asal-usul dan makna, penamaan figur geografis, serta penanda budaya dan sejarah.
Belum atau tidak semua warga masyarakat mengetahui sejarah tempat tinggalnya. Baik yang warga asli dan apalagi yang pendatang. Mengapa? Karena belum atau tidak adanya catatan atau rekaman sejarah tempat itu. Ini butuh kesadaran atas pentingnya sejarah tempat tinggal dan aksi nyata untuk menggali dan mendokumentasikannya.
Bersyukur dan beruntunglah warga masyarakat Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah kalurahan ini menerbitkan sebuah karya monumental berjudul : Buku Toponimi Dari Gebang ke Gedongan. Tercatat ada 54 dusun atau kampung yang ada di Kalurahan Wedomartani.
Setiap dusun memiliki kisah yang berbeda terkait sejarah dan cikal bakal penamaan sebuah dusun atau kampung tersebut. Mulai dari leluhur, mitos, situs, petilasan hingga vegetasi mewarnai kisah-kisah yang turun temurun diceritakan kembali untuk dapat dinikmati dan dilestarikan.
Buku setebal 388 halaman ini diberi pengantar oleh Ketua DPRD DIY Nuryadi, S.Pd, Paniradya Pati Paniradya Kaistimewaan Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si., Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., Bupati Sleman Harda Kiswaya, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Ishadi Zayid, S.H., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman Dra. Shavitri Nurmala Dewi, M.A., dan Lurah Wedomartani H. Teguh Budiyanto.
Untuk Dusun Gebang menyajikan kisah di balik batu dan akar. Di dusun ini terdapat Candi Gebang, candi Hindu tertua di Yogyakarta. Candi ini dibangun pada masa Mataram Kuno oleh Sri Maharaja Sanjaya abad ke-7 hingga ke-10. Sedangkan Dusun Gedongan menyajikan legenda, leluhur dan warisan Sejarah.
BEDAH BUKU
Berkenaan peringatan hari jadi ke-79 Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaksanakan gelar potensi literasi dengan Launching dan Bedah Buku Toponimi “Dari Gebang Ke Gedongan” di Pendopo Kalurahan Wedomartani, Senin (3/11/2025) pukul 09.00 WIB. Tanggal 9 November 1946 merupakan momentum berdirinya Kalurahan Wedomartani.
Acara gelar potensi literasi ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Drs. Susmiarto, MM., Lurah Wedomartani Teguh Budiyanto, staf Bupati Sleman, dan undangan.
Buku Toponimi “Dari Gebang Ke Gedongan” yang merupakan hasil karya para perangkat kalurahan setempat ini menunjukan bahwa Kalurahan Wedomartani mempunyai literasi yang tinggi. Ini dibuktikan tidak hanya sekadar membaca, berliterasi tetapi sudah sampai pada tataran menulis. Menulis sebuah karya yang sangat luar biasa, di mana di bagian prolog buku terdapat peran Al Marta Pustaka, perpustakaan di Kalurahan Wedomartani.
Dalam sesi bedah buku ini terdapat tiga narasumber yakni Mujiburokhman, S.Ag., M. A. selaku Kamituwa Wedomartani, Agus Suarto S.Sos. perwakilan dari Dinas Kebudayaan DIY, dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Dra. Wiwien Widyawati Rahayu, M.A. Acara ini dimoderatori oleh R. Susilo Widodo, S.Si., M.IP., Duta Perpustakaan DIY. (mar/ Syifa Alisyia dan Molis).












