bernasnews — Pemerintahan Kalurahan Wedomartani launching buku Toponimi 54 Dusun, berlangsung di Pendopo Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Senin 3 November 2025.
Lurah Wedomartani H. Teguh Budiyanto dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada semua tamu undangan dan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan buku Toponimi 54 Dusun di Kelurahan Wedomartani.
“Sehingga bisa di-launching bersamaan dengan Merti Desa dan Peringatan Hari Jadi ke-79 Adeging Kalurahan Wedomartani, yang puncak peringatan tanggal 9 November 2025,” ungkapnya.
“Puncak acara kegiatan Merti Dusun adeging Kalurahan Wedomartani berupa Pementasan Wayang Kulit, yang sebelumnya ada kegiatan Kirab Budaya sebagai upaya syukuran dan melestarikan adat budaya tradisional,” tambah Teguh.
Perlu diketahui bahwa Kalurahan Wedomartani mempunyai 25 Padukuhan dan 58 Dusun, dari dusun-dusun tersebut menyimpan banyak sejarah dibalik nama yang sudah melekat selama ini. Penulisan Toponimi ini menjadi sejarah pembukuan cerita tutur yang ada di Kalurahan Wedomartani.
“Harapannya dengan terbitnya buku tersebut membantu generasi muda atau siapa pun untuk mengetahui dan mempelajari ada nya sejah kampung yang ada di wilayah Kalurahan Wedomartani,” ujar Lurah Wedomartani H. Teguh Budiyanto.
Sementara, dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman Drs. Susmiarto, MM, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyambut baik peluncuran buku Toponimi dari Gebang ke Gedongan, yang merupakan arsip sejarah Kalurahan Wedomartani menjadikan momentum proses literasi rekaman dan dokumentasi sejarah.
Menurut Bupati, penulisan Toponimi Kalurahan Wedomartani dapat menjadi jendela yang menghubungkan literasi warisan leluhur serta mengingatkan keberhasilan pembangunan tidak lepas dari menjaga akar budayanya.
“Penamaan suatu tempat tidak hanya bermaksud menandai dan memberi nama saja. Tetapi sebagai penanda atau momentum peristiwa penting suatu tempat. Nama – nama tersebut merupakan kalimat lokal yang masih perlu dilestarikan sampai saat ini,” ungkapnya.
Banyak wilayah dusun yang menyimpan saksi sehingga dapat menjadi ikon dusun setempat. Di tengah derasnya perubahan zaman Kalurahan Wedomartani tetap konsisten menjaga tradisi budaya, cerita rakyat, simbol simbol alam menjadi penting mengabadikan nama suatu daerah.
“Buku ini menjadi rekaman otentik dengan semangat kearifan lokal yang diwariskan para leluhur dari generasi ke generasi lainnya melalui nama suatu tempat,” tegas Harda Kiswaya.
Dikatakan, bahwa penamaan suatu tempat tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi nama menjadi bagian merawat ingatan dan menjadi pondasi untuk menjadikan landasan pembangunan menjadi lebih baik.
“Bisa dikatakan sejarah itu dinamis, sejarah bisa berubah ketika ditemukan kesaksian dan bukti baru yang lebih otentik dan valid dari sejarah awal,” pungkasnya. (*/ nun)












