News  

Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas 1.700 Meter, Aktivitas Masih di Level Siaga

Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran sejauh 1.700 meter pada Minggu sore. (Ist)

bernasnews – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan. Pada Minggu, 2 November 2025, gunung api aktif yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut kembali meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 1.700 meter ke arah barat daya.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 16.08 WIB dan menjadi kejadian kelima dalam rentang satu hari penuh.

Berdasarkan data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), awan panas terekam dengan amplitudo maksimum 34,7 mm dan durasi 168,62 detik.

Visual gunung terpantau berkabut tebal sehingga puncak dan lereng tidak terlihat jelas. Kondisi tersebut menandakan adanya dinamika pada kubah lava yang masih aktif dan secara berkala mengalami pelepasan material.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyampaikan bahwa aktivitas tersebut masih termasuk dalam kondisi erupsi yang sesuai dengan status Level Siaga (Level III).

Meskipun demikian, masyarakat diminta untuk tetap berdisiplin mengikuti rekomendasi keamanan dan tidak beraktivitas di zona potensi bahaya.

“Gunung Merapi masih berada pada tingkat aktivitas Siaga (Level III). Masyarakat kami imbau untuk tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya, khususnya sektor barat daya dan tenggara yang menjadi arah luncuran awan panas dan aliran lava,” ujar Agus Budi Santosa dikutip dari kabarjawa.com.

Awan panas guguran pada sore hari itu terpantau mengarah ke sektor barat daya, meliputi alur Kali Boyong, Kali Krasak, Kali Bebeng, dan Kali Putih. Pemantauan terus dilakukan melalui pos pengamatan serta kamera jarak jauh yang mencatat perkembangan aktivitas magma dan kubah lava.

Sejak pagi hingga sore hari yang sama, BPPTKG mencatat sebanyak lima kali luncuran awan panas. Jarak luncur material berkisar antara 1.500 sampai 2.500 meter.

Frekuensi kejadian tersebut mengindikasikan bahwa kubah lava sisi barat daya masih mengalami ketidakstabilan karena suplai magma dari kedalaman gunung tetap berlangsung.

Selain bahaya utama dari awan panas dan guguran lava, BPPTKG juga mengingatkan potensi bahaya sekunder berupa lahar hujan. Peningkatan curah hujan di kawasan Merapi dapat membawa material erupsi ke alur sungai yang berhulu di puncak gunung.

“Kami meminta masyarakat untuk tidak beraktivitas di alur sungai yang berhulu di Merapi, terutama saat hujan deras. Material sisa erupsi masih banyak dan berpotensi terbawa arus,” tegas Agus.

Hingga saat ini, status Merapi tetap berada di Level Siaga sejak ditetapkan pada 5 November 2020. Status tersebut menunjukkan bahwa Merapi masih aktif, namun pemantauan dan mitigasi berjalan secara intensif.

Pemerintah daerah juga terus menyosialisasikan kesiapsiagaan bencana kepada warga yang tinggal di lereng gunung.

Agus menegaskan bahwa Merapi adalah gunung berapi aktif dengan siklus aktivitas yang tidak bisa dihentikan, tetapi dapat dimonitor secara ilmiah.

“Yang terpenting adalah masyarakat tetap patuh dan siap menghadapi segala kemungkinan,” ujarnya. (Eln)