“Api Merdeka, Merdeka Apa” Satupena Jawa 2025: Menyalakan Literasi Moral

bernasnews – Buku karya Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Jawa 2025 bertajuk “Api Merdeka, Merdeka Apa” terbit di bulan Oktober 2025. Ketua Umum Satupena Denny JA menyatakan penting buku ini karena menyalakan literasi moral dan nurani, menyatukan suara Jawa sebagai cermin bangsa, serta mengabadikan luka dan harapan bangsa.

Sedangkan Koordinator Satupena Pulau Jawa Dhenok Kristiani mengajak anggota komunitas ini untuk terus bergerak sebagai penulis yang tidak henti menyumbangkan pemikiran-pemikiran bagi bangsa dan negara kita; suatu pemikiran yang konsttuktif yang dilandasi oleh cinta dan pengabdian.

“Api merdeka semoga terus menyala, sehingga pada akhirnya kita tidak perlu lagi bertanya Merdeka apa?” kata dia.

Dalam buku ini, 150 karya para penulis Satupena Jawa diekspresikan dalam bentuk esai, puisi, cerita pendek, dan puisi- esai. Tak kurang dari 19 esai, 100 puisi (ditulis oleh 22 penyair), 19 cerpen, dan 12 puisi esai yang termaktub dalam buku ini, yang diprakarsai oleh Denny JA, Ketua Umum Satupena Indonesia.

Keragaman karya

Pada bagian lain dalam kata pengantarnya, Denny JA mengemukakan, keragaman dalam buku ini dapat direnungkan dari beberapa karya berikut.

Pertama, tulisan karya Nia Samsihono, “Raya, Anak Cacingan dari Sukabumi.” Bentuknya adalah puisi esai, yaitu gabungan narasi puitik dan refleksi sosial dengan catatan kaki sumber berita nyata. Puisi esai ini mengisahkan Raya, balita yang meninggal karena cacingan dan kemiskinan ekstrem di Sukabumi.

Kematian Raya menjadi simbol luka bangsa—betapa pembangunan yang megah sering menutupi tragedi kemanusiaan di desa-desa terlupakan. Nia menggugat kelalaian sosial: orang tua, tetangga, dan negara yang tak hadir!

Kedua, “Dari Pedalaman Kami Menuju Indonesia” karya Bambang Hendarto. Seruan dari desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Ia menulis dengan nada getir dan tulus: “Kami masih menunggu jalan yang tak hanya membawa mobil, tapi juga harapan.” Sebuah potret pedalaman yang menolak dilupakan.

Ketiga, “Pati, Topi Jerami, dan Wajah Negeri” karya Dwi Sutarjantono. Cerpen tentang petani tua yang menatap sawahnya berubah menjadi perumahan. Di balik topi jeraminya, ada nostalgia dan doa panjang agar tanah tak kehilangan makna.

Keempat, “Indonesia dari Serambi Desa” karya Asmariah. Puisi-esai reflektif yang menggambarkan desa sebagai serambi terakhir kemanusiaan—tempat nilai sederhana masih bertahan melawan arus industri dan individualisme.

Menurut Denny, buku megah ini menghimpun karya para penulis Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Wilayah Jawa, diterbitkan Oktober 2025, setebal lebih dari 500 halaman. Dalam satu jilid yang berdenyut seperti nadi Nusantara, terkumpul puluhan karya dalam berbagai bentuk—esai, puisi, cerpen, dan puisi esai. Para penulis berasal dari enam provinsi di Pulau Jawa: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur.

“Antologi ini adalah peta batin Pulau Jawa yang menyuarakan kegelisahan kolektif: tentang kemerdekaan yang belum selesai, tentang kesenjangan yang melebar, dan tentang manusia Indonesia yang terus mencari makna di antara debu modernitas,” kata dia.

 Keegoisan pemimpin

Koordinator Satupena Pulau Jawa Dhenok Kristianti mengawali pengantarnya dengan isu-isu berbangsa dan bernegara yang seringkali menunjukkan keegoisan para pemimpin dan penindasan kepada rakyatnya sendiri.

Ada pertanyaan yang cukup menggigit yang sering kita sembunyikan di “bawah tilam”: Inikah yang disebut negara merdeka? Masih adakah api kemerdekaan itu di dada para pemimpin dan rakyatnya? Pertanyaan itulah yang mendasari judul buku ini: Api Merdeka, Merdeka Apa.

 “Semoga harapan untuk “memerdekakan” bangsa ini benar- benar terwujud, yaitu kemerdekaan sejati, yang tidak mengenal kata penindasan dalam bentuk apa pun dan oleh siapa pun; termasuk dalam bentuk intimidasi-intimidasi oleh para pemimpin yang enggan menjalankan Agni Brata; para pemimpin yang merasa “merdeka” melakukan segala kejahatan demi kepentingannya sendiri, sekalipun rakyat yang termarginalkan menjadi korban.”  kata dia. (mar)