bernasnews – Kelurahan Purwokinanti di Kemantren Pakualaman, Kota Yogyakarta, menjadi salah satu kelurahan yang mencuri perhatian pada tahun 2025.
Wilayah ini resmi ditunjuk mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam Lomba Kelurahan Tingkat Nasional yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa, Kementerian Dalam Negeri.
Penunjukan tersebut menjadi capaian penting karena tidak hanya menunjukkan administrasi yang baik, tetapi juga keberhasilan pembangunan berbasis partisipasi warga.
Di balik pencapaian itu terdapat kolaborasi kuat antara pemerintah kelurahan, kelompok masyarakat, dan dunia usaha.
Dua institusi lokal, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Berlian dan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP), menjadi penggerak utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus penguat ketahanan pangan warga.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan apresiasinya terhadap kinerja Purwokinanti. Ia menilai program yang dijalankan di kelurahan ini memiliki aspek yang lengkap, mulai dari pemberdayaan UMKM, pengelolaan lingkungan, kesehatan, kerja sama CSR, hingga integrasi riset.
“Bersyukur alhamdulillah, Purwokinanti bisa maju ke tingkat nasional mewakili DIY. Programnya sangat komprehensif, mulai dari UMKM, pemberdayaan masyarakat, lingkungan, kerja sama CSR dan dunia usaha, hingga riset dan kesehatan. Semua sudah diuji oleh dewan juri, dan semuanya bisa dijawab dengan baik,” ujar Hasto seperti dikutip dari kabarjawa.com.
Ia menambahkan bahwa Pemkot Yogyakarta sejak lama memberikan dukungan terhadap Purwokinanti. Beberapa bentuk pendampingan antara lain pembinaan pengelolaan sampah, penyediaan sarana pengumpulan sampah seperti galon dan ember, serta penanganan lingkungan di wilayah bantaran sungai.
Melalui dukungan tersebut, warga didorong untuk terlibat aktif dalam membangun kelurahan mandiri dan bersih.
Selain sektor lingkungan, Pemkot juga memberi dorongan pada implementasi Program MBG yang kini mulai berjalan. Hasto menegaskan pentingnya peran Koperasi Kelurahan Merah Putih dalam penyediaan kebutuhan pangan harian.
“Minggu ini sudah mulai mengelola MBG. Koperasi kami dorong untuk mensupport kebutuhan bahan makanan bagi program ini,” tegasnya.
Lurah Purwokinanti, Moch. Ismail, menjelaskan visi besar wilayahnya: menjadikan Purwokinanti sebagai kelurahan tangguh yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Kami ingin mewujudkan kelurahan yang bersih, sehat, tertib, dan berwawasan lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis partisipasi warga,” ucapnya.
Salah satu inovasi penting adalah pendirian Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) sebagai bentuk dukungan terhadap program nasional MBG.
Pelaksanaannya dilakukan bersama Gapoktan Berlian dan Koperasi Merah Putih. Koperasi menjadi gerai sembako warga, sementara Gapoktan menyuplai bahan pangan lokal agar pasokan makanan tetap terjaga.
“Kami sudah menjalin kerja sama dengan KKMP sebagai gerai sembako warga. Untuk tahap awal, kami sudah suplai gas agar program segera berjalan. Selanjutnya, hasil pangan dari masyarakat akan menopang penyediaan bahan makanan,” jelas Ismail.
Gapoktan Berlian yang beranggotakan tiga kelompok tani aktif siap memasok sayuran seperti tomat dan terong serta ikan lele sebagai sumber protein.
“Mereka siap men-support kebutuhan sayur seperti tomat, terong, dan ikan lele sebagai sumber protein,” tuturnya.
Program ini tidak hanya menjamin keberlanjutan pasokan menu bergizi, tetapi juga membangun rantai pangan lokal yang mandiri. Warga dapat menanam, memanen, mengolah, sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari hasil produksi.
Selain ketahanan pangan, Purwokinanti juga mengembangkan beragam program sosial dan teknologi. Pustaka Berlian Digital (Taka Lidi) dibuat untuk memperluas akses literasi digital.
Ada pula Gempur Gasik (Geliat UMKM Purwanggan Minggu Asik) yang menjadi ruang promosi UMKM dan budaya warga. Program Berani (Belajar dan Beraksi di Purwokinanti) digelar untuk membangun karakter anak dan remaja.
“Program-program ini menjadikan Purwokinanti sebagai kelurahan hidup, di mana warga tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga kreatif dan melek teknologi,” demikian narasi resmi kelurahan.
Dalam rencana jangka panjang 2025–2045, Purwokinanti menetapkan pembangunan menuju Kelurahan Urban Tangguh Pangan dan Iklim. Fokus utamanya adalah digitalisasi tata kelola kampung, penguatan UMKM, dan kerja sama dengan universitas serta pelaku usaha.
“Purwokinanti ingin menjadi kelurahan yang bukan hanya tangguh dalam ketahanan pangan, tetapi juga tangguh secara sosial, ekonomi, dan lingkungan,” tegas Ismail.
Keberhasilan melaju ke tingkat nasional disebut sebagai bukti bahwa kelurahan bukan hanya penerima kebijakan, tetapi bisa menjadi pusat inovasi dan kemandirian.
Dengan dukungan Gapoktan Berlian, peran aktif koperasi, dan kepemimpinan yang terbuka, Purwokinanti berdiri sebagai contoh kelurahan berdaya dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Eln)












