bernasnews – Buku bertajuk “Dasa Windu PMI Jogjakarta – Menelusuri 80 Tahun Jejak Perjalanan Palang Merah Indonesia DIY” telah terbit dan memperoleh apresiasi dari berbagai kalangan. Baik dari keluarga besar PMI, maupun para mitra lembaga kemanusiaan itu.
Penerbit Mitra Mekar berkarya (MMB) Yogyakarta yang diwakili Y.B. Margantoro secara simbolis menyerahkan nomor bukti terbit buku dan sertifikat kepada para penulis yang diwakili oleh Ketua Pelaksana PMI Kota Yogyakarta Irjen Pol (Purn) Drs. R.M. Haka Astana Mantika Widya, S.H., Drs. Edy Heri Suasana, MPd., dan Kardi, S.H di kantor PMI Kota Yogyakarta, Kamis (9/10/2025).
Dalam kesempatan ini, Edy Heri Suasana mengisahkan jejak langkah tim penulisan buku. Perjalanan proses penulisan buku itu dirasakan asyik. Begitu pula ketika buku itu sudah terbit, tetap asyik dibaca. Buku ini menjadi referensi yang sangat penting bagi PMI, khususnya PMI DIY.
Edy mengemukakan, Haka Astana Mantika Widya selaku Ketua Pelaksana Tugas (Caretaker) Pengurus PMI Kota Yogyakarta sejak tanggal 18 Januari 2023 (bersama enam Pengurus PMI DIY lainnya dan tiga staf PMI DIY) diamanati oleh Ketua PMI DIY GBPH. H. Prabukusumo, S.Psi. melaksanakan berbagai pembenahan di PMI Kota Yogyakarta. Pembenahan tersebut meliputi pembenahan dan penataan Sumber Daya Manusia dan aset, pembenahan kelembagaan dan manajerial, serta pembenahan keuangan.
Haka Astana berinisiasi untuk menelusuri jejak keberadaan PMI Kota Yogyakarta pada tahun 2024. PMI Kota Yogyakarta (ketika itu) dipahami sebagai PMI daerah yang tertua di Indonesia (saat itu, ditengarai dan dipahami bahwa PMI Kota Yogyakarta didirikan pada tanggal 29 September 1945) dan memasuki usia ke-79. Untuk itu, Haka Astana mengarahkan Tim Penyusunan Buku untuk merekam jejak perjalanan PMI Kota Yogyakarta dan menuliskannya ke dalam buku yang berjudul : “79 Tahun PMI Kota Yogyakarta”.
Untuk itu, Haka Astana membentuk Tim Penulisan Buku “79 Tahun PMI Kota Yogyakarta” yang diketuai oleh Drs. Edy Heri Suasana, M.Pd., bersama beberapa pengurus lain, didampingi oleh konsultan Y.B. Margantoro, wartawan senior di Yogyakarta serta dibantu oleh beberapa staf dan relawan. Buku tersebut meskipun bukan buku sejarah, tetapi akan ditulis dengan menggunakan pendekatan kesejarahan.
Sejak terbentuknya Tim Penulisan Buku tersebut dilakukan beberapa persiapan, termasuk beberapa kali diselenggarakan rapat-rapat dan koordinasi. Kemudiaan menyelenggarakan pelatihan jurnalistik kepada relawan dan lomba penulisan esai; Membuka lembaran-lembaran buku lama dan foto-foto PMI; Kunjungan ke Museum Benteng Vredeburg; Berpikir fisioner: Buku 80 Tahun Jejak Perjalanan PMI Jogjakarta.
Berdasarkan data yang diperoleh saat mengadakan kunjungan ke Museum Benteng Vredeburg, Tim Penulisan Buku berkoordinasi, membahas dan menganalisis dokumen-dokumen nasional yang dimiliki serta dokumen-dokumen yang diketemukan. Haka Astana dan Tim Penulisan Buku menyusun hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya, di antaranya adalah:
Pertama, mencermati dokumen nasional yang berupa Amanat 5 September 1945 yang dikeluarkan oleh Seri Padoeka Soeltan Hamengkoe Boewono IX selaku Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Seri Padoeka Pakoealam VIII selaku Adipati Kadipaten Pakualaman.
Kedua, mencermati Makloemat Nomor 6 Tahun 1945 tentang Kesehatan, Keselamatan, Tentara Keamanan Rakyat, yang salah satu isi di dalamnya adalah memuat perintah kepada Palang Merah Indonesia untuk mendukung perjuangan TKR.
Ketiga, mencermati wilayah kerja, kegiatan, dan pengabdian Palang Merah Indonesia Tjabang Jogjakarta yang meliputi seluruh wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan seluruh wilayah Kadipaten Pakualaman.
Keempat, mencermati dampak dan ekses terbitnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Kota-Kota Besar di Djawa Timur, Djawa Tengah, Djawa Barat, dan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kelima, mencermati tugas dan peran PMI Jogjakarta semasa perjuangan, yang dibuktikan dengan foto-foto berbagai kegiatan di Panjatan Kulonprogo, Gunungkidul, Boro, Pleret Bantul, dan sebagainya.
Keenam, menyesuaikan tata kala angka tahun buku yang akan diterbitkan, yang semula direncanakan ditulis dengan angka Tahun 2024 dan berarti identik dengan usia 79 Tahun PMI Jogjakarta, penulisannya mundur dengan angka Tahun 2025 yang berarti usia PMI Jogjakarta adalah 80 tahun.
Dari pencermatan dan diskusi-diskusi terhadap dokumen-dokumen yang diketemukan dan dimiliki, maka dirumuskan suatu hipotesis bahwa: PMI Tjabang Yogyakarta sejatinya adalah PMI yang wilayah kerja, tugas, dan perannya setara dan seluas dengan tugas dan peran PMI Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini, bukan (tidak identik dengan) PMI Kota Yogyakarta.
Pembuktian atas hipotesis tersebut didukung dengan bukti-bukti primer, prasasti-prasasti, monumen-monumen, dan pembahasan di dalam buku, tanpa harus menyebutkan rumusan pembuktian hasil penulisan buku. Selanjutnya, Tim Penulisan Buku menyusun langkah-langkah lanjutan, yakni:
1). Mencari Jejak Makloemat Nomor 6 Tahun 1945 ke DPAD DIY; 2). Mencari jejak dokumen yang tersimpan/tertinggal ke DPAD Kota Yogyakarta; 3). Konsultasi ke akademisi bidang Sejarah, Bahauddin, M.Hum, dosen FIB UGM; 4). Melacak dokumen lama pemberitaan tentang PMI ke surat kabar harian yang terbit di masa awal kemerdekaan, seperti KR; 5). Mencari jejak Makloemat Nomor 6 Tahun 1945 ke Kantor Arsip Puro Pakualaman; 6). Mengulik jejak perjuangan PMI awal kemerdekaan ke Monumen Janur Kuning Segoroyoso dan Klinik Daroerat Palang Merah Indonesia di Galjo-Bawuran, Pleret, Bantul, DIY.
Kemudian 7). Konsultasi dan diskusi dengan narasumber Indra Yogasara (Kepala Biro Kesekretariatan Badan Diklat PMI Pusat) baik secara daring maupun luring; 8). Melacak jejak buku tentang PMI ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Tengah; 9). Mencermati keberadaan makam Pahlawan PMI ke TMP Kusuma Negara Yogyakarta; 10). Rapat koordinasi Tim Penulisan Buku dan perluasannya/penambahannya (dilanjutkan dengan rakor rutin Kamisan dan kerja penulisan); 11). Menelusuri jejak perjuangan Adi Soetjipto yang gugur dalam tugas membawa obat-obatan dari Palang Merah Malaya ke Indonesia, karena ditembaki oleh pesawat Belanda.
Selanjutnya 12). Menyelenggarakan rapat pleno yang diperluas dalam bentuk Diskusi Panel di PMI Kota Yogyakarta; 13). Menyelenggarakan finalisasi dan konsinyering penulisan buku; 14). Setelah berkoordinasi dan menyelenggarakan rapat-rapat, memutuskan bahwa Tim Penulisan Buku perlu berpikir fisioner dengan menyesuaikan judul buku dan angka tahun, yang semula direncanakan ditulis tahun 2024 (yang berarti identik dengan usia 79 tahun), penulisannya diubah menjadi Tahun 2025 (yang berarti PMI Jogjakarta berusia 80 tahun), kemudian dilakukan perubahan judul buku menjadi : “Dasa Windu PMI Jogjakarta – Menelusuri 80 Tahun Jejak Perjalanan PMI Daerah Istimewa Yogyakarta”.
MONUMEN JANUR KUNING
Tentang kegiatan mengulik jejak perjuangan PMI awal kemerdekaan ke Monumen Janur Kuning Segoroyoso dan Klinik Daroerat Palang Merah Indonesia di Galjo- Bawuran, Pleret, Bantul, DIY, Tim Penulisan Buku diterima dengan baik oleh keluarga yang sebagian area rumahnya dimanfaatkan untuk monumen.
“Dalam rangka membuktikan peran PMI di masa perjuangan, Tim Penulisan Buku di bawah fasilitasi Pak Haka Astana berkunjung ke Monumen Segoroyoso yang merupakan Monumen Janur Kuning. Monumen Segoroyoso yang dulu berupa bangunan markas Werkreis III di bawah pimpinan Soeharto, pada tahun 2006 roboh karena terjadinya gempa Bantul, sehingga tersisa sebagian bangunan yang tidak roboh dan dibangunnya kembali sebagian bangunan yang lain.
Dari kegiatan itu sekaligus berkunjung ke rumah bekas kediaman Lurah Segoroyoso, yang saat buku ini ditulis ditempati oleh cucunya, Irjen Pol (Purn) Drs. Bimo Anggoroseno, M.H dan keluarganya. Dari kediaman Bapak Bimo Anggoroseno, Tim Penulisan Buku lanjut berkunjung ke bekas klinik darurat PMI, di dusun Galjo (Tegalrejo) Bawuran, Pleret, yang berjarak sekitar 800 meter dari Monumen Segoroyoo,” kata Edy. (mar/Edy Heri Suasana, Tim Penulisan Buku “Dasa Windu PMI Jogjakarta”).












