News  

Anak-anak hingga Lansia Gendhis Luwes Pentaskan “Rara Jonggrang”

bernasnews – Bandung Bandawasa tidak mau mundur sejengkalpun untuk memperistri Rara Jonggrang meskipun ditolak beberapa kali. Ayahanda Bandung Bandawasa yang juga seorang raja tidak mengijinkan puteranya untuk memperistri Rara Jonggrang yang merupakan putri dari kerajaan lawan.

Namun Bandung Bandawasa tidak mempedulikan larangan ayahandanya, yang membuatnya murka, sehingga ia dikutuk menjadi seekor anjing. Pada malam hari ia akan berubah menjadi Bandung Bandawasa, tetapi saat fajar mulai menyingsing dia akan berubah kembali menjadi seekor anjing. Dia akan kembali menjadi manusia lagi bila ada seorang perempuan yang bersedia dengan tulus menjadi istrinya.

Cerita bertajuk “Rara Jonggrang” tersebut dipentaskan dalam gelar teater oleh Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes yang bermarkas di kampung Mangunnegaran, Kemantren Kraton Yogyakarta di Amphytheater Purawisata, Yogyakarta, Kamis (23/10/2025) pukul 19.30 – 21.30 WIB. Sebuah tontonan menarik kolaborasi pemain anak-anak, remaja, dewasa dan lanjut usia.

Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes yang awalnya didirikan oleh ibu-ibu kelompok Dasa Wisma setempat yang menyukai seni tari dan line dance pada tanggal 23 September 2022 ini menjadi berkembang tatkala diikuti oleh anak-anak balita sampai remaja karena adanya kampung menari yang memberi kesempatan mereka untuk tampil di banyak acara di Kelurahan, Kecamatan, dan Kota Yogyakarta.

“Akhirnya mereka juga belajar membaca puisi, geguritan, bahkan mocopat, untuk kemudian berkeinginan lebih untuk dapat tampil dalam pentas teater,” kata sutradara lakon ini, Anastasia kepada bernasnews.

MENENUN KAIN
Dalam pentas itu dikisahkan, Rara Jonggrang melarikan diri saat kerajaan ayahandanya dikalahkan oleh kerajaan Bandung Bandawasa. Dia menolak diperistri Bandung Bandawasa, karena ayahandanya tewas dalam peperangan itu yang membuatnya semakin membenci Bandung Bandawasa.

Rara Jonggrang kemudian menumpang di rumah seorang janda yang menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Setiap hari gadis itu membantu ibu angkatnya menenun kain. Suatu hari saat dia menenun tiba-tiba alat pemintalnya jatuh, ia hanya sendirian di rumah, sehingga tidak dapat mengambil alat itu karena kedua tangannya harus memegang benang alat lainnya. Bila ia lepaskan satu tangannya, kain tenun itu akan lepas semua dan harus mengulang lagi dari awal.

Maka ia berujar siapapun yang dapat mengambilkan alat itu kalau perempuan akan dijadikan saudara, tetapi kalau laki-laki berarti adalah jodohnya. Anjing jelmaan Bandung Bandawasa setiap pagi hingga sore menjelang selalu berkeliaran kebetulan lewat di tempat itu. Dia gigit alat tenun itu dan diserahkan kepada Rara Jonggrang.
Rara Jonggrang menepati janjinya, ia baru sadar kalau anjing itu adalah jelmaan dari Bandung Bandawasa, benarkah bahwa semua itu karena takdir?

Pentas teater malam itu berlangsung dengan lancar dan menarik. Penonton menyaksikan dengan seksama hingga acara usai. (mar)