bernasnews — Malam di Taman Budaya Gunungkidul terasa istimewa pada Selasa, 21 Oktober 2025. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) menggelar Anugerah Kebudayaan Bupati Gunungkidul Tahun 2025.
Sebuah acara penghormatan bagi para seniman dan budayawan yang telah berkontribusi menjaga identitas budaya daerah. Ratusan tamu hadir mengenakan busana tradisional Jawa, menciptakan suasana hangat dan penuh kebanggaan.
Para penerima penghargaan malam itu bukan sekadar pelaku seni, tetapi penjaga nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri masyarakat Bumi Handayani.
Dalam sambutannya, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan bahwa penghargaan tersebut adalah bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian para seniman yang telah menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi yang kian deras.
“Malam ini adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang dedikasi. Malam ini kita memberi penghargaan kepada para seniman dan budayawan yang dengan ketekunan, kecintaan, dan totalitasnya telah mengukir kontribusi nyata dalam pembangunan daerah kita tercinta,” ujar Bupati Endah seperti diberitakan kabarjawa.com.
Ia menambahkan, para penerima penghargaan merupakan sosok yang layak mendapatkan apresiasi tertinggi karena kiprahnya dalam pelestarian budaya tradisional.
Salah satu di antaranya adalah Sri Hartini, pelestari alat musik Rinding Gumbeng, yang selama ini aktif tampil di berbagai panggung seni namun belum pernah memperoleh apresiasi resmi dari pemerintah daerah.
“Ini juga masih dalam rangka memperingati Hari Jadi Gunungkidul ke-195. Tadi kita lihat bersama, para seniman yang menerima Anugerah Kebudayaan Bupati Gunungkidul memang benar-benar pantas. Kini saatnya mereka mendapat penghormatan yang layak,” tambahnya.
Apresiasi yang Jadi Titik Awal
Dalam penutupannya, Bupati Endah menyampaikan pesan yang sarat makna. Ia menilai bahwa penghargaan ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal bagi kebangkitan seni dan budaya di Gunungkidul.
“Budaya adalah jiwa bangsa, dan di tangan para seniman inilah jati diri Gunungkidul akan terus hidup,” pungkasnya.
Anugerah Kebudayaan 2025 ini tidak hanya menjadi simbol penghargaan, tetapi juga penegasan komitmen Pemkab Gunungkidul dalam menjaga dan merawat kebudayaan sebagai sumber kekuatan daerah serta kebanggaan masyarakatnya.
Dorong Regenerasi Seniman Muda
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Gunungkidul, Agus Mantara, menjelaskan bahwa tahun ini penghargaan diberikan kepada sepuluh penerima yang terbagi dalam dua kategori, yaitu enam orang kategori dewasa dan empat orang kategori anak-anak.
“Untuk kategori dewasa terdiri dari lima pelestari seni dan satu pelestari adat tradisi. Sementara untuk kategori anak-anak, ada tiga penerima di bidang pedalangan dan satu di bidang tari,” jelas Agus.
Setiap penerima penghargaan kategori dewasa memperoleh Rp10 juta dan logam mulia, sedangkan kategori anak-anak menerima Rp4 juta dan logam mulia.
Dana tersebut bersumber dari Dana Keistimewaan (Danais) yang menjadi wujud dukungan nyata Pemda DIY dalam keberlanjutan kebudayaan lokal.
“Kami tidak hanya memberikan penghargaan, tapi juga dorongan moral agar para seniman muda terus tumbuh. Regenerasi budaya harus dimulai sejak dini, dan inilah salah satu upaya kami,” tutur Agus.
Malam yang Penuh Haru dan Kebanggaan
Malam penganugerahan berlangsung megah sekaligus haru. Beberapa penerima tampak menitikkan air mata bahagia saat nama mereka dipanggil ke panggung.
Sorak tepuk tangan dari keluarga, sahabat, dan sesama seniman menggema di seluruh ruangan, menandai pengakuan atas perjuangan panjang mereka dalam menjaga budaya daerah.
Acara turut dihadiri oleh Dewan Kebudayaan, para Kepala OPD, Panewu, serta keluarga penerima penghargaan. Suasana semakin khidmat dengan alunan gamelan dan tembang Jawa yang mengiringi prosesi penganugerahan.
Dengan kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap seni dan budaya lokal tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui sinergi dan penghargaan, semangat pelestarian budaya diyakini akan tetap hidup di hati masyarakat Gunungkidul. (Eln)












