News  

PHRI DIY Minta Evaluasi Keamanan Usaha usai Bocah Kehilangan Nyawa Tertimpa Kentongan di Rumah Makan Kulon Progo

bernasnews — Peristiwa tragis menimpa seorang bocah perempuan berusia enam tahun di Rumah Makan Kopi Ingkar Janji, Kabupaten Kulon Progo, Minggu, 19 Oktober 2025.

Korban meninggal dunia setelah tertimpa kentongan kayu raksasa yang menjadi bagian dari dekorasi di area tempat makan tersebut.

Insiden ini menimbulkan keprihatinan publik sekaligus memantik sorotan terhadap aspek keselamatan di lokasi wisata dan kuliner.

Ketua BPD PHRI DIY, Dedy Pranowo Eryono, menyampaikan duka atas kejadian yang menimpa keluarga korban. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, baik pengunjung maupun pelaku usaha.

“Kejadian ini adalah musibah. Ada orang tua yang juga menjaga anaknya saat itu. Tapi ini menjadi pelajaran bagi kita semua, baik keluarga maupun pengusaha, agar lebih memperhatikan keamanan bangunan, ornamen, dan seluruh pernik-pernik usaha. Keluarga juga harus lebih waspada dalam mengawasi anak-anak,” tegasnya, Senin, 20 Oktober 2025 seperti diberitakan tugujogja.id.

Dedy menambahkan, pelaku usaha yang tergabung dalam PHRI seharusnya telah memenuhi standar operasional termasuk sertifikasi usaha dari lembaga resmi. Sertifikasi itu mencakup aspek keselamatan, kenyamanan, dan tata kelola usaha.

“Kalau anggota PHRI pasti sudah ikut yang namanya sertifikasi usaha, yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi usaha. Lembaga itu memberi masukan dan pengawasan soal keselamatan dan kenyamanan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa ornamen dan dekorasi di tempat usaha tidak boleh hanya dipandang sebagai elemen estetika, melainkan perlu diperhitungkan risiko keselamatannya.

PHRI juga rutin mengawasi anggotanya melalui Badan Pimpinan Cabang di empat kabupaten, sementara Kota Yogyakarta langsung berada di bawah BPD.

Dari pihak lokal, Ketua PHRI Kulon Progo, Harun Khoirullah, mengonfirmasi bahwa rumah makan tempat kejadian bukan bagian dari keanggotaan PHRI.

“Belum, Komandan. Rumah makan itu belum bergabung sebagai anggota PHRI,” ujar Harun.

Meskipun bukan anggota, PHRI tetap mengimbau agar seluruh pelaku usaha kuliner dan wisata memperhatikan keselamatan pengunjung, terutama anak-anak. Dedy menyebut tragedi ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap fasilitas publik.

“Kami hanya bisa menghimbau kepada anggota PHRI DIY agar masalah safety untuk tamu lebih diperhatikan. Begitu pula keluarga, agar selalu menjaga anak-anaknya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya dibebankan pada keluarga pengunjung.

Upaya pencegahan insiden serupa memerlukan kesadaran pelaku usaha untuk memeriksa ulang struktur bangunan, ornamen kayu, patung, hingga setiap properti besar yang berpotensi membahayakan.

Perkembangan sektor kuliner dan wisata di Yogyakarta beberapa tahun terakhir dinilai meningkat pesat, menghadirkan banyak tempat makan dengan konsep tematik dan dekorasi unik.

Namun, peningkatan kreativitas ini tidak selalu diimbangi dengan perhatian terhadap standar keselamatan non-teknis.

Tragedi di Kulon Progo menjadi pengingat bahwa keselamatan pengunjung harus ditempatkan di atas kepentingan estetika.

PHRI berharap setiap usaha wisata di DIY melakukan audit internal, memperkuat sistem keamanan, dan memastikan seluruh elemen dekoratif terpasang dengan aman.

Dedy menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh pihak mengutamakan kewaspadaan.

“Keselamatan anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, tapi juga pengusaha yang menyediakan tempat umum. Semoga ini menjadi pelajaran berharga agar setiap tempat makan di DIY lebih peduli terhadap keamanan tamunya,” tutupnya. (Eln)