News  

DIY Dihantam Cuaca Ekstrem, Sleman Alami Kerusakan Paling Parah, Beberapa Warga Luka Tertimpa Reruntuhan

Ilustrasi | Cuaca ekstrem. (Freepik)

bernasnews  – Cuaca ekstrem kembali melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu, 15 Oktober 2025 siang. Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi sekitar pukul 13.00 WIB menyebabkan kerusakan di puluhan titik dan membuat sejumlah warga harus dilarikan ke rumah sakit.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Noviar Ahmad, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh kondisi suhu muka laut yang cukup hangat di sekitar Laut Jawa dan Samudra Hindia Selatan Jawa, berkisar antara 26–28°C.

Menurutnya, anomali suhu 0,5–1,0°C memperkuat suplai uap air ke atmosfer sehingga memicu terbentuknya awan hujan berintensitas tinggi.

“Pola konvergensi dan belokan angin dari arah timur turut meningkatkan potensi terbentuknya awan hujan tebal di wilayah DIY,” ungkap Noviar Ahmad seperti diberitakan tugujogja.id.

Ia menambahkan, kelembapan udara di lapisan 1,5–3 kilometer di atas permukaan laut mencapai 70–90 persen, kondisi yang sangat mendukung hujan deras disertai angin kencang.

BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta juga mencatat bahwa peringatan dini cuaca ekstrem sudah dikeluarkan sejak pukul 13.15 WIB, lalu diperbarui pada 14.40 WIB dan kembali diperkuat pukul 16.30 WIB.

Hujan baru mereda sekitar pukul 19.00 WIB setelah menyebabkan kerusakan di berbagai wilayah.

Sleman Jadi Wilayah Paling Parah Terdampak

Kabupaten Sleman menjadi daerah dengan dampak terluas akibat cuaca ekstrem ini. BPBD DIY melaporkan setidaknya 13 lokasi di tiga kapanewon — Mlati, Sleman, dan Gamping — mengalami kerusakan cukup berat.

Tercatat 22 pohon tumbang, satu joglo kost roboh, serta tiga tempat usaha mengalami kerusakan parah, yaitu Minizoo, Asram Edupark, dan Mbok Berek. Selain itu, empat ruas jalan utama sempat tertutup, dua jaringan listrik terputus, dan satu jalur komunikasi terganggu.

Sebanyak delapan warga mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan dan telah dirujuk ke Rumah Sakit Akademik UGM (RSA UGM) untuk mendapatkan perawatan.

Gunungkidul Dilanda Rumah Rusak dan Pemadaman Listrik

Cuaca ekstrem juga berdampak di wilayah Gunungkidul, terutama di kapanewon Nglipar, Semin, dan Ngawen. Laporan sementara menunjukkan 6 pohon tumbang, 6 rumah rusak ringan, serta 1 tempat usaha ikut terdampak.

Kerusakan jaringan listrik di tiga titik menyebabkan pemadaman sementara di beberapa dusun. Bahkan, akses jalan utama di salah satu titik Ngawen sempat terputus akibat pohon besar yang melintang di jalan sebelum akhirnya dievakuasi oleh tim gabungan.

Pohon Tumbang dan Korban Luka di Kota Yogyakarta

Di Kota Yogyakarta, cuaca ekstrem melanda beberapa titik, terutama di Umbulharjo dan Tegalrejo. BPBD mencatat dua pohon tumbang, satu kanopi roboh, serta satu korban luka sedang akibat tertimpa ranting besar.

“Satu orang mengalami luka di bahu dan kepala, sudah mendapat penanganan di rumah sakit terdekat,” ujar Noviar. Selain itu, satu akses jalan utama terganggu dan jaringan listrik di kawasan padat penduduk sempat padam beberapa jam.

Kulon Progo dan Bantul Tercatat Aman

Sementara itu, wilayah Kulon Progo dan Bantul relatif aman tanpa kerusakan berarti. Meski demikian, petugas tetap disiagakan mengingat potensi cuaca ekstrem diprediksi masih tinggi hingga beberapa hari ke depan.

Tim BPBD DIY bersama TRC kabupaten/kota, relawan, dan warga langsung bergerak melakukan pembersihan material, pemotongan pohon, serta perbaikan darurat.

Petugas juga berkoordinasi dengan PLN, Dinas PU, dan kepolisian untuk mempercepat pemulihan akses jalan dan jaringan listrik.

Noviar menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor berjalan cepat berkat dukungan dari PSC 119, Pusdalops BPBD, BMKG, serta jaringan relawan di seluruh wilayah.

Ia juga menekankan agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan deras disertai angin hingga 18 Oktober mendatang.

Warga Diimbau Waspada dan Tidak Berteduh di Bawah Pohon

BPBD DIY mengingatkan masyarakat untuk tidak berteduh di bawah pohon besar, papan reklame, atau bangunan semi permanen saat hujan deras disertai angin.

Warga juga disarankan memastikan saluran air lancar serta memperkuat atap rumah untuk mengantisipasi kerusakan lebih lanjut.

“Fenomena ini masih bisa berulang karena kondisi atmosfer masih labil. Kami minta semua pihak tetap waspada, terutama pada siang hingga malam hari,” tutup Noviar Ahmad.

Peringatan Lanjutan dari BMKG

BMKG memperkirakan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang masih akan berlangsung hingga 18 Oktober 2025. Daerah yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi Sleman bagian barat, Gunungkidul utara, dan Kota Yogyakarta.

BPBD DIY menegaskan akan terus memperbarui informasi melalui kanal resmi dan mengaktifkan pusat komando siaga darurat selama masa potensi cuaca ekstrem ini berlangsung. (Eln)