Jelang Sumpah Pemuda, 45 Koperasi Merah Putih Kota Yogyakarta Bersiap jadi Penggerak Ekonomi Lokal

Pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih/Foto: Pemkot Yogyakarta

bernasnews— Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan lewat pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di seluruh wilayah kota.

Hingga kini, sebanyak 45 koperasi Merah Putih telah resmi terbentuk dan akan mulai beroperasi penuh pada 28 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kebangkitan ekonomi lokal berbasis warga. Setiap koperasi akan menjadi wadah untuk menggali potensi ekonomi kelurahan sekaligus menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Fokus pada Kesiapan SDM dan Visi Bisnis

Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menegaskan bahwa peluncuran KKMP bukan proyek instan. Ia memastikan seluruh elemen koperasi benar-benar siap sebelum beroperasi.

“Karena itu, kami benar-benar mempersiapkan diri, baik dari sisi SDM, visi, maupun rencana bisnis yang akan dijalankan,” ujarnya, mengutip dari kabarjawa.com.

Tri Karyadi menekankan, keberhasilan koperasi tidak bisa tercapai hanya karena dorongan waktu atau anggaran. Ia menolak jika peluncuran berlangsung hanya demi formalitas.

“Kalau belum siap, ya disiapkan dulu. Harus ada mitigasi, visi, dan arah bisnis yang jelas. Target berikutnya adalah mendorong masyarakat di seluruh wilayah untuk menjadi anggota koperasi agar gerakan ekonomi kerakyatan ini benar-benar tumbuh dari bawah,” jelasnya.

Menurut Tri, setiap koperasi wajib memahami regulasi serta memiliki business plan yang konkret. Pendampingan dari Dinas Koperasi bertujuan agar pengurus mampu menjalankan unit usaha sesuai potensi lokal.

“Sebelum bergerak, koperasi harus tahu business plan-nya, mau dibawa ke arah mana. Ada enam bidang utama yang wajib dijalankan, yaitu koperasi itu sendiri, apotek Merah Putih, klinik Merah Putih, unit simpan pinjam, food storage atau gudang penyimpanan, serta unit sembako,” paparnya.

Meski begitu, pemerintah memberi ruang adaptasi. Ia menegaskan, lini usaha tidak harus seragam karena setiap kelurahan memiliki karakter dan kekuatan ekonomi yang berbeda.

Sinergi Koperasi Merah Putih Kota Yogyakarta

Selain memperkuat SDM dan kelembagaan, Pemkot juga membangun jejaring kemitraan dengan berbagai lembaga strategis. Kolaborasi ini akan menjadi tulang punggung KKMP agar mampu tumbuh secara berkelanjutan.

“KKMP mungkin akan sulit jika berjalan sendiri. Karena itu kami gandeng mitra-mitra strategis, seperti Pegadaian, BNI, Bulog, dan beberapa BUMD milik Pemkot yang siap berkolaborasi,” ujar Tri.

Melalui kemitraan tersebut, rantai ekonomi dari produksi hingga distribusi akan lebih terintegrasi, menjadikan koperasi sebagai pusat kegiatan ekonomi riil di tingkat kelurahan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyebut KKMP bukan hanya lembaga ekonomi, tetapi juga wadah penggerak potensi masyarakat. Menurutnya, ekonomi lokal akan berkembang pesat jika masyarakat mampu memanfaatkan sumber daya di lingkungannya sendiri.

“Kita berharap Koperasi Merah Putih bisa mengeksplor potensi masyarakat di tiap kelurahan. Tidak perlu berpikir terlalu jauh, cukup melihat potensi yang ada di sekitar, lalu dikembangkan bersama. Dengan begitu, ekonomi bisa berputar di lingkungan masyarakat sendiri,” katanya.

Wawan meyakini, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat akan menjadi kunci sukses KKMP dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat dan berdaya saing.

Hingga awal Oktober 2025, progres pembentukan KKMP berjalan positif. Setiap koperasi mulai mengembangkan unit usaha sesuai potensi lokal, dari pengolahan limbah industri, penyediaan bahan pangan, hingga layanan berbasis komunitas.

Namun, Wawan mengakui tantangan terbesar bukan di sisi teknis, melainkan pada peningkatan kapasitas SDM dan penguatan kelembagaan.

“Tantangan utamanya bukan pada teknis, tetapi bagaimana meningkatkan SDM pengurus dan anggota agar memahami potensi serta mampu menjalankan tugas secara profesional. Karena itu, pendampingan dari dinas akan terus dilakukan secara intensif,” tegasnya.

Ia menambahkan, sebelum membuka keanggotaan secara luas, pemerintah lebih dulu memantapkan kelembagaan dan memperjelas fungsi pengurus agar koperasi tidak kehilangan arah.

“Anggota juga harus paham arah dan tujuan koperasi ini akan dibawa ke mana. Jadi fokus kita sekarang adalah pemantapan kelembagaan dan peningkatan SDM agar saat operasional dimulai, semuanya sudah siap dan berjalan baik,” pungkas Wawan.***(Eln)