bernasnews – Gunung Merapi kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Rabu pagi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas guguran sejauh 2.500 meter meluncur ke arah hulu Kali Boyong. Peristiwa ini berlangsung pukul 05.29 WIB dengan amplitudo maksimum 59 mm dan durasi 225 detik.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyatakan kejadian tersebut masih sesuai dengan karakter aktivitas Merapi saat ini. Meski dalam dua hari berturut-turut terjadi awan panas guguran, status gunung tetap berada di Level III atau Siaga.
“Kami meminta masyarakat tetap mematuhi rekomendasi dan tidak melakukan aktivitas apapun di wilayah potensi bahaya,” ujar Agus Budi seperti diberitakan kabarjawa.com.
Aktivitas Lava Pijar dan Kegempaan
Laporan pemantauan 1 Oktober 2025 mencatat 14 kali guguran lava pijar mengarah ke barat daya melalui Kali Sat/Putih dan Kali Krasak, dengan jarak maksimum 1.800 meter.
Dari sisi kegempaan, aktivitas vulkanik Merapi masih intens. BPPTKG merekam 98 kali guguran dengan amplitudo 2–22 mm dan durasi 32–187 detik, serta 97 kali gempa hybrid dengan amplitudo 2–24 mm. Selain itu, tercatat tiga kali gempa vulkanik dangkal dan dua kali gempa tektonik jauh.
Data ini menunjukkan suplai magma ke tubuh gunung masih berlangsung, sehingga potensi awan panas guguran lanjutan tetap terbuka.
Kondisi Cuaca dan Pengamatan Visual
Laporan meteorologi mencatat kondisi cuaca di sekitar puncak Merapi bervariasi dari cerah, berawan, hingga mendung. Suhu udara terpantau 18,7–23 °C dengan kelembaban 75–99 persen. Tekanan udara berada pada kisaran 872,4–916,4 mmHg, sementara curah hujan harian mencapai 5 mm.
“Secara visual, gunung tampak jelas meski sesekali tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati selama periode pengamatan,” ungkap BPPTKG.
Peringatan Bahaya dan Imbauan Warga
BPPTKG menekankan bahwa potensi bahaya Merapi masih berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya. Wilayah rawan meliputi Sungai Boyong sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km.
Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak.
Agus Budi juga mengingatkan ancaman sekunder berupa lahar dingin ketika hujan deras mengguyur lereng gunung, serta dampak gangguan abu vulkanik.
“Jika aktivitas signifikan terjadi, kami akan segera meninjau ulang status aktivitas Merapi,” tegasnya.
Status Siaga Sejak 2020
Gunung Merapi telah berada di status Siaga (Level III) sejak 5 November 2020. Hingga kini, status tersebut belum berubah, menandakan aktivitas vulkanik masih cukup tinggi dan harus terus diwaspadai.
BPPTKG membuka akses informasi resmi mengenai perkembangan Merapi melalui kanal digital, termasuk Instagram @badan.geologi dan WhatsApp Channel Badan Geologi di tautan bit.ly/BadanGeologiWAChannel.
Masyarakat diimbau tetap tenang, mengikuti arahan resmi, dan tidak mudah terpengaruh kabar yang tidak jelas. Disiplin terhadap rekomendasi dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga keselamatan bersama di sekitar Merapi. (Eln)












