bernasnews – Suasana pagi di Padukuhan Sumbermulyo, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, mendadak mencekam pada Rabu, 17 September 2025.
Seorang pria lanjut usia berinisial Pw (77) ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di pohon rambutan yang tumbuh di halaman selatan rumahnya.
Polisi menduga tindakan nekat itu dilatarbelakangi depresi akibat penyakit kulit menahun yang tak kunjung sembuh.
Diberitakan kabarjawa.com, Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh istrinya, Sutini (68). Sekitar pukul 03.00 WIB, Sutini terbangun dan menyadari sang suami tidak ada di kamar.
Ia sempat mengira Pw hanya ke dapur atau halaman, namun pencariannya di dalam rumah tidak membuahkan hasil.
Kegelisahan pun menyergap, memaksanya keluar rumah untuk mencari keberadaan suaminya di pekarangan dan jalan kecil sekitar rumah.
Hampir satu jam lamanya Sutini berkeliling dalam gelapnya dini hari. Sekitar pukul 04.16 WIB, pencarian itu berakhir tragis.
Ia menemukan suaminya telah tergantung kaku di pohon rambutan yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah. Teriakannya memecah keheningan desa, membuat warga sekitar segera berdatangan.
“Sekitar pukul 04.16 WIB, istri korban berteriak setelah menemukan suaminya tergantung di pohon rambutan di selatan rumah. Warga yang mendengar teriakan langsung berdatangan,” ungkap Kapolsek Wonosari Kompol Edi Purnomo saat dikonfirmasi.
Warga yang terkejut kemudian melapor ke Unit Reskrim Polsek Wonosari. Tak lama berselang, petugas kepolisian tiba di lokasi bersama tim medis dari Puskesmas Wonosari. Mereka langsung melakukan pemeriksaan dan olah tempat kejadian perkara.
Dari hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Polisi memastikan bahwa peristiwa ini murni merupakan kasus bunuh diri.
“Korban kemudian kami serahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemandian jenazah dan pemakaman,” tambah Kompol Edi.
Berdasarkan keterangan keluarga dan tetangga, Pw telah lama menderita penyakit kulit kronis. Penyakit tersebut menimbulkan rasa gatal hebat yang sulit ditahan, sementara kondisi fisiknya yang semakin melemah membuatnya semakin terpuruk. Depresi diduga kuat menjadi pemicu tindakan tragis ini.
“Informasi yang kami peroleh, korban memang mengalami sakit kulit menahun. Dugaan kuat, rasa putus asa itulah yang menjadi penyebab korban mengakhiri hidupnya,” ujar Kapolsek.
Kepergian Pw mengejutkan banyak pihak. Warga mengenalnya sebagai sosok pendiam yang jarang menumpahkan keluhan. Namun di balik sikap tenangnya, ternyata tersimpan beban berat yang akhirnya mematahkan semangat hidupnya.
Kini, rumah sederhana tempat mereka tinggal diselimuti duka, sementara keluarga berupaya ikhlas melepas kepergian almarhum.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penyakit kronis bukan hanya menyerang fisik, tetapi juga dapat menggerogoti kesehatan mental. Rasa sakit berkepanjangan, perasaan tak berdaya, dan tekanan psikologis sering kali membuat penderita merasa putus asa.
Dukungan emosional dan perhatian dari orang terdekat sangat penting agar penderita tidak merasa sendiri dalam perjuangannya. (Eln)












