bernasnews — Program Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2025 mengusung tema “Transformasi Ekonomi Lokal” dengan fokus pada pemberdayaan kelompok Wanita Tani di Desa Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian dan Dosen Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, yang berhasil memperoleh Hibah Kompetisi skema PKM dari KEMENDIKTISAINTEK RI Tahun 2025.
“Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat kapasitas wanita dalam mengembangkan produk pangan sehat berbasis komoditas lokal, digital marketing dan branding produk sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui inovasi pengemasan modern dan manajemen keuangan rumah tangga yang terencana,” kata Ir. Suhada, Dosen Prodi Manajemen UNU Yogyakarta, Selasa (9/9/2025).
Lanjut Suhada, salah satu kegiatan utama adalah pelatihan produksi emping melinjo sehat. Pelatihan pembuatan emping sehat yang rendah purin kepada ibu KWT Tri Manunggal ini bertujuan untuk memberikan kemampuan mengolah emping menjadi produk emping rendah purin. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 28 Agustus 2025, dengan antusiasme tinggi peserta pelatihan.
Menurutnya, pelatihan ini dapat memberi nilai tambah produk karena lebih aman dikonsumsi dan tidak perlu menghindari konsumsi emping melinjo, serta dapat meningkatkan kualitas emping melinjo melalui proses perendaman awal dan perendaman dengan asam cuka yang mampu menurunkan kadar purin dan menjadi produk unggulan yang diproduksi oleh ibu KWT Trimanunggal.
“Adapun proses pembuatannya melalui tahapan lengkap mulai dari perendaman, penyangraian, pengepresan, penjemuran, pengemasan, hingga penggorengan. Melalui inovasi produk emping sehat yang rendah purin dan kemasan ziplock, produk lokal diharapkan memiliki, tampilan lebih menarik, dan berdaya saing tinggi di pasar,” beber Suhada.
Selain itu, peserta juga mengikuti Workshop Pembuatan Kroket Singkong Frozen Kemasan Vacum Seale sebagai bentuk diversifikasi produk pangan lokal pada tanggal 21 Agustus 2025. Singkong, yang selama ini dianggap komoditas sederhana, diolah menjadi camilan modern yang bernilai jual tinggi.
Produk ini dapat disimpan dalam bentuk beku dengan kemasan vacuum sealed sehingga lebih praktis, higienis, dan memiliki umur simpan lebih lama.
“Dengan mengolah singkong menjadi produk beku seperti kroket frozen, wanita tani dapat memanfaatkan bahan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi yang diminati pasar urban,” jelas Subekti Hartiningsih, STP., M.Sc..
Ia menekankan bahwa inovasi ini tidak hanya memperluas ragam produk pangan berbasis komoditas lokal, tetapi juga membuka peluang bisnis hijau yang mendukung ketahanan pangan.
Sementara itu, Diah Ayu Puspaningsih, S.T.P., M.Sc. menambahkan bahwa pengembangan kroket singkong frozen juga harus dibarengi dengan strategi pemasaran yang meliputi digital marketing dan branding produk serta pencatatan keuangan yang baik.
Diah Ayu pun menjelaskan diversifikasi produk seperti ini dapat meningkatkan potensi pendapatan rumah tangga, asalkan dikelola dengan perencanaan keuangan yang disiplin dan kerja sama anggota keluarga.
Para anggota KWT juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya kemasan yang menarik, identitas merek yang jelas, serta penyusunan narasi cerita produk (storytelling) agar dapat meningkatkan daya tarik di mata konsumen.
“Harapannya, produk lokal yang semula hanya dipasarkan di lingkup terbatas dapat menembus pasar yang lebih luas, bahkan berpeluang masuk ke jaringan ritel modern,” ungkap Diah Ayu.
Selain keterampilan teknis oleh Dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Ir. Suhada dari Prodi Manajemen UNU Yogyakarta memberikan materi tentang pengelolaan keuangan rumah tangga.
Menurut Suhada, laporan sederhana seperti rugi laba dan neraca keluarga dapat membantu wanita tani memahami kondisi keuangan secara menyeluruh, termasuk aset, kewajiban, dan kekayaan bersih.
“Dengan konsistensi pencatatan dan kerja sama keluarga, diharapkan tercipta surplus keuangan yang dapat dialokasikan untuk tabungan maupun investasi kecil,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan wanita tani, memperkuat ekonomi keluarga, dan mendorong transformasi ekonomi lokal berbasis kearifan daerah.
Melalui dukungan hibah PKM dari KEMENDIKTISSAINTEK RI, program ini membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi lintas disiplin dan masyarakat dapat menciptakan ekosistem usaha tani yang berdaya saing, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. (*/ ted)












