News  

Arti Kode 1312 yang Viral Usai Demo 28 Agustus 2025 dan Tragedi Affan Kurniawan

Ilustrasi Arti Kode 1312 yang Viral Usai Demo 28 Agustus 2025 dan Tragedi Affan Kurniawan/Unsplash

bernasnews – Kode 1312 ramai di media sosial setelah tragedi yang menimpa pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, dalam aksi demo buruh di Jakarta pada 28 Agustus 2025.

Apa arti dari kode tersebut dan mengapa banyak dipakai sebagai simbol protes terhadap polisi?

Gelombang protes masyarakat kembali mencuat pasca tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, pada Kamis, 28 Agustus 2025.

Affan meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis Korps Brigade Mobil (Brimob) ketika tengah mengantarkan pesanan di sekitar lokasi aksi unjuk rasa buruh.

Peristiwa itu menimbulkan kemarahan publik, hingga warganet ramai-ramai menggunakan kode 1312 sebagai bentuk perlawanan simbolis di media sosial.

Lalu, sebenarnya apa arti kode angka 1312 yang mendadak banyak dipakai?

Makna di Balik Kode 1312

Kode 1312 adalah representasi numerik dari akronim berbahasa Inggris ACAB, yakni “All Cops Are Bastards”.

Jika diuraikan, angka 1 melambangkan huruf A, angka 3 adalah C, angka 1 kembali untuk A, dan angka 2 mewakili B. Dalam bahasa Indonesia, kalimat tersebut berarti “Semua polisi adalah bajingan”.

Istilah ACAB dan kode 1312 kerap ditemui di berbagai negara, terutama dalam aksi demonstrasi, grafiti jalanan, tato, maupun spanduk protes.

Penggunaan istilah ini biasanya menggambarkan rasa kekecewaan dan kemarahan terhadap tindakan aparat kepolisian yang dianggap melanggar keadilan atau melakukan kekerasan berlebihan.

Viral di Indonesia Setelah Tragedi Affan

Sejak meninggalnya Affan Kurniawan, seruan ACAB dan kode 1312 berulang kali muncul di lini masa. Tagar #PolisiPembunuhRakyat pun menggema, menjadi bukti bahwa masyarakat menolak keras tindak kekerasan aparat.

Bahkan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo langsung bertemu keluarga Affan di RSCM untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia menyebut kejadian itu sebagai musibah dan menyampaikan duka mendalam kepada keluarga besar ojek online maupun masyarakat luas.

Meski demikian, penggunaan kode 1312 terus berlanjut sebagai simbol solidaritas dan kritik publik terhadap aparat kepolisian.

Sejarah dan Asal Usul ACAB

Istilah ACAB sejatinya sudah lama dikenal di dunia Barat. Menurut catatan, ungkapan ini diyakini muncul di Inggris sejak aksi mogok buruh pada 1940-an. Kala itu, ACAB digunakan pekerja tambang untuk mengekspresikan ketidakpuasan atas kondisi kerja yang dianggap sangat eksploitatif dan represif.

Popularitas ACAB kemudian meningkat pada 1970-an. Salah satu momen yang memperkuat penyebarannya adalah ketika koran Daily Mirror menuliskan berita penangkapan seorang pemuda yang memakai jaket bertuliskan ACAB sebagai tajuk utama. Sejak saat itu, istilah ini semakin dikenal luas.

ACAB di Era Modern

Dalam perkembangannya, ACAB identik dengan subkultur punk. Gerakan pemuda tersebut kerap menentang sistem pemerintahan otoriter dan struktur sosial yang dianggap menindas. Melalui musik, grafiti, dan gaya hidup, subkultur punk ikut menyebarkan frasa ACAB ke berbagai belahan dunia.

Di era digital sekarang, ACAB maupun kode 1312 tidak hanya muncul di jalanan, tetapi juga merajai media sosial. Frasa ini dipakai oleh banyak anak muda sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, khususnya ketika aparat dianggap tidak berpihak pada rakyat.

Simbol Perlawanan yang Terus Digunakan

Bagi sebagian kalangan, kode 1312 bukan sekadar rangkaian angka, tetapi sebuah simbol perlawanan kolektif.

Dengan mengetik empat digit sederhana itu, masyarakat dapat menyuarakan rasa kecewa, marah, dan solidaritas terhadap korban kekerasan aparat.

Di Indonesia, kasus Affan Kurniawan menjadi salah satu momentum penting yang membuat istilah ini semakin populer.

Warganet menjadikannya sebagai tanda bahwa publik menuntut perubahan, khususnya dalam tata kelola kepolisian yang lebih humanis dan berpihak pada rakyat.***