News  

Seruan Damai Usai Demo Ricuh di Yogyakarta, Warganet Kompak Gaungkan Tagar #JagaJogja

bernasnews – Pasca aksi demonstrasi ricuh di depan Mapolda DIY, media sosial dipenuhi gelombang seruan damai. Warga Jogja kompak menjaga kerukunan lewat tagar #JogjaGuyubRukun, #JagaJogja, hingga #DIYdamai.

Beberapa waktu lalu, situasi Yogyakarta sempat memanas akibat aksi demonstrasi di depan Mapolda DIY yang berujung ricuh. Bentrokan antara massa dengan aparat sempat menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas keamanan di kota pelajar ini.

Namun, di balik ketegangan tersebut, muncul sebuah gerakan positif yang justru memperlihatkan sisi lain dari masyarakat Jogja.

Alih-alih larut dalam amarah, warga justru menjadikan media sosial sebagai ruang solidaritas. Berbagai platform dipenuhi unggahan yang mengajak menjaga kedamaian, mempertegas identitas Jogja sebagai kota yang teduh, guyub, dan jauh dari anarkisme.

Pemerintah Daerah DIY Sampaikan Pesan Sejuk

Akun resmi @humasjogja menjadi salah satu yang pertama menyuarakan pesan menyejukkan. Dalam unggahannya, pemerintah menuliskan:

“Jogja ngemong, Jogja nentremake. Kita semua adalah keluarga, saling mengayomi satu sama lain. Sudah sewajarnya kita saling menjaga sikap dan hati. Demi terwujudnya ketentraman dan kerukunan.”

Unggahan tersebut disertai filosofi Jawa Memayu Hayuning Bawana, ajaran yang mengingatkan manusia untuk menjaga kebaikan, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi sesama, alam, hingga seluruh kehidupan.

Pesan damai itu segera mendapat respons hangat. Ribuan warga membagikan ulang dengan menambahkan tagar seperti #JogjaGuyubRukun, #KabehSedulur, #JogjaAdemAyem, #JagaJogjaIstimewa, hingga #JogjaJagaIndonesia.

Seruan dari Bantul hingga Sleman

Tak hanya pemerintah provinsi, ajakan menjaga kedamaian juga datang dari tingkat kabupaten.

Di Bantul, beredar pesan sederhana yang viral di WhatsApp, Facebook, Instagram, hingga TikTok:

“Yuk jaga Bantul bersama-sama. Jangan biarkan ada anarkisme di Bantul. Kita buktikan Bantul Ayom Ayem.”

Sementara itu, akun resmi @kabarsleman juga menyerukan hal serupa kepada warganya:

“Ayo bareng-bareng jaga Sleman aman dan damai. Jaga diri dan lingkungan kita, jaga Sleman tetap adem ayem, dan jangan sampai terprovokasi untuk melakukan tindakan anarkis.”

Pesan ini diperkuat dengan tagar #JagaKananKiri, #JagaSleman, #DIYdamai, yang semakin menegaskan semangat kebersamaan di dunia digital.

Media Sosial Jadi Ruang Solidaritas

Fenomena ini menarik karena menunjukkan pergeseran fungsi media sosial. Platform yang sering dianggap memicu polarisasi justru dipakai sebagai medium untuk menyebarkan kesejukan.

Warga Yogyakarta memanfaatkannya untuk mengingatkan satu sama lain agar tidak mudah terprovokasi dan tetap mengutamakan kerukunan.

Bagi banyak orang, gerakan ini bisa disebut sebagai bentuk kearifan lokal digital. Nilai-nilai Jawa seperti guyub rukun dan ngemong diterjemahkan ke dalam bahasa dunia maya, menciptakan narasi damai yang mudah dipahami lintas generasi.

Lebih dari Sekadar Unggahan

Meski hanya berupa pesan digital, seruan ini memiliki makna mendalam. Ia menjadi simbol bahwa Yogyakarta ingin tetap dikenal sebagai “rumah yang menentramkan.”

Masyarakat berharap, semangat damai tidak berhenti di media sosial saja, melainkan benar-benar terwujud dalam interaksi sehari-hari.

Seruan itu sekaligus menjadi pengingat, bahwa menjaga ketenangan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya aparat maupun pemerintah.

Harapan untuk Jogja yang Tetap Adem

Sebagai kota budaya dan kota pelajar, Yogyakarta memiliki identitas kuat sebagai ruang persaudaraan. Masyarakat percaya, selama nilai itu terus dipelihara, setiap gejolak sosial bisa dihadapi dengan tenang tanpa merusak persatuan.

Harapannya, gerakan digital seperti ini tidak hanya muncul saat terjadi konflik, melainkan berkembang menjadi budaya komunikasi masyarakat Jogja. Dengan demikian, Jogja bisa menjadi contoh nyata bagaimana kedamaian bisa dijaga bersama di era digital.

***