Apakah BEI Beroperasi 1 September 2025 Pasca Demo? Ini Jawabannya

bernasnews –  Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan aktivitas perdagangan saham tetap berjalan normal pada Senin, 1 September 2025, meski gejolak pasar dan aksi demonstrasi terjadi di sejumlah daerah. IHSG sebelumnya ditutup melemah 1,53 persen pada akhir pekan lalu.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa seluruh kegiatan perdagangan saham akan tetap berlangsung seperti biasa pada Senin, 1 September 2025.

Kepastian ini disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, yang menekankan bahwa pihaknya berkomitmen menjaga jalannya pasar modal agar tetap teratur, wajar, dan efisien.

“Bursa Efek Indonesia pada Senin, 1 September 2025 akan beroperasi secara normal. BEI senantiasa berkomitmen untuk memastikan aktivitas pasar modal Indonesia berjalan lancar,” ujar Kautsar dalam keterangan resmi pada Minggu, 31 Agustus 2025.

Selain itu, BEI juga dijadwalkan menggelar pertemuan daring dengan awak media pada Senin siang, pukul 13.00–14.30 WIB, untuk membahas perkembangan terkini kondisi pasar modal.

IHSG Anjlok di Akhir Pekan

Kepastian operasional normal ini muncul setelah pada Jumat, 29 Agustus 2025, pasar saham Indonesia bergejolak.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan hingga ditutup melemah 1,53 persen ke level 7.830,49. Sementara itu, Indeks LQ45 juga terkoreksi 1,78 persen ke posisi 797,11.

Seluruh indeks acuan utama mengalami penurunan, dipengaruhi aksi demonstrasi di berbagai daerah yang menimbulkan kekhawatiran investor. Pada perdagangan tersebut, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.913,86 dan terendah 7.765,59.

Rincian perdagangan menunjukkan:

  • 610 saham melemah
  • 122 saham menguat
  • 70 saham stagnan

Aktivitas pasar mencatat 2,5 juta kali transaksi, dengan volume mencapai 51,6 miliar saham dan nilai transaksi harian sebesar Rp 22,8 triliun.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 16.451 per dolar.

Pergerakan Harga Saham Emiten

Beberapa saham unggulan juga tidak luput dari tekanan pada perdagangan akhir pekan lalu.

  • CTRA: turun 4,25% ke Rp 1.015 per saham, dengan volume 805.782 saham dan nilai transaksi Rp 81,9 miliar.
  • INDF: melemah 1,97% ke Rp 7.450 per saham, dengan total nilai transaksi Rp 84,6 miliar.
  • FUTR: anjlok 9,91% ke Rp 200 per saham, dengan nilai transaksi Rp 13 miliar.

Sementara itu, mayoritas sektor saham ikut tertekan. Sektor industri menjadi satu-satunya yang mencatat kenaikan, yakni sebesar 0,73 persen. Adapun sektor consumer cyclicals menjadi yang paling terdampak dengan koreksi 3,05 persen.

Sektor lain yang juga terkoreksi antara lain:

  • Energi (-1,42%)
  • Basic materials (-1,58%)
  • Consumer non-cyclicals (-1,24%)
  • Kesehatan (-1,75%)
  • Keuangan (-1,45%)
  • Properti (-2,16%)
  • Teknologi (-2,25%)
  • Infrastruktur (-2,27%)
  • Transportasi (-1,04%)

Sentimen Eksternal dari Pasar Asia

Tidak hanya Indonesia, sejumlah bursa saham Asia Pasifik juga mencatat pergerakan bervariasi pada perdagangan Jumat, 29 Agustus 2025.

  • Nikkei 225 Jepang turun 0,26% ke 42.718,47.
  • Topix melemah 0,47% ke 3.075,18.
  • Kospi Korea Selatan terkoreksi 0,32% ke 3.186,01.
  • Kosdaq turun 0,19% ke 796,91.

Investor mencermati data ekonomi Jepang, termasuk inflasi inti Tokyo yang naik 2,5% pada Agustus, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 2,9%. Meski demikian, angka ini masih berada di atas target Bank of Japan sebesar 2%.

Selain itu, tingkat pengangguran Jepang dilaporkan turun menjadi 2,3 persen, lebih baik dari bulan Juli yang berada di level 2,5 persen.

Prospek IHSG ke Depan

Meski BEI memastikan perdagangan akan berjalan normal pada Senin, sejumlah analis menilai IHSG masih berpotensi melemah. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, memprediksi IHSG bergerak di rentang support 7.736–7.668 dengan resistance 7.900–7.958.

“Jika IHSG diperdagangkan konsisten di bawah 7.750, maka peluang terjadinya bearish consolidation phase sangat terbuka,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam lima tahun terakhir, rata-rata kinerja IHSG pada bulan September cenderung melemah, sebelum kembali menguat di periode Oktober hingga Desember.

Harapan Dunia Usaha

Menyikapi gejolak pasar dan aksi unjuk rasa yang masih berlanjut, kalangan pelaku usaha berharap pemerintah dan parlemen segera mengambil langkah konkret. Menurut mereka, stabilitas pasar keuangan perlu dijaga melalui kebijakan yang berpihak pada pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan sektor usaha.

“Pemerintah harus berkomitmen dalam menerapkan kebijakan yang pro-job, pro-growth, pro-market, dan pro-development agar pasar modal Indonesia kembali pulih,” ungkap Nafan.

Kepastian BEI untuk tetap membuka perdagangan pada 1 September 2025 menjadi sinyal positif bagi investor di tengah situasi pasar yang penuh gejolak. Meski IHSG sempat terkoreksi tajam di akhir pekan, normalisasi aktivitas perdagangan diharapkan mampu menumbuhkan kembali kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

***