bernasnews – Nilai tukar rupiah jatuh ke Rp16.499 per dolar Amerika Serikat pada Jumat, 29 Agustus 2025, seiring memanasnya aksi demonstrasi di berbagai kota. Simak analisis lengkap dampaknya terhadap pasar keuangan dan investor.
Aksi demonstrasi di berbagai wilayah Indonesia kembali terjadi pada hari Jumat, 29 Agustus 2025. Gelombang protes ini sudah berlangsung sejak awal pekan, tepatnya sejak Senin, 25 Agustus 2025, kemudian berlanjut pada Kamis, 28 Agustus 2025, dan memuncak dengan insiden di Pejombongan, Jakarta Selatan, di mana seorang pengemudi ojek online tertabrak kendaraan taktis milik Brimob. Insiden tersebut memperkeruh situasi yang sejak awal sudah memanas.
Kondisi politik dan sosial yang penuh ketegangan ini langsung menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pelaku pasar.
Tidak hanya investor domestik, investor asing pun cenderung menarik diri dari aset berisiko di Indonesia. Akibatnya, nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan.
Rupiah Terkoreksi Tajam
Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Jumat siang (29 Agustus 2025), rupiah terdepresiasi sebesar 0,67 persen dan berada di level Rp16.450 per dolar Amerika Serikat. Angka ini sekaligus mencatatkan pelemahan harian terbesar sejak 9 April 2025, saat pasar global sempat diguncang oleh kebijakan tarif dagang Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menjelang penutupan perdagangan sore hari, tekanan semakin berat. Rupiah berakhir di posisi Rp16.499 per dolar Amerika Serikat, melemah 146 poin atau setara 0,90 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sementara itu, kurs acuan Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan rupiah berada di Rp16.461 per dolar Amerika Serikat.
Pola Tekanan Rupiah Saat Demo
Fenomena pelemahan rupiah di tengah maraknya aksi protes bukanlah hal baru. Sejak awal tahun 2025, Indonesia tercatat sudah mengalami 11 kali demonstrasi besar, dan hampir semuanya berimbas langsung pada kurs rupiah.
Data historis memperlihatkan pola yang konsisten: setiap kali terjadi demonstrasi skala besar, rupiah cenderung mengalami depresiasi. Investor asing memilih mengurangi eksposur mereka karena menganggap stabilitas sosial dan politik sedang rapuh. Kondisi inilah yang membuat rupiah sangat rentan terhadap sentimen domestik.
Rupiah Bukan Satu-Satunya Mata Uang yang Tertekan
Tidak hanya rupiah, beberapa mata uang Asia juga ikut melemah. Baht Thailand turun 0,25 persen, ringgit Malaysia melemah 0,21 persen, dolar Singapura turun 0,12 persen, dan yen Jepang melemah tipis 0,06 persen.
Namun, ada juga mata uang yang berhasil menguat, seperti dolar Australia dan franc Swiss, yang sama-sama menguat sebesar 0,11 persen. Dari kawasan Eropa, euro turun 0,06 persen, sementara poundsterling Inggris merosot 0,16 persen.
Pelemahan sejumlah mata uang besar ini menunjukkan bahwa tekanan pasar keuangan tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga kondisi global. Meski demikian, rupiah termasuk salah satu yang melemah paling dalam di Asia.
Analisis: Kekhawatiran Investor di Tengah Situasi Politik
Menurut analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, pelemahan tajam rupiah kali ini terutama disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap situasi politik Indonesia yang semakin panas akibat rangkaian demonstrasi.
Investor menilai bahwa ketidakpastian politik bisa berujung pada instabilitas ekonomi. Hal ini membuat mereka cenderung menahan diri atau bahkan menarik dana dari aset berisiko di Indonesia, termasuk pasar saham dan obligasi.
Dampak Bagi Ekonomi Indonesia
Pelemahan rupiah bukan sekadar isu pasar valuta asing, tetapi juga bisa berdampak lebih luas terhadap perekonomian nasional. Kenaikan biaya impor, potensi inflasi, hingga tekanan terhadap cadangan devisa menjadi risiko nyata yang perlu diwaspadai pemerintah.
Jika situasi politik terus memanas dan investor asing semakin mengurangi eksposur, bukan tidak mungkin rupiah akan kembali menembus level psikologis baru yang lebih rendah.
Aksi demonstrasi yang berlanjut hingga Jumat, 29 Agustus 2025, kembali menekan rupiah secara signifikan. Kurs rupiah ditutup pada level Rp16.499 per dolar Amerika Serikat, melemah hampir 1 persen hanya dalam sehari.
Data historis menunjukkan pola jelas: setiap kali gelombang protes besar melanda, rupiah cenderung melemah. Meski pelemahan mata uang juga dialami oleh negara-negara lain di Asia, rupiah termasuk salah satu yang terkena dampak paling berat.
Dengan situasi politik yang masih panas, rupiah diperkirakan akan terus menghadapi tekanan dalam jangka pendek, kecuali ada kepastian stabilitas politik yang mampu meredakan kekhawatiran investor.
***












