News  

Demo DPR Merembet ke Jogja, Aksi Aliansi Jogja Memanggil Serukan 6 Tuntutan dan Isu Kematian Ojol di Polda DIY

Ilustrasi Ribuan Aparat TNI-Polri Dikerahkan Amankan Aksi Unjuk Rasa di Malioboro Yogyakarta/Unsplash

bernasnews – Aliansi Jogja Memanggil menggelar demonstrasi di depan Polda DIY, Jumat (29/8/2025). Mereka menyuarakan enam tuntutan, termasuk desakan reformasi Polri, pencopotan Kapolri, hingga seruan aksi serentak nasional di Malioboro.

Suasana di kawasan Polda DIY, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memanas pada Jumat sore, 29 Agustus 2025.

Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Jogja Memanggil turun ke jalan membawa berbagai tuntutan terhadap pemerintah dan kepolisian.

Aksi ini merupakan kelanjutan dari konsolidasi sejumlah elemen masyarakat Yogyakarta yang sebelumnya telah menggelar pertemuan untuk merumuskan langkah bersama.

Enam Tuntutan yang Disuarakan

Dari hasil konsolidasi, Aliansi Jogja Memanggil merumuskan enam poin utama yang disampaikan di hadapan aparat kepolisian.

  1. Pengusutan tuntas kasus kekerasan aparat
    Massa menuntut penyelesaian serius atas berbagai kasus pelanggaran, mulai dari tragedi Kanjuruhan di Malang, meninggalnya driver ojek online bernama Affan Kurniawan yang dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta, hingga kasus Gamma yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya.
  2. Reformasi total kepolisian dan pencopotan Kapolri Listyo Sigit Prabowo
    Aliansi menilai reformasi kepolisian tidak bisa ditunda. Mereka mendesak agar Kapolri diganti sebagai bentuk pertanggungjawaban atas berbagai peristiwa yang mencoreng institusi Polri.
  3. Penerapan pajak progresif dan pembatalan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
    Menurut Koes, kebijakan kenaikan PBB sangat memberatkan rakyat kecil. “Di daerah seperti Pati, kenaikan PBB membuat banyak warga resah,” ujarnya.
  4. Penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pemangkasan anggaran pertahanan-keamanan
    Massa meminta anggaran yang selama ini terserap untuk MBG dan sektor pertahanan dialihkan kembali pada sektor pendidikan yang lebih mendesak.
  5. Penolakan absolutisme struktur pemerintahan dan militerisasi ruang sipil
    Aliansi menolak segala bentuk kebijakan yang dianggap mempersempit ruang demokrasi masyarakat sipil.
  6. Menuntut turunnya Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, beserta kabinet serta DPR
    Selain itu, mereka mendesak pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset agar koruptor dan keluarganya benar-benar kehilangan akses terhadap kekayaan hasil tindak pidana.

Selain enam poin tersebut, massa juga meminta polisi membebaskan rekan-rekan mereka yang sebelumnya ditangkap saat demonstrasi pada 25 Agustus 2025.

Latar Belakang Aksi: Kasus Kematian Driver Ojol

Salah satu alasan utama massa mendatangi Polda DIY adalah kematian Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang tewas usai terlindas kendaraan taktis Brimob saat aksi di Jakarta.

Kasus ini menjadi simbol kemarahan publik terhadap dugaan represifitas aparat dalam menangani aksi demonstrasi di berbagai daerah.

Pantauan di lokasi menunjukkan lalu lintas di kawasan Ring Road Utara, tepatnya di simpang empat Condongcatur menuju Polda DIY, tidak ditutup sepenuhnya. Kendaraan masih bisa melintas, meski harus melambat karena adanya kerumunan massa.

Beberapa pengguna jalan terlihat mencoba merekam jalannya aksi menggunakan ponsel, namun segera ditegur oleh para peserta demonstrasi.

Meski diguyur hujan, demonstran tetap bertahan di depan Polda dengan meneriakkan yel-yel dan membawa poster berisi tuntutan.

Seruan Aksi Nasional

Tidak berhenti di Yogyakarta, Aliansi Jogja Memanggil berencana menggelar aksi lanjutan yang lebih besar.

Seruan ini menandakan bahwa gerakan tersebut berpotensi berkembang menjadi gelombang demonstrasi nasional dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dari beragam daerah.

Aksi Aliansi Jogja Memanggil di depan Polda DIY bukan sekadar ekspresi ketidakpuasan, melainkan pernyataan tegas atas keresahan masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah dan kinerja aparat.

Dengan enam tuntutan utama yang disuarakan, demonstrasi ini menjadi sinyal bahwa suara publik semakin nyaring dan sulit diabaikan.

Kini, perhatian publik tertuju pada bagaimana pemerintah dan aparat kepolisian akan merespons seruan reformasi dan desakan perubahan yang terus menguat dari Yogyakarta hingga berpotensi merambah ke tingkat nasional.

***