bernasnews – Posyandu Rono Jiwo Kelurahan Purwokinanti, Kota Yogyakarta, mencatat sejarah baru. Posyandu ini berani melangkah lebih jauh dengan menerapkan 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) sekaligus melibatkan laki-laki sebagai kader aktif. Inovasi ini menjadikan Rono Jiwo sebagai pelopor Posyandu 6 SPM pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Langkah berani tersebut mengubah wajah posyandu yang selama ini hanya dikenal sebagai pusat layanan kesehatan ibu dan anak. Kini, Posyandu Rono Jiwo mengembangkan diri menjadi pusat pelayanan masyarakat yang lebih luas.
Enam bidang penting masuk dalam cakupannya: pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat (trantibumlinmas), dan sosial.
Transformasi Posyandu Rono Jiwo
Lurah Purwokinanti, Mochamad Ismail, menegaskan bahwa penerapan Posyandu 6 SPM membuka jalan baru bagi masyarakat. Dengan 6 SPM ini, Posyandu punya peran lebih luas. Warga tidak hanya mendapat layanan kesehatan, tetapi juga kesempatan untuk mengakses berbagai kebutuhan dasar lain.
“Kami ingin warga semakin mudah mendapatkan pelayanan publik,” ujarnya.
Ismail menegaskan, transformasi Posyandu Rono Jiwo tidak berhenti pada gagasan. Para kader sudah bergerak, menyusun program, hingga menjalin koordinasi lintas bidang agar layanan benar-benar dirasakan masyarakat.
Penyuluh dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DPMKKPS) DIY, Aan Apriliyanto, menjelaskan, lahirnya Posyandu 6 SPM tidak lepas dari amanat Permendagri Nomor 13 Tahun 2024 tentang Posyandu. Aturan tersebut memperluas fungsi Posyandu sebagai lembaga kemasyarakatan desa dan kelurahan.
“Posyandu 6 SPM merupakan transformasi pelayanan publik. Program ini mengintegrasikan berbagai layanan pemerintah sekaligus melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Tujuannya jelas: membangun wilayah dan meningkatkan kesejahteraan bersama,” tegas Aan.
Ia mengapresiasi langkah cepat Posyandu Rono Jiwo. Menurutnya, keberanian memulai akan menjadi contoh bagi kelurahan lain di Kota Yogyakarta.
Dia menilai selama ini penerapan program di Posyandu ini sudah bagus, tinggal dibiasakan dan dievaluasi. Sehingga, pelayanan bisa berjalan lebih optimal dan benar-benar menjawab kebutuhan riil warga.
Kader Perempuan Gandeng Kaum Laki-Laki
Cerita paling dramatis justru datang dari para kader. Selama ini, kader posyandu identik dengan ibu-ibu. Namun di Rono Jiwo, paradigma itu pecah. Kader perempuan Sari Setyaningrum mengaku tidak ragu menggandeng kaum bapak.
“Kami ada 14 kader. Sejak menerapkan 6 SPM, kami sadar butuh tenaga tambahan. Maka kami mengajak para bapak untuk ikut terlibat. Sekarang mereka jadi bagian penting dalam pelayanan,” ujarnya.
Sari menjelaskan, keterlibatan laki-laki sangat penting. Misalnya, dalam bidang pekerjaan umum, perumahan rakyat, hingga trantibumlinmas, para bapak mengambil peran aktif. Mereka tidak hanya hadir sebagai pengawas, tetapi juga ikut belajar, beradaptasi, dan melayani masyarakat.
“Kami belajar bersama, melakukan penyesuaian, dan memastikan semua bidang bisa berjalan. Kehadiran para bapak membuat posyandu ini lebih kuat,” katanya.












