bernasnews – Sejumlah guru di Sleman juga mengalami keracunan setelah mencicipi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (12/8/2025).
Kepala sekolah menjelaskan prosedur mencicipi dilakukan untuk memastikan makanan layak konsumsi, namun justru berdampak pada guru dan siswa.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah insiden keracunan massal menimpa ratusan siswa dan sejumlah guru di Kabupaten Sleman.
Peristiwa ini dilaporkan pada Selasa (12/8/2025) dan Rabu (27/8/2025), dengan gejala yang hampir serupa: mual, diare, hingga sakit kepala.
Menariknya, tidak hanya murid yang terdampak, tetapi juga guru yang ikut mencicipi menu MBG sesuai prosedur. Kepala SMP Muhammadiyah III Mlati, Yulia Rachmawati, menjelaskan bahwa setiap guru diwajibkan mencoba makanan sebelum dibagikan kepada siswa.
Prosedur ini dimaksudkan untuk memastikan makanan aman dikonsumsi, namun justru berujung pada ikut jatuh sakitnya sejumlah pengajar.
Kronologi Kejadian
Insiden terbaru terjadi di SMP Negeri 3 Berbah, Sleman. Menurut data yang disampaikan Khamidah Yuliati, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman, total terdapat 378 siswa dan guru yang menyantap hidangan MBG. Dari jumlah itu, 137 siswa dan dua guru dilaporkan mengalami gejala keracunan.
Tindakan cepat dilakukan dengan merujuk dua siswa ke Puskesmas. Kondisi keduanya berangsur membaik sehingga diperbolehkan rawat jalan. Sementara itu, 66 siswa lainnya mendapat penanganan medis langsung di sekolah oleh tenaga kesehatan yang didatangkan.
Menu MBG yang Dikonsumsi
Menu makan bergizi yang disediakan pada hari itu terdiri dari:
- Nasi kuning
- Telur dadar potong
- Abon
- Kering tempe
- Irisan timun
- Buah jeruk
Meski sejumlah siswa langsung mengalami gejala usai menyantap hidangan, pihak Dinas Kesehatan belum bisa memastikan penyebab pastinya. Sampel makanan sudah diperiksa, namun hasil laboratorium masih menunggu konfirmasi.
Guru Ikut Jadi Korban
Fenomena guru ikut keracunan cukup menarik perhatian publik. Yulia Rachmawati menuturkan, hal ini terjadi karena adanya kewajiban dari pihak sekolah agar guru mencicipi menu lebih dahulu. Tujuannya adalah untuk menjamin kualitas makanan yang diterima siswa.
Namun, dalam praktiknya, beberapa guru justru ikut merasakan mual dan diare seperti murid mereka. Yulia menambahkan, tidak semua siswa terdampak karena sebagian memilih tidak menyantap menu MBG hari itu.
Kasus Kedua dalam Bulan yang Sama
Kejadian di SMPN 3 Berbah bukanlah kasus tunggal. Pada pertengahan Agustus 2025, insiden serupa juga menimpa ratusan murid di Kecamatan Mlati.
Tercatat lebih dari 300 siswa dari SMP Muhammadiyah I Mlati, SMP Muhammadiyah III Mlati, dan SMP Pamungkas Mlati mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi menu MBG.
Gejala yang muncul hampir sama dengan kasus di Berbah, yaitu diare, mual, dan sakit kepala. Peristiwa berulang ini menimbulkan keprihatinan dan pertanyaan besar mengenai standar kebersihan serta pengawasan makanan yang disediakan melalui program MBG.
Kekhawatiran Masyarakat
Kasus keracunan berulang dalam program Makan Bergizi Gratis membuat sebagian orang tua murid merasa khawatir. Tujuan mulia program ini untuk mendukung gizi anak sekolah justru berbalik menjadi ancaman kesehatan bila kualitas makanan tidak terjamin.
Para orang tua berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak lagi terulang. Transparansi informasi juga sangat dibutuhkan agar masyarakat mendapat kepastian mengenai langkah perbaikan yang diambil.
Kasus keracunan massal akibat dugaan konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sleman menjadi peringatan serius bagi semua pihak terkait. Tidak hanya murid, guru pun ikut merasakan dampaknya karena aturan mencicipi makanan.
Ke depan, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari seberapa banyak siswa yang mendapatkan jatah makan, tetapi juga dari jaminan kualitas dan keamanan pangan yang dikonsumsi. Jika tidak, tujuan program akan kehilangan esensinya dan justru mengorbankan kesehatan generasi muda.
***












