bernasnews – Jepang tengah berada dalam krisis serius terkait ketersediaan tenaga perawat lansia. Memasuki era Super Aging Society, negara ini mengalami penurunan tajam angka kelahiran sekaligus lonjakan usia harapan hidup, menyebabkan populasi lansia meningkat drastis.
Di tengah keterbatasan sumber daya manusia di bidang kesehatan, Kaikoukai Healthcare Corporation dari Jepang mengambil langkah konkret dengan menjalin kerja sama strategis bersama Muhammadiyah.
Kerja sama ini menjadi topik dalam pertemuan resmi pada Jumat malam, 15 Agustus 2025. Saat itu, pimpinan tertinggi Kaikoukai menyambangi Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta.
Pertemuan Pihak Jepang dan Muhammadiyah
Kehadiran mereka mendapat sambutan hangat oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Mereka berada dalam pertemuan yang menjadi pintu awal kolaborasi internasional di bidang kesehatan dan pendidikan.
“Dengan adanya 126 rumah sakit dan 164 perguruan tinggi Muhammadiyah–’Aisyiyah, yang sebagian besar berbasis kesehatan, saya yakin kerja sama ini dapat dijalankan secara berkelanjutan,” ujar Haedar, mengutip kabarjawa.com.
Haedar menegaskan kesiapan Muhammadiyah dalam mendukung pemenuhan tenaga perawat profesional ke Jepang, sekaligus memperkuat transfer pengetahuan antarbangsa.
Ia memandang kolaborasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah strategis yang akan membawa manfaat besar bagi kedua negara.
Kebutuhan Perawat Lansia
President Director Kaikoukai Healthcare Corporation, Yamada Tetsuya, secara terbuka mengakui bahwa perawat asal Indonesia memiliki kualitas unggul di mata masyarakat Jepang.
Ia menilai keramahan, kesantunan, dan nilai religius para tenaga kesehatan Indonesia memberikan kenyamanan tersendiri bagi lansia Jepang.
“Banyak lansia di Jepang merasa lebih nyaman dan tenang saat dirawat oleh perawat dari Indonesia,” ungkap Yamada.
Menanggapi hal tersebut, Haedar menjelaskan bahwa sikap empatik tersebut berakar pada nilai-nilai spiritual dalam Islam.
Konsep birrul walidain atau berbakti kepada orang tua, kata Haedar, menjadi fondasi moral. Hal ini membuat tenaga kesehatan Muhammadiyah memiliki dedikasi tinggi dalam merawat lansia.
Yamada tidak menutup-nutupi kondisi darurat negaranya. Menurutnya, banyak fasilitas layanan lansia di Jepang yang tidak bisa bermanfaat secara maksimal karena kekurangan tenaga kerja.
Situasi ini memburuk dengan terus menurunnya jumlah generasi muda yang dapat mengisi sektor kesehatan.
“Kami menghadapi masalah besar. Ini bukan lagi isu masa depan, tapi krisis hari ini. Kami membutuhkan solusi nyata sekarang,” tegas Yamada.
Kaikoukai melihat Muhammadiyah sebagai mitra ideal. Selain memiliki jaringan layanan kesehatan yang luas, organisasi ini juga unggul dalam bidang pendidikan dan riset.
Oleh karena itu, pertemuan ini tidak hanya membahas rekrutmen tenaga caregiver. Namun, ini juga menjajaki kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan medis.
Yamada menambahkan, kesamaan nilai kemanusiaan serta kedekatan budaya antara Indonesia dan Jepang menjadi modal sosial penting dalam memperkuat kerja sama jangka panjang.
“Harapannya, pembahasan awal tentang Care Giver ini menjadi pintu persahabatan yang lebih luas, terutama untuk pengembangan sektor kesehatan dan medis di masa depan,” pungkasnya.***(Eln)












