bernasnews – Pemerintah Kota Yogyakarta kembali mengambil langkah konkret dalam menata sistem pengelolaan sampah di wilayahnya. Kali ini, Pemkot menggelar uji coba pemilahan sampah di empat depo, yaitu Depo Mandala Krida, Depo Lapangan Karang, THR Purawisata di Jalan Brigjen Katamso, dan Depo Kotabaru yang berada di selatan Kantor RRI.
Program ini menjangkau 21 kalurahan dan menjadi bagian dari upaya menekan volume sampah yang masuk ke Unit Pengelolaan Sampah (UPS).
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan bahwa program uji coba ini telah berlangsung selama sepekan. Dalam pelaksanaannya, pemkot memberdayakan pemilah melalui skema padat karya. Tujuannya adalah menurunkan volume sampah yang dikirim ke UPS dan mengoptimalkan pemilahan sejak dari sumbernya.
“Kami terus mengedukasi masyarakat agar memilah sampah. Kami juga menyasar penggerobak, khususnya di Depo Kotabaru. Kami menguji coba pemberian reward kepada penggerobak jika sampah yang mereka bawa tidak ada selembar plastik pun yang dibuang,” ujar Hasto dikutip dari kabarjawa.com.
Menurutnya, 15 penggerobak di Depo Kotabaru kini diwajibkan memilah sampah terlebih dahulu. Jika ingin mendapatkan insentif, mereka tidak boleh membawa plastik ke depo. Pemkot memberikan apresiasi kepada para penggerobak yang menjalankan ketentuan ini.
Hasto menyebut strategi ini merupakan kombinasi antara pemilahan di depo dan pemilahan di tingkat penggerobak, yang diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga.
Salah satu contoh praktik baik datang dari wilayah Kemantren Pakualaman. Warga di wilayah tersebut telah membiasakan diri memilah sampah di rumah. Penggerobak setempat pun menolak mengambil sampah yang belum terpilah. Hasilnya cukup signifikan.
“Biasanya satu wilayah kemantren menghasilkan 8 ton sampah per hari. Sekarang hanya sekitar 2,5 sampai 3 ton saja per hari. Pemilahan sampah memang kunci utama,” tegas Hasto.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menyebut Kota Yogyakarta saat ini memproduksi sampah sekitar 250 hingga 260 ton per hari.
Sementara kapasitas pengolahan hanya mampu menampung 190 hingga 200 ton. Artinya, dibutuhkan pengurangan sekitar 60 hingga 70 ton setiap hari agar tidak melebihi kapasitas.
Dalam strategi pemilahan lanjutan yang dilakukan di depo, Agus menjelaskan bahwa sampah residu dikirim ke UPS, sampah anorganik didistribusikan ke Bank Sampah Induk, dan sampah organik dikelola oleh mitra offtaker. Hasilnya sudah mulai terlihat.
“Depo Mandala Krida, Lapangan Karang, dan THR Purawisata mampu menurunkan volume sampah yang dibawa ke UPS sekitar 0,7 hingga 1 ton per hari,” jelas Agus.
Dampak yang lebih besar terlihat di Depo Kotabaru. Berkat partisipasi aktif penggerobak yang telah memilah sampah sejak awal, volume sampah yang masuk ke depo turun sekitar 1 hingga 1,3 ton per hari.
“Strategi ini sangat efektif ketika sampah yang dibawa penggerobak sudah terpilah. Apalagi jika rumah tangga sudah memilah sejak awal. Tidak ada barang plastik dan kaca yang masuk ke depo,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agus menambahkan bahwa sampah anorganik bernilai ekonomis disalurkan ke bank sampah unit di tingkat RW atau ke mitra daur ulang. Sementara itu, sampah yang tidak memiliki nilai jual dibawa oleh penggerobak ke depo menggunakan kantong hitam sesuai jadwal yang ditetapkan.
Untuk pengolahan sampah organik, DLH Kota Yogyakarta menerapkan metode komposting seperti ember tumpuk, losida, dan biopori. Jika warga tidak memiliki lahan pengolahan sendiri, penggerobak bertugas membawa sampah organik secara terpisah menggunakan kantong plastik putih atau bening.
“Sampah basah atau sisa makanan akan kami pisah dari sampah kering atau non makanan,” pungkas Agus.
Dengan strategi yang terukur dan partisipasi masyarakat yang perlahan meningkat, Pemkot Yogyakarta berharap program pemilahan sampah ini menjadi solusi berkelanjutan dalam mengatasi persoalan volume sampah kota. (Eln)












