News  

Suhu Merapi Sentuh 11,5°C, Lava Pijar Meluncur hingga 2.000 Meter

bernasnews — Gunung Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas. Suhu udara di puncak Merapi tercatat mencapai titik terdingin dalam beberapa pekan terakhir, yakni 11,5 derajat Celsius pada Selasa, 22 Juli 2025 dini hari.

Di tengah suhu dingin tersebut, gunung berapi aktif ini justru memuntahkan belasan kali lava pijar dalam satu malam.

Diberitakan tugujogja.id, laporan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan bahwa sepanjang Senin (21/7) malam hingga Selasa dini hari, Merapi meluncurkan sedikitnya 17 kali guguran lava pijar ke arah barat daya.

Lava itu mengarah ke Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 1.700 meter.

Sementara itu, kondisi cuaca di sekitar puncak gunung dilaporkan cerah hingga berawan. Angin bertiup tenang ke arah timur dan utara. Suhu di kawasan itu berkisar 13–22°C dengan kelembaban mencapai 93 persen, dan tekanan udara antara 871,5–917,8 mmHg.

Asap putih bertekanan lemah juga tampak mengepul setinggi 50–100 meter dari puncak kawah, memberikan kesan seolah-olah Merapi sedang tenang, meskipun di baliknya magma terus mendesak keluar.

Dari hasil pemantauan kegempaan, BPPTKG mencatat adanya 62 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–25 mm dan durasi antara 36 hingga 158 detik. Selain itu, sebanyak 113 kali gempa hybrid/fase banyak juga tercatat, menunjukkan bahwa tekanan magma masih cukup tinggi dan aktivitas di dalam perut Merapi belum mereda.

Puncak aktivitas justru terjadi menjelang subuh. Pada periode pengamatan dini hari, suhu kembali turun menjadi 11,5–16°C.

Guguran lava pijar meningkat menjadi 22 kali, dengan amplitudo antara 2–11 mm dan durasi gempa 40–116 detik. Kali ini, arah luncuran meluas ke Kali Boyong sejauh 2.000 meter dan ke hulu Kali Sat/Putih sejauh 1.800 meter.

Kondisi tersebut diperkuat oleh 35 kali gempa hybrid yang terpantau selama periode subuh, mengindikasikan bahwa suplai magma masih terus berlangsung. Karena itu, BPPTKG masih menetapkan status Merapi pada Level III (Siaga).

Dalam peringatannya, BPPTKG menyebutkan bahwa potensi bahaya saat ini mencakup awan panas guguran dan lava pijar di sektor selatan–barat daya, terutama sepanjang alur Sungai Boyong (5 km) serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (7 km).

Di sektor tenggara, kawasan yang berpotensi terdampak meliputi Sungai Woro (3 km) dan Sungai Gendol (5 km).

“Suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran setiap saat,” tegas BPPTKG dalam keterangannya.

Masyarakat pun diminta untuk tidak melakukan aktivitas di wilayah potensi bahaya, serta tetap mewaspadai kemungkinan lahar dan abu vulkanik, terutama saat terjadi hujan di sekitar lereng Merapi.

BPPTKG juga menambahkan bahwa jika terjadi lonjakan signifikan dalam aktivitas vulkanik, status Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

Di tengah kondisi yang masih fluktuatif ini, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari pihak berwenang, dan hanya mempercayai informasi yang berasal dari sumber resmi seperti KESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG. (Eln)