bernasnews – Malam itu, langit Prambanan tampak jernih, dengan bulan purnama bersinar megah, menyinari setiap lekuk relief Candi yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad.
Di bawah sinar keperakan yang turun dari angkasa, pentas budaya Sendratari Ramayana Prambanan edisi Padhang Bulan kembali digelar. Sebuah pertunjukan yang bukan sekadar hiburan, tapi juga perayaan spiritual dan warisan budaya Jawa yang kaya makna.
Pertunjukan ini disiapkan dengan penuh ketelitian oleh tim Teater dan Pentas InJourney Destination Management.
Mereka berupaya menghidupkan kembali legenda cinta Rama dan Shinta lewat estetika gerak tari, spiritualitas, serta kekuatan narasi yang menyatu dalam suasana malam penuh cahaya alami dari bulan. Penonton disuguhkan pengalaman visual dan batiniah yang menyentuh, tanpa dominasi lampu sorot buatan.
Esti Wahyujati, selaku General Manager Teater dan Pentas, menegaskan bahwa elemen bulan purnama sengaja dioptimalkan sebagai bagian dari atmosfer pertunjukan.
“Kami membangun atmosfer alami. Penonton melihat pementasan Ramayana dengan cahaya rembulan, merasakan nuansa magis, sakral, sekaligus hiburan khas budaya Jawa,” ujarnya, Senin, 21 Juli 2025 seperti dikutip dari kabarjawa.com.
Sebelum pertunjukan dimulai, para penonton disambut oleh penari penyambut yang menari dengan anggun di sekitar pintu masuk.
Suasana malam semakin hidup dengan hadirnya aneka jajanan ndalu, sajian khas kuliner Jawa seperti wedang ronde, mendoan, telo rebus, dan berbagai kudapan tradisional yang menggugah selera.
Keharuman teh melati dan rempah-rempah turut mengiringi setiap langkah menuju panggung terbuka.
Menambah kekhusyukan acara, penonton diajak mengikuti prosesi pembersihan diri. Mereka diperciki air bunga dan disambut aroma dupa dalam ritual kecil penyucian diri.
Prosesi ini menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai budaya Jawa yang menekankan kebersihan lahir dan batin sebelum menyaksikan pertunjukan sakral.
Pementasan pun dimulai dengan iringan gamelan yang bertalu pelan. Di atas panggung, kisah epik Ramayana dihidupkan kembali lewat gerak tari yang lembut namun kuat, menampilkan karakter Rama, Shinta, Hanoman, hingga Rahwana dengan ekspresi mendalam.
Sinar bulan menciptakan bayangan dramatis di atas relief Candi Prambanan, menghadirkan nuansa mistis yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata.
Menurut Esti, pertunjukan ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata budaya malam, tetapi juga merupakan upaya menjadikan Prambanan sebagai pusat seni pertunjukan kelas dunia.
“Kami ingin tradisi ini dicintai wisatawan domestik maupun mancanegara. Kami ingin menghadirkan cahaya baru di panggung seni dan budaya. Kami berharap Ramayana Padhang Bulan menjadi simbol kebanggaan, kekuatan tradisi, dan keindahan yang tak lekang oleh zaman,” tegasnya.
Kekaguman datang dari penonton yang hadir malam itu. Felita, pengunjung asal Semarang, mengaku terkesima dengan nuansa pertunjukan yang kali ini terasa lebih istimewa.
“Aku udah pernah nonton Ramayana di Prambanan, tapi kali ini rasanya beda banget. Bulan purnama bikin semuanya magis. Modern dan tradisionalnya nyatu. Ini pengalaman berharga banget,” ungkapnya.
Sementara Magda, warga Yogyakarta, menuturkan kenangan masa kecilnya saat menyaksikan pertunjukan Ramayana.
“Dulu waktu kecil sering diajak nonton Ramayana. Sekarang vibes-nya lebih mistis karena ada bulan purnama, kayak pulang ke masa lalu tapi dibalut sentuhan modern. Sakral banget rasanya,” katanya.
Bagi yang belum sempat menyaksikan pertunjukan ini, Sendratari Ramayana Prambanan Padhang Bulan akan kembali digelar pada Minggu, 10 Agustus 2025 pukul 22.00 WIB di Panggung Terbuka Ramayana Prambanan, Sleman, Yogyakarta.
Harga tiket dibanderol mulai dari Rp250.000 untuk anak-anak, Rp350.000 untuk Kelas 1, hingga Rp500.000 untuk Kelas Khusus.
Pentas ini bukan hanya tontonan seni, tapi juga peristiwa budaya yang mengajak kita merenung, mengingat, dan merayakan kekayaan warisan nenek moyang. Dalam balutan cahaya bulan dan iringan gamelan, legenda Rama dan Shinta kembali hidup di hati setiap penonton. (Eln)












