bernasnews – Para peserta Jogja Kite International Festival dari tujuh negara menapaki tanah Padukuhan Kajar, Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, dengan mata berbinar.
Mereka tidak hanya mengagumi keelokan layang-layang Nusantara, tetapi juga menorehkan pengalaman magis saat menempa keris dan celurit di bengkel para pandai besi setempat.
RM Kukuh Hestrianing selaku panitia menjelaskan bahwa pihaknya sengaja membawa seluruh peserta ke Padukuhan Kajar sebagai agenda ketiga festival. Ia ingin membuka mata para delegasi asing tentang kekuatan kriya logam Gunungkidul yang nyaris redup.
“Kami mengajak peserta melihat langsung kehidupan para pandai besi yang membuat peralatan pertanian. Mereka bisa menyaksikan bagaimana keris dan celurit lahir dari tangan terampil warga sini. Kami berharap kegiatan ini menumbuhkan relasi baik ke depan, terutama mengangkat industri kriya logam Gunungkidul,” kata lelaki yang akrab dipanggil Gusti Aning.
Para peserta terlihat antusias ketika pandai besi menyiapkan besi panas membara. Mereka bergantian memegang palu, memukul besi, dan mendengarkan dentang besi menyalakan semangat. Mereka menatap api perapian dengan takjub seolah menatap pusaka sakti Nusantara.
Membangkitkan Bara Api Kriya Logam Gunungkidul
Kukuh menjelaskan bahwa panitia meminta pandai besi membuat satu pusaka khusus dari besi sisa layangan. Mereka akan menghadiahkan pusaka itu sebagai simbol perdamaian, persahabatan, dan keselamatan bersama lintas bangsa.
“Ini bagian dari misi kami. Kami ingin mengajarkan bahwa budaya kita tidak sekadar indah di mata, tapi juga memiliki nilai spiritual dan filosofi mendalam,” ujar Kukuh tegas.
Kegiatan menempa pusaka itu sengaja dilakukan di Dusun Kajar, di mana terdapat 16 orang yang menjadi anggota paguyuban pandai besi dan bakul di Padukuhan Kajar.
Dahulu, paguyuban ini memiliki 412 anggota pada era 1990-an. Namun kini hanya 16 orang yang masih setia menjaga bara api tungku mereka.
Peserta asal Slovenia, Gregour Slevonia mengaku terpukau dengan budaya Indonesia. Dia merasa sangat senang dengan kegiatan ini karena dirinya memiliki pengalaman berharga.
“Sangat bagus. Saya tidak hanya melihat keris, tapi juga tahu prosesnya. Sangat menarik dan unik,” ujarnya sambil tersenyum bangga.
Peserta asal Amerika Serikat, Todd menuturkan bahwa festival di negaranya hanya menghadirkan pertunjukan layang-layang semata. Namun di Gunungkidul, ia merasakan pengalaman berbeda.
“Biasanya saya hanya bermain layang-layang seperti di India dan Amerika Serikat. Di sini saya bisa menempa besi bersama warga. Sangat luar biasa,” kata Todd dengan wajah penuh decak kagum.
Panitia festival meyakini bahwa kegiatan tempa keris dan celurit ini akan membangkitkan kembali kejayaan kriya logam Gunungkidul.
Mereka ingin membuktikan bahwa tanah tandus kapur Gunungkidul menyimpan bara api kreativitas yang tidak pernah padam meski zaman terus berubah.












