News  

Rentetan Klitih Brutal Bayangi Yogyakarta, JPW Desak Polisi Tangkap Pelaku dan Awasi Titik Rawan

Deretan aksi klitih brutal guncang Yogyakarta, JPW desak langkah tegas aparat. (Freepik)

bernasnews — Keamanan di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali tercoreng akibat maraknya aksi kekerasan jalanan yang dikenal sebagai klitih.

Hingga pertengahan Juli 2025, Jogja Police Watch (JPW) telah mencatat serangkaian kasus brutal yang terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Kulon Progo, Bantul, Sleman, hingga Kota Yogyakarta.

Fenomena ini kembali membangkitkan kecemasan warga dan menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan publik, terutama di malam hari.

Baharuddin Kamba, Kepala Divisi Humas JPW, mengungkapkan bahwa langkah-langkah pemerintah daerah seperti pemberlakuan jam malam bagi remaja ternyata belum mampu meredam kekerasan tersebut.

“JPW mencatat aksi klitih terus terjadi meski sudah ada kebijakan jam malam. Kita perlu langkah lebih menyeluruh untuk menyelesaikan akar masalahnya,” tegasnya seperti dikutip dari kabarjawa.com.

Aksi Klitih Menyebar di Banyak Wilayah

Catatan JPW menyebutkan, insiden pertama terjadi pada Januari 2025 di Jalan Kalurahan Tayuban, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Di bulan yang sama, klitih juga menghantam kawasan Dusun Ngijo, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Bantul.

Sementara di Kota Yogyakarta, kejadian serupa terekam di depan Gedung Asrama Kujang, Jalan Pengok Kidul, Kalurahan Baciro, Kemantren Gondokusuman.

Tak berhenti di situ, kasus lain muncul di Sleman, tepatnya di Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi. Dua warga menjadi korban sabetan gesper dalam serangan mendadak yang terjadi malam hari.

Masuk bulan Februari 2025, kekerasan berlanjut di Dusun Kradenan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman. Laporan ini memperkuat kekhawatiran bahwa klitih telah menjangkiti hampir seluruh kabupaten di wilayah DIY.

Pada Maret, eskalasi kasus makin tinggi. Serangan terjadi di Jalan Siliwangi, Selokan Mataram, Trihanggo, Gamping, Sleman.

Di Bantul, kericuhan muncul di area SPBU Parangtritis, Kretek. Sleman kembali menjadi lokasi klitih di Jalan Kepitu, Turi, meski belakangan diketahui korban mengalami luka akibat menyakiti diri sendiri karena masalah keluarga.

Mei hingga Juli: Klitih Makin Ganas

Memasuki bulan Mei 2025, kejadian berdarah kembali terjadi di Padukuhan Kuton, Tegaltirto, Berbah, Sleman. Seorang pria mengalami luka serius karena disabet gesper.

Sementara itu, pada Juni 2025, tiga pelaku klitih berhasil diamankan aparat di sekitar Terminal Condongcatur, Depok, Sleman. Penangkapan ini sedikit meredakan kecemasan warga, namun belum sepenuhnya menghentikan teror klitih di jalanan.

Ketegangan kembali meningkat di pertengahan Juli 2025. Seorang remaja dari Srimulyo, Piyungan, Bantul, menjadi korban serangan bersenjata tajam di Jalan Piyungan–Prambanan, Wanujoyo, Srimartani.

Luka serius di tangan korban menjadi bukti bahwa aksi kekerasan ini masih berlangsung dan membahayakan siapa pun.

JPW Serukan Aksi Kolektif: Polisi, Orang Tua, dan Masyarakat

JPW menilai penindakan tegas dari aparat masih sangat dibutuhkan, terutama dalam menangkap pelaku yang belum tertangkap. Baharuddin menekankan pentingnya peningkatan patroli rutin, terutama di waktu-waktu rawan.

“Kami meminta polisi menangkap seluruh pelaku klitih yang masih kabur agar tidak menambah keresahan masyarakat,” ujarnya.

Tak hanya menyasar aparat keamanan, JPW juga menyerukan keterlibatan aktif orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka. Baharuddin mengingatkan bahwa remaja yang keluar malam tanpa tujuan jelas sangat rentan menjadi korban maupun pelaku kekerasan jalanan.

“Klitih tidak hanya melukai fisik korban, tetapi juga merenggut ketenangan batin warga Yogyakarta. Semua pihak harus bersatu melawannya sebelum klitih melumpuhkan masa depan generasi muda kita,” tutupnya.

Dengan serangkaian kasus yang tercatat hanya dalam enam bulan pertama tahun ini, klitih tampaknya bukan lagi sekadar gangguan keamanan biasa, melainkan ancaman serius yang memerlukan pendekatan kolaboratif dan solusi jangka panjang. (Eln)