bernasnews – Pendakian gunung merupakan aktivitas yang digemari banyak orang, baik pendaki berpengalaman maupun pemula yang sekadar ingin menikmati pemandangan alam.
Namun, baru-baru ini dunia pendakian Indonesia digegerkan dengan isu kontroversial soal praktik booking area camp di gunung.
Salah satu nama yang terseret dalam kontroversi ini adalah Tiga Dewa Adventure, komunitas open trip asal Semarang yang kini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Lantas, siapa pemilik Tiga Dewa Adventure yang tengah viral ini?
Viral di TikTok: Pendaki Kehabisan Lahan Camp
Isu ini mencuat setelah akun TikTok @siputgunung.id mengunggah video pada awal Juni 2025 yang memperlihatkan pendaki kehabisan tempat mendirikan tenda di Gunung Merbabu, meskipun mereka sudah tiba lebih dulu.
Keterangan dalam video menyebut, “Cape-cape ngejar waktu masih siang buat bikin tenda, eh udah full booking aja ni lahan camp.” Video tersebut langsung viral, disukai lebih dari 26.000 kali dan dikomentari lebih dari 1.800 pengguna.
Tak lama berselang, kejadian serupa terjadi di Pos 3 Gunung Sindoro via Kledung. Seorang pendaki mengaku tendanya diminta dibongkar oleh rombongan open trip karena lahan tersebut sudah “dibooking”.
Netizen menyuarakan bahwa gunung adalah ruang publik dan bukan tempat yang bisa dipesan seperti hotel atau venue pernikahan.
Siapa Pemilik Tiga Dewa Adventure?
Komunitas Tiga Dewa Adventure didirikan pada tahun 2008 di Kota Semarang dan dikenal lewat slogan “You’ll Never Hike Alone.”
Komunitas ini menyelenggarakan open trip ke berbagai gunung populer seperti Merbabu, Semeru, Raung, Prau, dan lainnya. Nama Tiga Dewa Adventure mendadak viral karena diduga terlibat dalam sistem booking area camp, meski belum ada klarifikasi resmi dari pihak mereka.
Pemilik sekaligus pendiri Tiga Dewa Adventure adalah Muhammad Rifqi Maulana, seorang lulusan Magister Ilmu Lingkungan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Rifqi dikenal aktif di media sosial dan menjadi figur sentral dalam komunitas tersebut.
Akun Instagram pribadinya adalah @rifkymaulanaaaa, sementara akun resmi komunitas yaitu @tigadewaadventureindonesia.
Meski Tiga Dewa Adventure selama ini mendapat banyak ulasan positif dari peserta trip, kejadian viral ini menjadi tantangan besar dalam menjaga reputasi komunitas.
Banyak pihak meminta klarifikasi dan menuntut agar praktik booking lahan camp dihentikan karena dianggap mencederai etika pendakian gunung.
Respons Pihak Terkait dan Etika Pendakian
Pihak Balai Taman Nasional Gunung Merbabu telah menyatakan bahwa praktik booking lahan camp tidak diatur dalam peraturan resmi pendakian.
Gunung adalah ruang terbuka yang berlaku prinsip siapa cepat dia dapat. Artinya, sistem booking tenda secara sepihak bisa menimbulkan konflik antar pendaki dan menciptakan ketidaknyamanan.
Para pendaki senior juga menegaskan pentingnya etika berbagi ruang di alam bebas, termasuk tidak mengusir pendaki lain, tidak mengklaim area camp secara eksklusif, dan mendahulukan prinsip kebersamaan.
Kontroversi Tiga Dewa Adventure menjadi momentum penting bagi semua pelaku open trip dan komunitas pendaki untuk kembali meninjau praktik yang mereka jalankan.
Siapa pun pemilik komunitas, termasuk Muhammad Rifqi Maulana, kini berada dalam sorotan publik dan diharapkan memberi klarifikasi resmi. Yang pasti, gunung bukan milik pribadi melainkan milik bersama yang harus dijaga dengan etika dan rasa hormat antar pendaki.
***












