Berikut 4 Fakta Sejarah, Kemunculan Kembali Rawa Kalibayem di Kabupaten Bantul

Wajah kekinian Rawa Kalibayem, yang berlokasi di Desa Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews — Rawa Kalibayem yang berlokasi di Desa Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY. Bendungan buatan yang pernah viral sebagai obyek wisata dan tujuan para penghobi gowes saat sebelum pandemi Covid-19 ini, mempunyai fakta sejarah menarik untuk disimak.

Fakta Pertama, Rawa Kalibayem merupakan bendungan karya Sultan HB VII yang dibangun tahun 1941 sebagai tempat wisata Kraton Yogyakarta itu, pernah “hilang” berubah menjadi hamparan sawah dan sebagian lagi menjadi tanah pemukiman penduduk.

Kemunculannya kembali pada tahun 2003 sempat membikin heboh, setelah hujan sangat deras pada waktu itu mengakibatkan hamparan tanah sawah tersebut ambles dan kembali menjadi rawa hingga kini. Letaknya membelah dua dusun, yakni Dusun Sidoreja dan Dusun Sonopakis, Desa Ngestiharjo.

Fakta Kedua, Kemunculan kembali Rawa Kalibayem juga disertai kemunculan barang-barang bersejarah lainnya, diantaranya prototipe kapal selam mini. Konon pada jaman penjajahan Jepang, rawa ini juga sebagai tempat uji coba peralatan perang yang pembuatannya di Pabrik Besi Purosani, Jalan Suryotomo, Yogyakarta, yang kini telah menjadi bangunan hotel berbintang.

Selain itu, juga masih ada sisa bangunan rumah milik warga yang konon bekas rumah makan zaman kolonial bertahun 1941 serta berserakan beberapa patung penghias taman.

Fakta Ketiga, keberadaan patung-patung taman yang waktu itu ikut bermunculan bersamaan dengan kemunculan Rawa Kalibayem merupakan bukti bahwa area sekitar rawa pernah menjadi laboratorium seni patung para mahasiswa ASRI (sekarang ISI Yogyakarta).

Fakta Keempat, Rawa Kalibayem dipercantik dengan pemasangan paving blok di sekelilingnya dan pembangunan monumen patung raksasa “Semar Seta” (Semar Putih) di tengah rawa. Diresmikan oleh Bupati Bantul Drs. H. Suharsono, pada tanggal 27 Februari 2020.

Pernah populer menjadi destinai wisata air dan tujuan para goweser (penghobi sepeda), serta pameran bonsai tingkat DIY. Juga berbagaifasilitas wisata air seperti gethek bambu, becak air, dan lapak-lapak kuliner di pinggiran rawa.

Setelah beberapa tahun mangkrak akibat pandemi melanda yang juga meluluh lantakan dunia pariwisata, khususnya obyek-obyek wisata alam buatan di manapun. Rawa Kalibayem kini kembali bersih dan asri, bahkan di sisi selatannya muncul sebuah resto dan kafe dengan bangunan yang menarik dan artistik.

Untuk menjangkau destinasi wisata Rawa Kalibayem cukup mudah, dari Titik Nol Kota Yogyakarta ke barat hingga pertigaan Jalan Wates ke selatan arah Kampus UPY dan PUKJ, kemudian ke selatan lagi lebih kurang dua kilometer. (ted)