News  

Agenda Hari Buruh 1 Mei 2025, Apakah Ada Demo di Jakarta?

Ilustrasi Titik Lokasi Demo Jogja 1 September Perlu Dihindari Beserta Tuntutan Massa/Unsplash

bernasnews – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei 2025 diprediksi akan menjadi momentum besar bagi para pekerja di Indonesia.

 

Ribuan buruh dari berbagai daerah akan berkumpul, membawa aspirasi dan harapan terhadap masa depan dunia kerja. Lantas, bagaimana agenda peringatan tersebut? Apakah akan ada aksi demonstrasi?

Lapangan Monas Jadi Pusat Kegiatan Utama

Jakarta akan menjadi pusat perayaan Hari Buruh pada tahun ini. Sekitar 200.000 buruh dijadwalkan memadati Lapangan Monumen Nasional (Monas) sebagai titik utama peringatan.

Mereka berasal dari berbagai wilayah di sekitar Jakarta, termasuk Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, Karawang, Purwakarta, Serang, hingga Cilegon.

Tidak hanya di ibu kota, peringatan May Day juga akan berlangsung serentak di lebih dari 30 provinsi di Indonesia. Total peserta diperkirakan mencapai 1,2 juta buruh.

Kegiatan ini akan diwarnai orasi, selebrasi, dan penyampaian tuntutan terhadap pemerintah, yang digadang-gadang sebagai wujud nyata perjuangan buruh di tengah berbagai tantangan ketenagakerjaan.

Isu Sentral: Enam Tuntutan Utama Buruh

Menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, ada enam isu utama yang diangkat dalam May Day 2025. Para buruh menuntut:

  1. Penghapusan sistem kerja outsourcing yang dinilai merugikan pekerja.
  2. Pembentukan Satuan Tugas Pemutusan Hubungan Kerja (Satgas PHK) untuk menekan angka PHK sepihak.
  3. Penetapan upah layak yang sesuai dengan kebutuhan hidup layak (KHL).
  4. Revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan untuk memperkuat perlindungan hak buruh.
  5. Pengesahan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT).
  6. Pemberantasan korupsi melalui pengesahan RUU Perampasan Aset.

Said Iqbal menekankan bahwa Hari Buruh bukan semata-mata hari libur nasional, melainkan waktu yang tepat untuk menyuarakan hak-hak pekerja secara kolektif.

Apakah Akan Ada Unjuk Rasa?

Agenda utama di Monas akan diisi oleh panggung orasi serta pernyataan sikap dari perwakilan serikat buruh.

Meskipun biasanya peringatan Hari Buruh identik dengan unjuk rasa, tahun ini pendekatan yang diambil cenderung bersifat selebratif dan damai.

Hal ini ditegaskan oleh pernyataan Partai Gerindra sebelumnya, yang mendukung deklarasi tuntutan asalkan tidak berbentuk demonstrasi.

Lokasi-lokasi alternatif seperti Jakarta International Stadium (JIS) atau Istora Senayan juga sempat dipertimbangkan untuk deklarasi sebelas tuntutan buruh oleh Partai Buruh, namun keputusan akhir tetap pada Lapangan Monas.

Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadir

Yang menarik, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, disebut akan hadir langsung dalam perayaan Hari Buruh tahun ini.

Hal tersebut diungkapkan oleh Said Iqbal dalam konferensi pers daring pada Kamis, 24 April 2025. Jika kehadiran Prabowo benar-benar terwujud, maka ia akan menjadi presiden kedua yang secara langsung menghadiri perayaan May Day, setelah Presiden Soekarno yang hadir pada tahun 1965 di Gelora Bung Karno.

Kehadiran presiden dalam peringatan Hari Buruh sebenarnya sudah lazim terjadi di berbagai negara sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi kelas pekerja.

Bagi kalangan buruh sendiri, momentum ini menjadi harapan besar agar pemerintah memberikan respons positif terhadap tuntutan mereka.

Harapan Buruh dari Pemerintah

Di antara enam tuntutan yang diajukan, penghapusan outsourcing menjadi isu yang paling disorot. Buruh berharap Presiden Prabowo memberi “hadiah” berupa penghapusan sistem kerja tersebut.

Said Iqbal menyampaikan bahwa Prabowo sebelumnya sudah menyatakan kesepakatannya atas pembentukan Satgas PHK. Sementara untuk pengesahan RUU lainnya, proses selanjutnya tetap berada di tangan legislatif bersama pemerintah.

Dengan kehadiran Presiden dalam acara tersebut, buruh berharap ada sinyal kuat dari pemerintah dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Hal ini menjadi simbol pengakuan terhadap eksistensi buruh sebagai pilar penting dalam pembangunan nasional.

Peringatan Hari Buruh 1 Mei 2025 akan menjadi momen bersejarah, bukan hanya karena skala kehadiran massal para buruh, tetapi juga karena kemungkinan hadirnya pemimpin negara untuk mendengarkan langsung suara mereka.

Meskipun nuansa demonstratif tetap ada, acara diprediksi akan berlangsung tertib dan penuh makna. Sebuah harapan besar menggantung di langit Monas—bahwa jeritan para buruh tidak hanya akan terdengar, tetapi juga ditindaklanjuti.

***