News  

Mengenang Hamzah Sulaiman: Pendiri The House of Raminten dan Maestro Budaya Yogyakarta

Hamzah Sulaiman, pemilik Hamzah Batik dan The House of Raminten meninggal dunia (Instagram.com/@batikhamzahofficial)

bernasnews – Kabar duka datang dari Yogyakarta. Hamzah Sulaiman, sosok di balik karakter Raminten sekaligus pendiri restoran ikonik The House of Raminten, wafat pada Rabu malam, 23 April 2025, pukul 22.34 WIB di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

Tokoh budaya yang dikenal luas dengan kontribusinya di bidang kuliner, seni, dan sosial ini tutup usia di umur 75 tahun.

Sosok di Balik Karakter Raminten

Nama Hamzah Sulaiman identik dengan karakter Raminten—tokoh perempuan Jawa bergaya klasik yang diperankannya dalam sebuah program televisi lokal.

Berkat ciri khas busana kebaya, jarik, serta konde, Raminten menjadi simbol keunikan budaya Jawa yang dikemas secara kreatif dan menghibur.

Tak berhenti di dunia seni peran, karakter ini kemudian menjadi nama restoran populer di Yogyakarta, yakni The House of Raminten, yang berdiri sejak 26 Desember 2008.

Riwayat Hidup dan Karier Bisnis

Hamzah lahir pada 7 Januari 1950 dari pasangan Hendro Sutikno (Tan Kiem Tik) dan Titi Yuniati (Nyoo Tien Nio), pendiri usaha Mirota Group.

Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Di usia muda, Hamzah sempat merantau ke luar negeri dan bekerja di kapal pesiar, bahkan sempat menetap di Amerika Serikat selama tiga tahun.

Namun, ia kembali ke Indonesia untuk melanjutkan bisnis keluarga seiring menurunnya kondisi kesehatan sang ayah.

Setibanya di Tanah Air, Hamzah mengembangkan usaha batik yang kini dikenal sebagai Hamzah Batik di kawasan Malioboro.

Selain itu, ia juga membesarkan nama restoran The House of Raminten yang menggabungkan unsur budaya, kuliner khas, dan suasana tradisional yang unik.

Abdi Budaya, Seniman, dan Tokoh Inklusif

Hamzah dikenal sebagai seorang seniman sejati. Ia aktif dalam dunia seni tari dan teater, serta mendirikan Raminten Cabaret Show yang membuka ruang bagi keberagaman, termasuk bagi komunitas LGBTQ+.

Sebagai bentuk pengabdian terhadap budaya Jawa, ia menjabat sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hamiji Nindyo.

Kontribusinya diabadikan dalam film dokumenter bertajuk Raminten Universe, karya sutradara ternama Nia Dinata, yang tayang perdana pada tahun 2024.

Film tersebut merekam perjalanan hidup Hamzah sebagai pejuang budaya yang konsisten memperkenalkan nilai-nilai tradisional dengan cara yang segar dan penuh makna.

Meninggalkan Warisan yang Abadi

Kepergian Hamzah Sulaiman meninggalkan duka mendalam, terutama bagi masyarakat Yogyakarta yang selama ini mengenalnya sebagai figur inspiratif.

Ucapan belasungkawa membanjiri media sosial, termasuk dari akun resmi @houseoframinten yang menyebut beliau sebagai guru, pemimpin, dan panutan sejati.

Jenazah Hamzah disemayamkan di Perkumpulan Urusan Kematian Jogjakarta (PUKJ), Kasihan, Bantul, dan direncanakan untuk dikremasi pada Sabtu, 26 April 2025.

Hamzah Sulaiman bukan hanya seorang pengusaha sukses, tetapi juga pelestari budaya yang mengemas nilai-nilai Jawa dalam balutan seni dan kuliner.

Ia telah membuka jalan bagi generasi muda untuk mencintai dan merayakan budaya lokal dengan cara yang kreatif.

Warisan yang ditinggalkannya melalui The House of Raminten dan karya-karya seni lainnya akan terus hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya Yogyakarta.***