News  

Outlook Bisnis dan Ekonomi DIY Tahun 2025: Pariwisata Masih Jadi Andalan dalam Pertumbuhan Ekonomi

Narasumber dan Moderator Diskusi & Outlook Bisnis dan Ekonomi DIY Tahun 2025, bertempat di Ruang Istimewa Lantai 7, Kantor Pusat Bank BPD DIY, Jalan Tentara Pelajar, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews — KADIN DIY, Bank BPD DIY, dan ISEI Cabang Yogyakarta menggelar Diskusi & Outlook Bisnis dan Ekonomi DIY Tahun 2025. Kegiatan bertajuk “Opportunies, Challenges and Strategies for Growth” ini, dilaksanakan bertempat di Ruang Istimewa Lantai 7, Kantor Pusat Bank BPD DIY, Jalan Tentara Pelajar, Yogyakarta, Senin (23/12/2024).

Menghadirkan narasumber Arya Jodilistyo dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Wakil Ketua KADIN DIY Robby Kusumaharta, Gumilang Arya Sahadewa dari ISEI Cabang Yogyakarta/ FEB UGM, Ike Janita Dewi dari GIPI DIY/ FE USD. Adapun sebagai moderator Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta/ FEB UAJY.

Direktur Utama Bank BPD DIY dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Kepatuhan Dian Ari Ani mengucapkan selamat datang dan berharap dalam kegiatan ini bisa saling ngangsu kawruh, berdisikusi dan berbagi pengalaman dalam upaya mewujudkan kemajuan perekonomian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Dapat kami sampaikan Bank BPD DIY saat ini memasuki usia 63 tahun pada 15 Desember 2024. Bank BPD DIY dapat terus tumbuh positif dengan Total Modal Inti Bank BPD DIY hingga November 2024 telah mencapai Rp 3,89 Triliun,” ujar Dian.

Visi Bank BPD DIY yaitu menjadi bank terpercaya, istimewa, dan pilihan masyarakat. Visi tersebut kini disatukan dengan terwujudnya “Pancamulia” sebagai dasar RPJMD 2022-2027 melalui “Reformasi Kalurahan, Pemberdayaan Kawasan Selatan, dan Pengembangan Budaya, Inovasi, dan Pemanfaatan Teknologi Informasi.

“Juga disatukan dengan “Asta Cita” sebagai delapan misi Presiden-Wakil Presiden untuk mewujudkan visi yaitu “Bersama Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045”, guna menjadi pedoman Bank BPD DIY dalam melangkah ke depan untuk berkembang semakin baik dengan fokus utama pada sektor UMKM,” ujarnya.

“Secara umum sampai dengan bulan November 2024 kinerja Bank BPD DIY tercatat baik. Dengan tetap mampu mempertahankan tingkat kesehatan bank pada Pringkat Komposit 2 (PK-2) yang mencerminkan kondisi bank secara umum sehat,” tandas Dian.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua ISEI Cabang Yogyakarta Prof. Didi Achjari mengemukakan ada beberapa isu yang dapat menjadi bahan diskusi kali ini yaitu pertumbuhan ekonomi, pariwisata, juga pendidikan. Menurutnya, yang lagi eforia adalah PNN 12persen apakah akan bisa meningkatkan perekonomian atau justru akan mengerem, tentu akan menjadi topik yang hangat dalam diskusi.

“Dari sisi pertumbuhan ekonomi DIY  2024 tumbuh 5persen, kemudian pada tahun 2025 diperkirakan masih dalam kisaran 5,2 – 5,5 persen atau secara moderat bisa mendekatai 6persen,” kata Prof. Didi. Kemudian pada tahun 2025 kita masih menghadapi ancaman bahwa kita masih menghadapi stagnasi ekonomi sekuler yang membosankan masih diangka 5 persen.

Sementara dari sisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah proyek pembangunan jalan tol Solo Jogja dan Bawen-Jogja, semoga tidak dihentikan. “Dari sisi Pariwisata, kegiatan beserta turunannya masih menjadi penggerak perekonomian DIY. Juga dari sisi lama tinggal wisatawan (Long of Stay) lebih ditingkatkan agar nilai dari belanja wisatawan meningkat, terkait pemberdayaan UMKM ke depan,” beber Prof. Didi.

Selanjutnya, Arya Jodilistyo sebagai nara sumber pertama memaparkan kondisi dan tantangan DIY diantaranya, uapaya meningkatkan kinerja ekspor, masih adanya ketimpangan antar wilayah, long of stay wisatawan masih rendah, adanya alih fungsi lahan pertanian dan dampat tensi geopolitik terhadap harga komoditas.

“Sehingga perlu mendorong keberlanjutan reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing ekonomi daerah, berupa penguatan lapangan usaha utama untuk menjaga resillensi ekonomi daerah. Memperkuat sinergi kolaborasi dalam strategi antisipasi pengendalian inflasi. Penguatan iklim investasi untuk mendorong multiplier effect perekonomian daerah,” ujar Arya.

Tekanan inflansi DIY tahun 2024 dan 2025 diperkirakan lebih rendah dibandingkan realisasi 2023 dengan persyaratan kecukupan bahan pangan pokok strategis. Sinergi kebijakan yang lebihkuat antara pemerintah baik pusat dan daerah, serta Bank Indonesia melalui implementasi GNPIP dan optimalisasi anggaran pemerintah untuk pengendalian inflansi pangan, diharapkan dapat mengarahkan inflansi dalam sasaran inflasi 2,5 plus minus 1 persen.

Menurut Arya, faktor penahan inflasi 2025 meliputi diversifikasi alternatif moda transportasi seiring beroperasinya Jalan Tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo-YIA yang ditargetkan selesai pada tahun 2025 sehingga menahan tekanan permintaan angkutan udara lebih tinggi. Prakiraan inflasi pangan yang lebih terkendali seiring cuaca yang lebih kondusif atau menuju netral di tahun 2025. Indikasi daya beli masyarakat terhadap barang sekunder maupun tersier yang lebih rendah sehingga menahan inflasi inti.

“Sedangkan faktor pemicu inflasi 2025 adalah berlanjutnya kondisi ketidakpastian global yang berdampak pada tingginya potensi imporeted inflation. Penyusaian harga jual industi barang-barang pokok dimana pada tahun sebelumnya pelaku usaha masih menaikkan harga. Kenaikan harga BBM seiring vlotilitas harga minyak dunia dan kondisi defisit APBN berlebih,” jelas Arya.

Sementara itu, Robby Kusumaharta memebrikan catatan bahwa kondisi ekonomi di DIY tahun 2025 akan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Indonesia dan dunia yang menurutnya “sedang tidak baik-baik saja”. Kondisi ekonomi Indonesia tahun depan akan dipengaruhi oleh kenaikan PPN 12% sehingga beberapa industri mengalami “slowdown” bahkan terjadi PHK.

“Pertumbuhan ekonomi DIY diperkirakan antara 4,83 – 5,27% (yoy). Diperkirakan terjadi perlambatan ekspor di DIY, khususnya pada industri TPT, penurunan nilai ekspor Provinsi DIY pada tahun 2025 sbesar 1,7% (yoy) diperkirakan dinilai U$430,41 Juta. Proyeksi ini dibuat dengan mempertimbangkan faktor geo-fragmented, perlambatan perekonomian, gejala “dutch disease” nilai investasi baik PMDN serta PMA dan kebijakan kenaikan upah di dalam negeri,” papar Robby.

Menurut Wakil Ketua KADIN DIY, optimalisasi YIA sebagai salah satu pintu ekspor DIY dan pintu masuk wisatawan asing harus segera direalisasi. Kuncinya sinergi dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Evenomic berupa MICE dan event lainnya dapat menjadi mesin pertumbuhan baru bagi pariwisata dan ekonomi kreatif DIY.

“Investasi perlu ditingkatkan, termasuk sektor jasa melalui multi event, artisan dan red-hot industry. DIY membutuhkan iklim investasi yang pro bisnis yang identik dengan kecepatan dan efisiensi,” tegas Robby, yang juga pelaku usaha senior.

Narasumber, Moderator, Penyelenggara dan beberapa tamu tokoh foto bersama. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

Ike Janita Dewi menyatakan pariwisata global paska Covid telah pulih sehingga dampak konflik Rusia-Ukraina dan kawasan Timur Tengah menjadikan peluang bagi destinasi di Asia Tenggara sebagai kawasan yang aman. “Namun jua adanya persaingan antardestinasi yang semakin intens dimana Thailand menyederhanakan prosedur imigrasi melalui Electronic Travel Authority (ETA),” katanya.

ETA menyerdehanakan proses pengajuan visa, sehingga pelancong bisa memperoleh otorisasi secara daring tanpa perlu dokumen kertas atau kunjungan langsung ke kedutaan atau konsulat. “Malaysia memberlakukan kebijakan bebas visa dan mempromosikan destinasinya secara agresif sekaligus stratejik,” ungkap Ike.

Target kunjungan atau pergerakan wisatawan secara nasional akan berdampak pada breakdown target ke DIY. Pengembangan desa wisata tetap menjadi prioritas nasional, Kementerian Pariwisata memberikan perhatian pada penembangan 6064 desa wisata di Indonesia.

“Menjadi tantangan bagi Yogyakarta, pengembangan kampung wisata yang berdaya saing, berkualitas dan berkelanjutan. Daya saing kampung wisata yakni kualitas produk, SDM dan amenitas wisata. Sedangkan kualitas meliputi spending wisatawan yang perlu ditingkatkan dan kampung wisata yang berkelanjutan soal isu lingkungan masih menjadi permasalahan bersama,” kata Ike.

Fokus pasar wisatawan mancangara meliputi fokus pasar utama yang terdiri Malaysia, Singapura dan Thailand. Adapun pemeliharaan pasar tradisional adalah Jepang, Belanda, Perancis, dan Jerman. “Fokus tema produk untuk tahun 2025, desa wisata plus homestay dan sport tourism. Nilai penting market brief untuk pengembangan tahun 2025, perancanan produk harus mengikuti terget market segments dan pentingnya marketintelegence. Banyak segmen pasar mementingkan aksesibilitas seingga direct flights menjadi sangat penting,” ujar Ike.

Selanjutnya di sesi terakhir,  Gumilang Arya Sahdewa mengungkapkan belum adanya skema pembiayaan atau pinjaman untuk perguruan tinggi, dengan bungarendah. Di Indonesia saat ini belum ada sehingga yang masuk baru pinjol. “Mereka yang memakai adalah mereka yang telah memiliki penghasilan namun ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seper S2 atau S3,” jelasnya.

Gumilang juga menyampaikan pentingnya memperkuat  sinergi dan kolaborasi oleh Pemda DIY guna antisipasi inflasi dan penguatan ekonomi. Dengan memperbanyak pelatihan, training dan kerja sama dengan perguruan tinggi yang ada. (ted)