bernasnews — Kata konsisten menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek. Konsistensi adalah hal yang penting dalam berbagai aspek kehidupan, seperti karier, mencapai cita-cita maupun dalam bisnis atau mengelola usaha.
Arti konsisten adalah kemampuan untuk bertindak secara teratur, stabil, dan berkelanjutan dalam mengikuti rencana atau upaya yang telah ditetapkan sebelumnya. Banyak bisnis tumbang gegara pewaris berikutnya tidak dapat menjaga konsistensi yang telah ditetapkan oleh pendirinya.
Menjaga konsistensi terutama usaha kuliner harus benar-benar dilakukan, selain dari segi cita rasa kuliner yang menjadi prioritas juga dalam pelayanan terhadap konsumen. Konsistensi dua faktor ini mutlak harus dijaga sehingga meskipun tempat usahanya pindah lokasi, pelanggan pun akan tetap mencarinya.
Hal itu seperti yang dilakukan oleh pengelola Warung Pecel Ndeso dan Mangut Lele Yu Temu. Warung ini berdiri sejak tahun 1985, dahulu juga sering disebut warung pecel nggirli (pinggir kali) karena tepat terletak di pinggir Sungai Bedog yang membelah dusun Tempuran, Sembungan, Kelurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY.
Awal mula usaha kuliner ini dirintis oleh Mbah Atmo yang kemudian diteruskan oleh putrinya yang akrab dipanggil Yu Temu. Lantaran juga telah uzur dan tidak kuat lagi untuk mengelolanya, usaha warung itu dilanjutkan oleh Mbak Rub, putrinya yang merupakan generasi ke tiga atau cucu Mbah Atmo.
Meskipun warung ini sejak tanggal 20 Maret 2022, telah pindah atau tepatnya bergeser dari tempat semula kurang lebih 50 meter, dengan bangunan yang lebih resprestatif tidak membuatnya surut bahkan pelanggannya meningkat. Pasalnya sebagai pengelola generasi ke tiga, Mbak Rub selalu menjaga secara konsisten apa-apa pesan dari simbahnya maupun ibunya.
“Soal cita rasa benar-benar saya jaga, salah satu contohnya adalah dalam pembuatan bumbu mangut dulu simbah dan ibu pakai kencur, sunti (bumbu rempah) saya dalam meracik bumbu juga sama. Begitu pula dalam pembuatan bumbu pecel, untuk menumbuk kacangnya masih kami lakukan dengan cara lama, ditumbuk dengan alu di dasaran lumpang batu,” terang Mbak Rub, kepada bernasnews, beberapa waktu lalu.
Saat ditanya tentang perhatian dari pemerintah baik berupa bantuan maupun pelatihan yang kekinian baru digalakan terkait pengembangan UMKM, ibu yang murah senyum itu mengaku belum pernah sama sekali. “Sejak dari mendampingi jualan simbah, kemudian simbok (ibu) dan sekarang belum pernah ada. Jika ada pelatihan tentang usaha kuliner sungguh berterima kasih, hanya saja waktunya jangan siang atau waktu pas warung buka,” ujar Mbak Rub.
Warung Pecel Ndeso dan Mangut Lele Yu Temu buka setiap hari, jam 08:00 WIB hingga dagangan habis. Libur atau tutup pada hari Minggu atau jika ada kepentingan keluarga. Tempatnya cukup mudah dijangkau terletak di barat daya Kota Yogyakarta. Arah menuju ke lokasi, bisa dari arah Desa Wisata Kasongan atau dari arah Pabrik Gula Madukismo, Bantul.
Selain pecel ndeso, masakan istimewa lainnya yaitu mangut ikan lele dengan kuah santan encer seperti gulai ikan, berbeda dengan mangut lele pada umumnya yang berkuah kental. Mangut lele Yu Temu terasa segar. Pembeli dapat mengatur kepedasan kuah dengan cara menumbuk cabai yang dimasak dalam mangut itu. Juga dihidangkan lauk aneka macam baceman, tahu, tempe, gembus, dan tempe koro. “Untuk hari-hari tertentu juga ada menu temporer sepert soto, lodeh, dan brongkos,” pungkasnya. (ted)












