News  

Toko Kopi Tuku Bertamu ke Yogyakarta, Sapa Pencinta Kopi Lebih Dekat

Toko Kopi Tuku bertamu ke Yogyakarta. (Foto : Wulan/ bernasnews)

bernasnews – Toko Kopi Tuku, salah satu kafe kopi ternama dan tengah populer di wilayah Jabodetabek menyapa lebih dekat para pencinta kopi yang ada di Yogyakarta.

Kehadiran mereka di Jogja itu telah sukses dilakukan di sejumlah lokasi sejak  19-25 Juli 2024 di sejumlah lokasi, seperti Klinik Kopi, Bloomery Taman Siswa , Bloomery Jalan Kaliurang, Minarwati dan ditutup aktivasi dengan Warung Kopi Raharja di Amri Museum and Art Gallery.

Dalam kesempatan ngobrol bareng awak media, Founder & CEO Toko Kopi Tuku, Andanu Prasetyo menceritakan perjalanan usaha yang sudah ia tekuni selama kurun waktu 9 tahun terakhir ini. Mulanya, ia terinspirasi oleh budaya kopi yang hidup di Melbourne, Australia.

Melbourne dengan anera macam coffee shop yang inovatif dan fokus pada kualitas turut memberikan pengalaman berharga bagi Tyo untuk kemudian ia tuangkan dalam sentuhan milik TUKU. Bagi Tyo, kedatangannya ke Jogja ini juga lekat dengan kehangatan dan keramahan khas yang mencuri harinya. 

“Melihat bagaimana budaya ngopi angkringan di pinggir jalan kota Jogja sangat erat dengan nilai kebersamaan dan tradisi. Hal itu saya hadirkan sajian TUKU. Jogja selalu punya tempat spesial di hati. Rasa ketetanggaan yang hangat dan bersahabat selalu menjadi inspirasi bagiku dalam mengembangkan TUKU,” ujar Tyo dalam acara Media Gathering di Warung Kopi Raharja.

Tyo mengatakan peluang market di Yogyakarta untuk menikmati produk dari TUKU cukup besar. Namun sampai saat ini ia belum membuka toko paten di wilayah ini. Tyo mengatakan bukan tanpa alasan mengapa dirinya belum menghadirkan di Jogja sementara saat ini terhitung sudah ada 67 gerai yang tersebar di berbagai daerah lainnya.

Kata dia, masih melakukan riset yang mendalam tentang culture ngopi di Yogyakarta ini masih terus dipelajari. Sebab, jika hanya sekedar mengikuti tren, maka Kopi TUKU tak beda dengan kopi-kopi lainnya.

“Rasa ketetanggaan yang hangat dan bersahabat selalu menjadi inspirasi bagiku dalam mengembangkan TUKU,” ucap dia.

“Saat ini kami masih observasi untuk menyesuaikan budaya di Jogja karena Jogja juga terbentuk dari berbagai macam komunitas. Selain itu di Jogja banyak coffee shop, jadi kami masih mencari konsep yang pas karena kami ingin TUKU ini sustain di Jogja. Saya melihat di Jogja ini peluangnya besar, kami sudah berjejaring dan merasa ada ruang buat kami,” terangnya.

Tyo mengaku Kota Jogja sangat menantang. Pada 2022, sekitar 3.000 kedai kopi hadir di kota ini dan mencatatkan Jogja sebagai kota dengan kedai kopi terpadat di Indonesia.

Kendati begitu, Tyo menuturkan cukup sering berkolaborasi dengan beberapa bisnis lokal, TUKU menyapa Tetangga (panggilan untuk pelanggan dan penikmat kopi TUKU-red) Yogyakarta, yang menantikan berbagai menu kopi dan kudapan khas. Sajian yang sebelumnya hanya bisa dinikmati saat TUKU hadir dalam event-event lokal seperti Yogyakarta X Beauty, LOL Yk dan Prambanan Jazz Festival dan saat ini.

“Semoga menyusul segera di Jogja. Tentu kami harus kulo nuwun dulu, dan terlebih dulu belajar banyak dengan warga Jogja. Ini tantangan, karena Jogja juga padat dengan pendatang,” tandasnya. (lan)