bernasnews — Semenjak TPA Piyungan ditutup dan pengelolaan sampah dilakukan desentralisasi diserahkan kepada masing – masing wilayah. Hal itu menjadikan persoalan seperti masyarakat membuang sampah di sembarang tempat. Juga ada beberapa okunum warga yang mempunyai lahan menyediakan lahan yang dimiliki sebagai tempat pembuangan sampah, dengan biaya dalam jumlah tertentu tanpa memikirkan lingkungan dan dampak ke depannya.
Sementara Kabupaten Sleman sendiri baru mempunyai dua TPST, yang hanya menerima sampah anorganik yang akan diproses menjadi RDF. Adapun sampah organik masih menjadi persoalan. Untuk ke depan direncanakan untuk Sleman akan dibangun 20 TPS 3R dan untuk Kapnewon Gamping sendiri rencana akan dibangun 2 TPS 3R.
Berkenaan hal itu, Pemerintah Kapanewon Gamping menyelenggarakan kegiatan diskusi serta bertukar informasi tentang pengelolaan sampah, bertempat di aula kantor setempat, Rabu (29/5/2024). Kegiatan ini sebagai penyegaran bagi para penggiat lingkungan hidup antara lain bank sampah dan sedekah sampah yang ada di wilayah Kapanewon Gamping.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Kepala Jawatan Kemakmuran kapanewon Gamping Budiyanto, S.E dan dihadiri oleh perwakilan pengurus bank sampah dan sedekah sampah dari 5 kalurahan di Gamping, Panewu Anom Kapanewon Gamping R. Hery Subagio,S.E.,M.E. Juga nara sumber Haryadi dari Desa Wisata dan penggiat lingkungan dari Padukuhan Sukunan.
Mewakil Panewu Gamping, Hery Subagio dalam sambutannya mengatakan, bahwa Gamping mempunyai desa wisata dengan daya tariknya masalah pengelolaan sampah yang sudah ada sejak tahun 2004. Menurut Hery, sehingga dalam situasi seperti sekarang ini diperlukan kelompok – kelompok pengelola sampah yang mandiri dan diharapkan bisa seperti di Sukunan, yang sudah mengelola semua jenis sampah.
“Harapannya masyarakat dalam membuang sampah tidak hanya asal membuang tapi sampahnya dikelola menjadi produk – produk yang dapat berguna dan bernilai ekonomis,”ucap Panewu Anom Gamping.
Sementara itu, Haryadi selaku narasumber menyampaikan konsep dasar komunikasi yang akan dilakukan dalam melakukan edukasi kepada masyarakat agar Masyarakat peduli dengan sampah. Menurut dia, dalam berkomunikasi harus mengetahui beberapa hal, seperti masalah dalam penyampaian, teknik penyampaian, pemilihan kata yang baik, variasi suara serta ekspresi wajah dan yang paling penting adalah menguasai materi.
“Dari hal tersebut maka apa yang kita dengar kita lupa, apa yang kita lihat kita ingat dan apa yang kita kerjakan kita pahami karena pengalaman adalah guru yang terbaik,” ungkap Haryadi. (nun)












