Wisata Alam Telaga Jonge Semanu, Mempesona dan Unik karena Pengunjung Harus Tukarkan Koin untuk Belanja

Penampakkan suasa Telaga Jonge, di Padukuhan Kuwangan Lor , Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Gunungkidul, DIY. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

bernasnews — Kabupaten Gunungkidul sering mendapat julukan daerah seribu pantai sebagai tujuan wisata karena saking banyaknya pantai dan masing-masing memiliki pesona tersendiri, di antara sela-sela barisan pegunungan seribu. Selain itu, juga memiliki banyak telaga dengan pemandangan alam sekitarnya yang tak kalah menariknya sebagai destinasi wisata.

Salah satunya adalah Telaga Jonge, telaga alam (bukan buatan) sudah ada sejak zaman dahulu kala dimana airnya tak pernah surut ataupun kering meskipun saat musim kemarau. Telaga yang mempunyai luas kurang lebih 4 hektar ini, berada di Padukuhan Kuwangan Lor, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Gunungkidul, DIY.

Telaga Jonge oleh masyarakat sekitar juga dijadikan sebagai ajang untuk melakukan ritual budaya yang diselenggarakan setiap setahun sekali, tepatnya pada hari Jumat Legi dipertengahan tahun. Gelaran berupa acara sedekah kenduri (Sedekah Pepunden) yang disertai kegiata bersih telaga itu telah menjadi agenda tahunan pariwisata setempat.

Suasana pinggiran Telaga Jonge, dengan jalanan berupa konblok untuk wisatawan. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

Berdasar keterangan warga, Budi dari Pokdarwis selaku pengelola saat ditemui bernasnews, mengatakan, bahwa sejak diresmikan pada tahun 2018, arena Destinasi Digital Pasar Telaga Jonge, yang menyediakan berbagai kulinar pengunjung  mulai rame berdatangan  terutama hari Sabtu dan Minggu, serta hari libur nasional.

“Meskipun pada hari – hari biasa pengunjung juga lumayan banyak yang menikmati kuliner yang ada sembari menikmati pemandangan telaga,” terang Budi, kepada bernasnews, beberapa waktu lalu.

Selain kuliner dan tempat ritual, Telaga Joge telah dilengkapi dengan fasilitas umum seperti toilet,  mushola, arena bermain air atau wisata air, dengan pemandangan telaga yang teduh. Juga disediakan bangunan pendopo untuk menyelanggarakan acara dan pertemuan – pertemuan.

“Keunikan di sini jika pengunjung akan berbelanja menikmati kuliner yang ada harus menukar koin/ keping terlebih dahulu di tempat penukaran keping Tlogo Jonge dengan nilai tukar perkepingnya minimal dua ribu rupiah dan kelipatnnya. Penukaran keping ini berlaku pada hari Sabtu – Minggu dan libur nasional atau kalau ada event. Pengunjung bisa menukarkan sesuai kebutuhan,” beber Budi.

Lapak-lapak kuliner yang berada di area pinggiran Telaga Jonge, Semanu. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

Pihaknya juga berharap, agar Telaga Jonge ini dari beberapa pihak seperti Bumdes dan yang lainnya bisa  berkolaborasi mengelola telaga ini. Pasalnya sekarang yang mengelola baru Pokdarwis karena ini merupakan  wisata yang berbasis masyarakat.

Sementara itu, untuk mendatangkan wisatawan atau menarik pengunjung ke Telaga Jonge juga sering diadakan event – event kebudayaan, jathilan dan kesenian lainnya. Adapun para pedagang yang ada di lokasi Telaga Jonge dikhususkan bagi masyarakar wilayah sekitar telaga.

“Kecuali kalau ada event baru boleh dari luar dengan mengeluarkan potensi yang ada dari wilayah  masing – masing terutama para penggiat UMKM, khususnya yang berada di wilayah Kapanewon Semanu,” pungkas Budi. (nun)