bernasnews – Ratusan umat Katolik dari berbagai daerah secara khusyuk mengikuti suguhan Kisah Sengsara Yesus Kristus lewat tablo atau visualisasi jalan salib dalam peringatan Jumat Agung yang dihadirkan oleh Orang Muda Katolik (OMK) di Gereja Kristus Raja Paroki Baciro, Yogyakarta, Jumat (29/3/2024).
Berdasarkan pantauan di lokasi, peragaan jalan salib itu berlangsung selama 2 jam dengan melalui 14 titik pemberhentian yang merupakan rangkaian ibadah Jumat Agung dalam memperingati wafatnya Yesus.
Koordinator Peragaan Jalan Salib, Joan mengatakan visualisasi jalan salib menggambarkan kesengsaraan Yesus hingga wafat sebagai rangkaian dari Tri Hari Suci Paskah. Pemeran dalam visualisasi jalan salib tersebut dan diperankan oleh kelompok remaja dan dewasa kurang lebih sekitar 52 orang yang merupakan gabungan dari OMK di beberapa gereja lainnya.
“Visualisasi atau Tablo ini memang dari tahun ke tahun selalu diadakan oleh OMK Baciro, namun kebetulan untuk tahun ini kita kolaborasi dengan OMK lainnya karena ada beberapa gereja yang belum bisa mengadakan,” ujar Koordinator Peragaan Jalan Salib, Joan, Jumat (29/3/2024).
Rangkaian acara pun berjalan dengan khidmat dan disaksikan ratusan jemaat. Kata dia, gereja di seluruh dunia tengah merayakan wafatnya Tuhan Yesus.
Mengusung tema ‘Pertobatan Ekologis’ sebagai pesan moralnya, Joan ingin umat Katolik bisa menghayati kesengsaraan Yesus di era saat ini dengan memperhatikan kondisi lingkungan yang belakangan menjadi sorotan tajam untuk terus dilestarikan.
“Kami ingin jemaat yang menonton peragaan jalan salib ini lebih peduli mengenai isu isu lingkungan, lebih peka walaupun sekecil apapun itu,” ucap dia.
Dalam visualisasi jalan salib kali ini, Pemeran Yesus Kristus diperankan oleh Elshando Mahardika Pramaditra yang merupakan OMK di salah satu Gereja Katolik di Bantul.
Shando mengungkap rasa syukur karena dipercaya untuk memerankan Yesus dalam momen Jumat Agung ini. Dia membutuhkan waktu dua bulan untuk betul-betul menghayati karakter Yesus Kristus di dalam dirinya sekaligus memperdalam imam Tuhan Yesus.
“Sungguh sangat lega setelah sekian lama, berlatih memasuki proses latihan, pendalaman karakter, meditasi bahkan segala proses yang dilalui bersama akhirnya sudah selesai,” kata dia.
“Ini membuat saya lebih hidup lagi, hidup bermakna lagi, ketika boleh merasakan oh ternyata seperti ini penderitaan Yesus Kristus yang mati di kayu salib untuk menebus dosa semua umat manusia dan tidak ada apa-apanya penderitaan saya dalam mempraktekkannya,” ceritanya.
Harapannya, melalui suguhan visualisasi jalan salib ini, setiap orang diajak untuk semakin memperdalam iman akan Tuhan Yesus Kristus.
Salah satu jemaat yang menyaksikan, Lilis mengaku takjub melihat visualisasi jalan salib yang diperankan dengan sangat baik di Gereja Baciro Yogyakarta itu. Ia pun sengaja meluangkan waktunya untuk merenungi dan menghayati kisah sengsara Yesus Kristus.
“Saya takjub menyaksikannya, ternyata penderitaan Tuhan Yesus itu sangat luar biasa dan ini menjadi pesan tersendiri untuk saya,” pungkasnya. (lan)












