bernasnews — Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selenggarakan Ngobrol Ekonomi Ramadan 1445 H (NGOBER) bertempat di The Alana Hotel and Convention, Sleman, DIY, Sabtu (17/3/2024).
Hadir dalam acara ini Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., Ketua Dewan Penasehat ISEI DIY Prof. Dr. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ketua ISEI DIY Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA., Wakil Ketua ISEI DIY Amirullah Setya Hardi, S.E., Cand.Oecon., Ph.D., Dr. Y. Sri Susilo Sekretaris ISEI DIY, Gumilang Aryo Sahadewo, S.E., M.A., Ph.D. yang merupakan Pengurus ISEI DIY.
Juga tampak hadir Dr. Rudy Badrudin, M.Si. Wakil Ketua Pengurus Daerah Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) DIY, Dr. Budiharto Setyawan dari ISEI DIY, Dian Ariyani, S.E., M.M. yang merupakan Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY, Parjiman, S.E., M.M. selaku Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Ibrahim yang merupakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Bakti Wibawa dari ISEI DIY, dan Dr. Jumadi, S.E., M.M. dari ISEI DIY.
Prof Edy mengemukakan, bahwa bagi Indonesia, dan umumnya negara mayoritas muslim, bulan puasa menjadi salah satu siklus ekonomi musiman. Menurutnya, dalam konteks ibadah, bulan puasa menjadi bulan yang dinanti-nanti karena merupakan bulan penuh berkah dan bulan ibadah, bulan pengampunan, dan sebutan lainnya.
“Namun bagi pelaku sebagian ekonomi, Ramadan juga ditunggu-tunggu karena menjadi siklus tahunan yang dapat mendorong kenaikan permintaan secara signifikan, Bulan Ramadan menggerakkan juga seasonal economy,” kata Prof. Edy, mantan Ketua Forum Rektor Indonesia ini.
Prof Lincolin yang merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan, bahwa belanja masyarakat selama bulan puasa ini mengalami peningkatan, walaupun harga beras juga naik. Sementara, Ibrahim dalam pemaparannya menyampaikan bahwa di negara dengan jumlah penduduk banyak seperti Cina dan India serta Indonesia, kontribusi konsumsi cukup tinggi di kisaran 57-60persen.
Parjiman dalam kesempatan ini mengungkapkan bahwa akan ada perputaran uang yang lebih besar di masa Ramadan dan Idul Fitri. Sementara Dian Ariyani mengemukakan, bahwa pada bulan Ramadan terjadi peningkatan kredit pada perbankan karena bulan tersebut merupakan masa panen bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), yang memerlukan persediaan untuk persiapan lebaran.
Sementara itu, Prof Didi mengatakan, bahwa kenaikan harga yang terjadi saat ini harus dicermati apakah seasonal atau struktural. “Teknologi pertanian yang ada sekarang dapat meningkatkan hasil panen,” tambah Dekan FEB UGM ini. Selanjutnya, Dr. Budiharto menambahkan, bahwa waktu akhir Ramadan merupakan masa panen bagi sektor akomodasi dan juga makanan minuman. Dr. Rudy kemudian menjelaskan bahwa 10 persen pemudik membelanjakan uang sebesar 1-10 juta rupiah pada saat pulang kampung.
Dr. Jumadi, yang merupakan Dekan Fakultas Ekonomi UWM menyatakan, bahwa fenomena saat ini disebut juga Romadhonomic. “Dimana terjadi kenaikan konsumsi dan kenaikan penawaran selama bulan Ramadan,” kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Gumilang menunjukkan bahwa kemiskinan di DIY saat ini sebagian besar berada di perkotaan. Selanjutnya, Bakti Wibawa mengemukakan, bahwa dalam Ramadan ini ada aspek tradisi, kebiasaaan, dan budaya.
Dan berikutnya, Dr. Amirullah menyatakan bahwa masyarakat sudah terbiasa dengan situasi di bulan Ramadan, sehingga telah dipersiapkan sebelumnya. Di akhir acara Ngobrol Ekonomi Ramadan (NGOBER) ini ditutup dengan buka puasa bersama. (*/nun)












