bernasnews – Kedokteran presisi, atau yang dikenal dengan istilah Precision Medicine atau Genomic Medicine telah menjadi sorotan dalam dunia medis global termasuk di Indonesia.
Hal ini bukan lagi sekadar konsep, tetapi menjadi sebuah paradigma baru yang menjanjikan dengan mengusung pendekatan yang lebih tepat dalam prevensi, diagnosis, dan penanganan penyakit.
Dekan Fakultas FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, MSc., PhD., tak menepis bahwa selama ini sangat banyak kasus penderita yang tak sembuh-sembuh dari sakitnya. Hal itu rupanya bukan soal jenis penyakit yang diderita tidak bisa disembuhkan, melainkan tubuh si pasien mengalami resistensi terhadap obat tertentu. Untuk mengetahui hal itu, perlu ada pemeriksaan genomik atau molekuler untuk meningkatkan kapasitas diagnosis, dan menetapkan risiko penyakit.
“Kedokteran presisi tidak hanya merupakan tren sementara, melainkan suatu keharusan. Kami telah beralih dari pendekatan yang mengandalkan bukti atau evidence-based medicine ke era baru yang didasarkan pada bukti genomic,” kata Dekan FK-KMK UGM, Yodi Mahendradhata, Jumat (1/3/2024).
Ia mengambil contoh saat pandemi Covid-19. Kata dia, covid-19 menjadi momen penting yang ikut menggarisbawahi pentingnya teknologi genomik dan molekuler. Dengan adanya pandemi ini, kita belajar tentang pentingnya determinan sosial dalam kesehatan, serta peran kritis surveilans genomik dalam mengidentifikasi dan menangani penyakit.
Menurut Prof. Yodi, kedokteran presisi tidak hanya menjadi tren sementara, melainkan suatu keharusan. Sebab tren pelayanan kesehatan sekarang ini tidak hanya pada pendekatan yang mengandalkan bukti (evidence-based medicine) namun juga didasarkan pada bukti genomik.
“Hal ini bukan sekadar tentang meningkatkan status kesehatan, tetapi juga memberikan pelayanan yang lebih unggul dan terjangkau kepada masyarakat secara keseluruhan,” ucap dia.
Oleh karena itu, isu inilah yang akan diangkat dalam Annual Scientific Meeting (ASM) FKKMK UGM 2024 dengan tema Precision Healthcare: Past, Present, Future yang digelar secara hybrid pada Sabtu (2/3/2024).
Tema yang diangkat dalam ASM 2024 ini merupakan sebuah panggilan bagi semua pelaku dalam industri kesehatan untuk secara aktif terlibat dalam memahami, mengadopsi, dan mengembangkan kedokteran presisi demi masa depan yang lebih cerah bagi kesehatan global.
Ketua ASM 2024, Gunadi menuturkan kedokteran presisi menggunakan informasi genomic orang yang bersangkutan untuk lebih mengefisienkan penanganan dengan menghindarkan resisten dan efek samping dari obat-obatan tertentu.
Kata dia, pengembangan kedokteran presisi harus didukung bidang bioinformatika, biobank, dan registry, yang saat ini telah berkembang pesat di Indonesia. Sebab, setiap langkah pengembangan kedokteran presisi ini diupayakan untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
“Tema ini merupakan sebuah panggilan bagi semua pelaku dalam industri kesehatan untuk secara aktif terlibat dalam memahami, mengadopsi, dan mengembangkan kedokteran presisi demi masa
depan yang lebih cerah bagi kesehatan global,” ucapnya.
Ia mencontohkan ada pasien yang menderita suatu penyakit, sudah diobati berbagai macam obat namun tidak sembuh. Setelah diperiksa genomik, diketahui ada satu kelainan.
“Ternyata terapinya sederhana, yaitu vitamin B6. Setelah dikasih B6 dia membaik. Vitamin B6 sangat bisa diakses, tapi membutuhkan informasi genomic,” kata dia.
Sementara, perwakilan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) Kedokteran, Yanri Wijayanti Soebroto, mengatakan ASM merupakan pesta ilmiah dengan 30 pokja yang terlibat dalam ASM 2024.
AMS sendiri bakal menjadi rangkaian dari Dies Natalis ke-78 FK-KMK UGM dengan tema Menjaga Harmoni, Mendorong Inovasi, juga HUT ke-12 RSA UGM, HUT ke42 RSUP Dr. Sardjito, dan HUT ke-96 RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro. ASM berlangsung di Auditorium FK-KMK UGM dan partisipasi daring melalui tautan bit.ly/PrecisionHealthcare2024.
“Program ini juga bisa digunakan menghitung jumlah virus pada pasien yang terinfeksi HIV. Sebetulnya, pengobatan genomik ini bukan barang baru, namun momentum agar pemeriksaan molekuler nantinya bisa diakses masyarakat dan gratis,” tandasnya. (lan)












