News  

Pemkab Sleman Launching Pengiriman Hasil Pengolahan Sampah berupa RDF

Pecah kendi sebagai simbolisasi Launching Pengiriman Hasil Pengolahan Sampah berupa Refuse Derived Fuel (RDF). Foto: Istimewa.

bernasnews — Pemerintah Kabupaten Sleman menggelar acara Launching Pengiriman Hasil Pengolahan Sampah berupa Refuse Derived Fuel (RDF), bertempat di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tamanmartani, Kalasan Sleman, Selasa (23/1/2024).

Hadir dalam acara tersebut, Gubernur DIY yang diwakili oleh Sekda DIY Drs. Beny Suharsono, M.Si, GKR. Mangkubumi, Kepala OPD terkait, Direktur Utama PT. Solusi Bangun Indonesia, Tbk (SBI) Lilik Unggul Raharjo dan Direktur Human Capital, Legal & Corporate Affairs, Ony Suprihartono, serta Forpimkapanewon setempat.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo dalam sambutannya mengemukakan, bahwa TPST Tamanmartani dibangun melibatkan 2 OPD yaitu Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman, Dinas Lingkungan dan Pemerintahan Kalurahan, di atas tanah Tanah Kas Desa Kalurahan Tamanmartani, dengan luas 11.684 pesergi. “Pembangunan TPST Tamanmartani ini, dengan kolaborasi Anggaran dari APBD Kabupaten Sleman dan Dana Keistimewaan,” terang dia.

Dikatakan Kustini, dalam pembiayaan penanganan sampah dari hulu hingga hilir ini, selain kolaborasi dari APBD Sleman dengan APBD DIY, tentu saja kami sangat memerlukan juga dukungan dari APBN melalui Kementerian Lingkungan Hidup. “Harapan kami Kementerian Lingkungan Hidup dapat mengabulkan permohonan kami untuk dibantu membangun Pusat Daur Ulang Sampah, sebagai fasilitas tambahan dalam mengelola sampah selain yg dikelola di TPST. Agar program pengurangan dan pengolahan sampah dapat tuntas tertangani,” ujar Bupati Sleman.

TPST Tamanmartani dibangun dengan konsep tidak ada limbah dan mengolah limbah menjadi bahan bakar. Teknologi pengelolaan sampah di TPST Tamanmartani merupakan pengembangan teknologi terbarukan dengan cara mengolah sampah menjadi RDF yang merupakan bahan bakar yang dibuat dari hasil pemrosesan atau pengolahan sampah untuk menjadi bahan bakar pengganti batu bara.

Dengan demikian RDF memiliki nilai ekonomi lebih dibanding sampah yang belum diolah. Pembangunan TPST Tamanmartani ini sebuah inovasi dalam pengelolaan persampahan di Kabupaten Sleman yang dapat menyelesaikan permasalahan persampahan dengan memperhatikan kondisi lingkungan yang berkelanjutan.

“Operasional TPST Tamanmartani sudah dapat mengolah sampah dengan kapasitas 60 ton per hari dengan menghasilkan RDF sejumlah kurang lebih 45 ton per hari. Dengan rincian 20 ton RDF yang bersal dari sampah anorganik dan 25 ton RDF yang berasal dari sampah organik. RDF yang dikirim ke PT. SBI berasal dari sampah organik dan anorganik,” beber Bupati wanita pertama di Sleman.

Sementara itu, dalam sambutannya, Lilik Unggul Raharjo menyatakan, bahwa kerja sama dengan Pemkab Sleman semakin mempertegas komitmen SBI untuk membantu pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah di daerahnya. “Hari ini, kerja sama dengan Pemkab Sleman telah membuahkan hasil. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk terus membantu pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan sampah,, termasuk di Sleman,” kata dia.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo dan para tamu saat meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tamanmartani. (Foto: Istimewa)

Sebelumnya, imbuh Lilik, SBI telah menjalin kerja sama pengelolaan sampah dengan berbagai daerah seperti Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, DKI Jakarta, dan pengelola sampah di Bali yang telah berjalan. Sedangkan Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Temanggung masih menunggu implementasi lebih lanjut.

“Kerja sama ini juga membantu SBI dalam peningkatan pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif untuk mencapai target penurunan emisi karbon yang telah ditetapkan oleh Perusahaan, dan kontribusi SBI untuk perwujudan pembangunan berkelanjutan melalui ekonomi sirkular. Pemanfaatan bahan bakar alternatif sebagai substitusi batu bara dalam proses produksi semen di SBI, dikelola oleh unit bisnis Nathabumi yang bergerak dalam bidang penyediaan solusi pengelolaan limbah dan sampah ramah lingkungan,”beber Lilik.

Kerja sama antara SBI dan Pemkab Sleman ini akan berlangsung selama tiga tahun. Setelah pengiriman perdana ini, Pemkab Sleman akan mengirimkan RDF melalui beberapa alternatif moda transportasi, salah satunya kereta api sebanyak 100 ton per hari untuk digunakan sebagai bahan bakar alternatif substitusi batu bara pada proses produksi semen SBI di Cilacap. Sementara pelepasan pengiriman perdana sampah RDF ke SBI ditandai dengan pecah kendil di depan truk pengangkut RDF. (nun/ ted)