Kampanye Kurangi Tisu, Pegiat Sampah Siapkan Serbet Saat Gelar Resepsi Nduwe Mantu

Poster kampanye kurangi tisu yang dipasang di venue Resepsi Nduwe Mantu. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Berbagai kegiatan festival, MICE, pentas musik dan sejenisnya selama ini sering dituding sebagai sumber penghasil sampah. Pada setiap kegiatan berakhir, sampah menumpuk. Sungguh tidak enak dipandang. Begitu pula kegiatan resepsi pernikahan maupun acara syukuran.

Hal itu dikemukakan oleh Pegiat Sampah dan Wisata Erwan Widyarto, dalam rilisnya yang dikirim ke bernasnews, Sabtu (30/12/2023). “Kami, yang selama ini bergiat di dalam pariwisata, sangat perhatian dengan persoalan di atas. Di dalam berbagai diskusi, kami terus membahas bagaimana agar event yang kita gelar bisa mengelola sampah dengan baik,” ujar dia.

Berkenaan hal tersebut, Erwan pun melakukan aksi nyata saat punya gawe Resepsi Nduwe Mantu, yang akan diselenggarakan pada hari Minggu, 31 Desember 2023 mendatang, dengan mencoba menerapkan konsep minim sampah. Resepsi syukuran ini untuk dua pasang pengantin. yakni Zaky Fadhila – Ayu Putri Ana dan Tsany Raihan – Fitri Noviyanti, di dalam satu pelaminan.

“Kami berpikir dari konsep awal pengelolaan sampah yaitu pengurangan. Maka, kami desain satu resepsi yang tidak menggunakan tisu. Mengurangi munculnya sampah tisu,” beber pengelola Bank Sampah Griya Sapu Lidi ini.

Erwan pun menegaskan, bahwa pihaknya ingin langsung action. Tidak meminta pihak lain tetapi memulai dari diri sendiri. Memulai dari yang kecil dan memulai saat ini juga. Selama resepsi berlangsung, lanjut Erwan, tidak disediakan tisu di lokasi acara. Harapannya, ‘langkah kecil’ ini migunani untuk bumi.

“Terus tamu harus bagaimana? Tenang saja. Kami sediakan serbet makan yang bisa digunakan kembali. Setiap tamu yang datang akan kami bagi lap makan atau serbet makan. Ini akan dibagikan saat mengisi buku tamu kehadiran. Syukur-syukur tamu sudah terbiasa membawa sapu tangan sendiri hehehe,” papar Pengawas Forum Upcycle Indonesia (FUI) ini.

“Mengapa tisu yang harus dikurangi? Kami punya ‘Cerita dalam Sepotong Tisu’. Cerita yang harus kita perhatikan dengan serius. Cerita ini ada dalam kemasan suvenir yang akan kami bagikan untuk para tamu,” imbuh Erwan.

Suasana rapat panitia Resepsi Nduwe Mantu. (Foto: Istimewa)

Erwan pun lantas menyampaikan detail ‘cerita rahasia’ tersebut. Tisu meskipun lembut, merupakan salah satu sampah anorganik yang sulit terurai. Dan sampah tisu di Indonesia itu sebanyak 25 ribu ton pertahun. “Bayangkan, tumpukan tisu tersebut memenuhi TPA. Pasalnya tisu selama ini dianggap residu yang harus berakhir di TPA,” tandasnya.

Padahal, menurut World Wide Fund (WWF), setiap hari sebanyak 270.000 pohon ditebang untuk membuat tisu. Dan ribuan pohon yang ditebang itu, berakhir sia-sia di tempat sampah. Selain itu, produksi tisu juga menghabiskan begitu banyak air. Dihabiskan 324.000 liter air untuk membuat 1 ton tisu. Secara lebih rinci, lanjut Erwan, untuk produksi 1 rol tisu, diperlukan 140 liter air. “Maka jika satu orang per hari menghabiskan 20 lembar tisu, artinya sebanyak 71,4 liter air terbuang sia-sia.“ ungkap dia.

Pesan kami dan keluarga, sambung Erwan, saatnya kita mengurangi tisu dan kembali menggunakan sapu tangan dan serbet makan. “Bisa diguna-ulang sehingga tidak menambah sampah,” ujarnya. Selain mengurangi tisu, Resepsi Nduwe Mantu juga ‘belajar’ mengurangi botol dan gelas plastik.

“Minuman yang disajikan untuk tamu, semua disediakan dengan gelas kaca. Bukan kemasan plastik. Dan alhamdulillah, venue tempat acara kami, ternyata juga sangat peduli dalam hal sampah ini,” pungkasnya. (*/nun)