Bonggol Jagung Jadi Barang Kerajinan dan Briket, Berikut Cara Mahasiswa UNY Membuatnya

Suasana pelatihan pemanfaatan limbah bonggol jagung oleh mahasiswa KKN MBKM UNY di Dusun Jetis, Bligo, Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Bonggol atau tongkol pada jagung adalah bagian dalam organ betina tempat bulir jagung duduk menempel. Istilah ini juga dipakai untuk menyebut seluruh bagian jagung betina. Tongkol terbungkus oleh kelobot.

“Secara morfologi, tongkol jagung adalah tangkai utama malai yang termodifikasi. Malai adalah organ jantan pada jagung dapat memunculkan bulir pada kondisi tertentu,” terang Ade Kurniawan, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) saat pelatihan pemanfaatan bonggol jagung pada warga Dusun Jetis, Bligo, Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Mahasiswa prodi Pendidikan Seni Kriya Fakultas Bahasa Seni dan Budaya UNY tersebut mengemukakan, bahwa bonggol jagung juga dapat dimanfaatkan untuk menambah penghasilan, dengan cara dibuat menjadi karya seperti sandal, kotak tisu, kap lampu bahkan hiasan dinding.

“Kami mendirikan CIP Janggel (bonggol, red) untuk mengolah sampah tanpa meninggalkan limbah,” kata Ade, dalam keterangan yang dikirim beberapa waktu lalu.

Cara memanfaatkan bonggol jagung ini pada awalnya bonggol dikeringkan selama 3 hari agar kering betul, lalu diamplas dengan mesin khusus agar bonggolnya layak menjadi bahan produksi. Kemudian bonggol dipotong sesuai ukuran dan dirakit menjadi karya. Setelah melalui proses penghalusan dan finishing maka karya berbasis bonggol jagung siap dipasarkan.

Lanjut Ade Kurniawan mengungkapkan, bahwa proses produksi ini tidak menyisakan limbah lantaran serbuk dari pengamplasan bonggol jagung juga dapat dijual sebagai campuran pakan ternak. “Benar-benar tidak meninggalkan sisa, bahkan sampahnya pun masih dapat menghasilkan uang,” tandas Ade.

Warga Dusun Jetis dan Kelompok Mahasiswa KKN MBKM UNY foto bersama sembari menunjukkan karya usai pelatihan pemanfaat bonggol jagung. (Foto: Istimewa)

Sementara itu, mahasiswa prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi FIKK UNY Taufiq menjelaskan tentang pengolahan limbah bonggol jagung yang dapat dimanfaatkan sebagai briket yang merupakan bahan bakar sejenis arang yang berguna sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak dan gas.

Menurut Taufiq, kelebihan briket ini diantaranya merupakan energi terbarukan, dapat mengurangi sampah. “Juga lebih murah dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Berikut cara membuat briket berbahan bonggol jagung, proses pertama kali bonggol jagung yang telah kering dibakar hingga menyisakan abu. Lalu abu bonggol jagung tersebut diberi campuran tepung kanji yang telah dicairkan.

“Perbandingan 2 bagian abu bonggol jagung dan 1 bagian tepung kanji. Kemudian adonan dicetak pada pralon dan briket siap digunakan yang tentunya setelah dikeringkan,” beber Taufiq.

Pelatihan pemanfaatan bonggol jagung ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN MBKM UNY di Dusun Jetis. Pasalnya di dusun tersebut banyak dijumpai limbah bonggol jagung yang hanya dibakar atau dibuang begitu saja setelah butir jagungnya dipipil atau diambil. (*/ ted)