bernasnews – Desa wisata ampung Flory merupakan salah satu tempat wisata yang terletak di dusun Jugang Pangukan RT 05/RW 11, Tridadi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Flory.
Kondisi alam di desa wisata kampung Flory ini sangat bagus dan dan juga menarik yaitu seperti: area pertanian yang biasa disebut dengan zona taruna tani. Dengan luas 1 hektare yang di dalamnya terdapat berbagai usaha tanaman hias, tanaman buah, dan kolam ikan terapi. Di tempat ini juga terdapat Agro Bush, dengan luas lahan sebesar 2 hektare yang di dalamnya terdapat wisata petik buah langsung, wisata edukasi dan pelestarian lingkunga.
Buku Kosmos (Neil deGrasse Tyson, 2016) membantu memperjelas tentang alam semesta dan manusia yang mendiami alam tersebut yaitu bagaimana manusia mengetahui posisinya di alam semesta dan menerima secara intelektual, kulturel, dan emosional.
Jadi manusia hidup berdampingan dengan alam semesta. Kalau manusia merawat alam tersebut maka akan memberikan banyak manfaat atau benefit bagi kehidupan generasi selanjutnya terutama di kampung Flory ini yang menjadi tempat wisata.
Desa wisata merupakan salah satu program yang digunakan untuk menggali berbagai potensi yang terdapat di desa dan dapat dikelolah sebagai objek wisata. Dengan adanya objek wisata tersebut akan menumbuhkan daya tarik dan karakteristik dari desa tersebut, yang dalam hal ini kampung Flory unggul sumber daya alamnya. Dengan dikelolanya potensi di wisata kampung Flory tersebut secara tidak langsung akan mendorong masyarakat lokal untuk menjaga dan melestarikan alam di desa tersebut.
Desa wisata kampung Flory sebagai salah satu wisata di kabupaten Sleman menarik untuk dikunjungi karena ramah lingkungan, sumber daya alam yang masih terjaga dan terdapat berbagai fasilitas yang cukup lengkap di dalamnya. Seperti pertanian, pariwisata, pendidikan dan kuliner. Lokasi desa wisata kampung Flory ini kurang lebih 3 hektare yang berada di pinggir kali Bedog yang airnya terkenl sangat jernih dan suasana khas di pedesaan dengan keindahan sawah yang dapat menyenangkan mata dari para pengunjung.
Sawah dan kebun-kebun di sekitar wisata kampung Flory menjadi sumber pendapatan utama bagi para petani di daerah tersebut. Bukan hanya pertanian dan perkebunan, masyarakat juga membudidaya ikan di sekitar sungai dan di pinggir sawah. Pemandangan persawahan yang hijau membuat wisata kampung Flory semakin menarik dengan keindahan alamnya.
Sejarah desa wisata Flory
Desa wisata Flory terletak di RT 05/ RW 11, Jugang, Plaosan, Sleman, Yogyakarta. Flory menjadi nama dari kampung wisata ini, karena kampung Flory bergerak dalam bidang flora atau tanaman.
Desa wisata edukasi dengan jumlah wisatawan yang cukup banyak ini tidak terlepas dari penghargaan Pemuda Pelopor, yakni bentuk penghargaan dan pengakuan yang diberikan oleh pemerintah kepada pemuda Indonesia atas prestasi dan kontribusi yang dilakukan demi kemajuan masyarakat dalam berbagai bidang.
Hal ini berawal dari seorang pemuda desa bernama Sugihartono, yang menjadi juara nasional Pemuda Pelopor dalam bidang petanian. Dia merasa prihatin dengan pertanian yang ada di wilayah sekitar, karena anak-anak muda saat ini enggan untuk bertani. Bertani dipandang kotor, pendapatannya tidak banyak, dan alasan lainnya, sehingga mindset tersebut ingin diubah menjadi petani milenial.
Sugihartono kemudian mengajak para pemuda sekitar untuk membicarakan soal pertanian. Pembicaraan tersebut menjadi langkah awal yang dilakukan untuk menyadarkan para pemuda setempat, agar mau peduli dengan pertanian di desa tersebut.
Penyewaan lahan pun dilakukan dengan mengajak pemuda sekitar dengan jumlah awal 18 orang untuk mengelola lahan tersebut. Pertanian yang dilakukan kali ini berbeda, karena bukan hanya tanaman padi saja, melainkan juga tanaman hias dan hortikultura. Lahan yang dibuat tidak rata, dan berbentuk terasering serta terdapat bebatuan dan pasir.
Adapun kelompok pemuda yang dibentuk tersebut bernama Taruna Tani atau Petani Muda. Dalam hal ini, taruna artinya muda dan tani artinya petani. Pengumpulan dana juga dilakukan, dengan masing-masing anggotanya mengumpulkan Rp 175.000 untuk membeli tanaman. Sugihartono sudah memiliki toko tanaman, dan masing-masing anggota disuplaikan 100 tanaman hias dengan beberapa jenis.
Sebagian biaya juga digunakan untuk kegiatan operasional, seperti berpupuk. Seiring dengan berjalannya waktu, Taruna Tani pun dilegalkan dan di-akta notariskan sehingga menjadi kelompok Taruna Tani yang bergerak di bidang tanaman hias dan tanaman hortikultura pada tahun 2014. Kemudian pada tahun 2015 kelompok Taruna Tani semakin berkembang dengan banyaknya pengunjung yang datang untuk mencari tanaman hias.
Melihat pengunjung yang datang juga anak-anak kecil yang mengikuti orang tuanya, maka lahan pertanian pun semakin dikembangkan dengan membuat permainan bagi anak-anak. Sarana yang dibuat ialah permainan air, karena menyesuaikan dengan keadaan lahan sekitar yang dipenuhi dengan media air.
Pengembangan juga dilakukan tehadap kelompok, yakni pembentukan kelompok Dewi Flory yang menggerakkan kegiatan out bound dan permainan bagi anak-anak. Lahan yang difungsikan untuk out bound sekitar 6.000 meter. Adapun perkembangan out bound Dewi Flory, tidak terlepas dari pengukuhan SK Bupati Sleman melalui Dinas Pariwisata. Sedangkan Taruna Tani yang juga semakin eksis, mendapatkan bantuan berwujud tanaman senilai Rp 800.000.000,- melalui permohonan yang diajukan kepada Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup.
Tanaman yang diperoleh itu seperti bayam, asam jawa, cassia, malaka, dan lain sebagainya. Pemuda yang dulunya tergabung dalam kelompok Taruna Tani juga merupkan lulusan SD hingga sarjana, dan saat ini telah memiliki toko tanaman sendiri.
Dewi Flory juga semakin dikenal hingga pada tanggal 15 Mei 2017 bertepatan dengan HUT Kabupaten Sleman, Kampung Flory termasuk kelompok Dewi Flory dan Taruna Tani yang ada di dalamnya dikukuhkan oleh Bupati Sleman. Karena itu kegiatan out bound yang dilakukan di desa Flory, tidak terlepas dari bagaimana mengembangkan tanaman.
Bagi pengunjung anak-anak seperti TK atau play group diajarkan cara menanam menggunakan media yang sesuai dengan usia mereka. Usia SD hingga SMP diajarkan penanaman dengan cara steak dan lain sebagainya.
Hasil yang diperoleh pun sangat besar pertahunnya, terutama pada tahun 2017, 2018, dan 2019 dengan jumlah pengunjung di hari weekend mencapai 1.000 hinga 2.000 orang. Kampung Flory juga merekrut 100 pemuda sekitar kampung untuk memandu kegiatan out bound, dengan biaya jasa sebesar Rp 80.000 per orang, sekaligus konsumsi.
Kampung Flory juga mendapatkan hibah dari Corporate Social Responsibility (CSR) seperti BPD, BRI dan Gubernur DIY yang kemudian dialokasikan untuk membangun fasilitas wisata seperti jembatan goyang, pendopo, wahana out bound, dan panggung.
Bantuan yang diperoleh tersebut tidak terlepas dari kekompakan serta kekuatan pengurus, terutama tanggungjawab pengurus secara penuh terhadap bantuan yang diperoleh dan pengelolaan kampung wisata Flory. Selain terdapat wahana bermain dan lahan perkebunan, kampung wisata ini juga memiliki tempat kuliner yang diberi nama Bali Ndeso.
Kendala pembangunan
Perkembangan kampung wisata Flory sempat mengalami kendala selama dua tahun yakni 2019 dan 2020 akibat pandemi, serta peristiwa susur sungai oleh SMP Negeri 1 Turi yang sempat memakan korban jiwa sehingga hal ini membuat operasional kegiatan out bound diberhentikan sejenak.
Kemudian di tahun 2021, aktivitas wisata di kampung Flory kembali berjalan dengan membenahi beberapa aset yang rusak terlebih dulu seperti wahana permainan, fasilitas, penerangan, air dan mengumpulkan para karyawan. Selain itu, kendala lain ialah ada beberapa warga masyarakat yang tidak setuju adanya wisata ini, akibat polusi udara dan polusi suara. Apalagi jika wisatawan yang berkunjung mencapai 2.000 orang dan kendaraan yang sering berlalu lalang di sekitar kampung Flory, membuat masyarakat merasa terganggu karena bising.
Untuk mengatasi hal tersebut pihak kampung Flory berkoordinasi dengan wilayah setempat sehingga dalam kegiatan pembangunan seperti jalan, pihak kampung Flory mensubsidi akan memperbaiki 100 persen. Bantuan dari kampung Flory juga diberikan untuk kegiatan administrasi di RT/RW setiap bulan, namun tergantung dari seberapa besar dampak suatu RT/RW tersebut kepada kampung Flory. Perkembangan kampung Flory pun tidak terlapas dari promosi yang dilakukan, yakni obyek ini dipromosikan melalui digital marketing seperti media sosial dan internet.
Pemuda dilatih sebelum ke lapangan
Setelah jumlah pemuda yang dikumpulkan untuk bertugas di lapangan terpenuhi yakni 100 orang, dilakukan pelatihan kegiatan out bound dan P3K terlebih dulu selama tiga hari. Adapun beberapa pemuda yang dinilai berkompeten dalam pelatihan tersebut, akan dicatat dan sewaktu-waktu dapat dipanggil jika dibutuhkan tenaga lapangan lebih dan yang paling diutamakan ialah pemuda pemudi kampung Flory.
Kampung Flory dalam menyiapkan generasi berikutnya pun sudah diupayakan yakni dengan mengikutsertakan para pemuda dalam kegiatan, sehingga mereka dapat belajar dan memiliki pengalaman. Meskipun demikian, para pengelola di kampung wisata Flory perlu dilatih agar lebih profesional lagi, sehingga pelayanan yang diberikan pun baik dan sesuai harapan konsumen.
Luas kampung Flory sekitar 14.000 meter dan untuk saat ini ada salah satu area yang akan dirintis kembali pasca pandemi yakni kolam berenang bagi anak-anak dan bumi perkemahan.
Kiranya kampung Flory ini menjadi tempat wisata yang membawa manfaat bukan hanya untuk pengunjung atau wisatawan melainkan bagi masyarakat yang terus menjaga dan merawat potensi alam tersebut. (Meltyde Da Lopez, Petronela Waty, dan Patrick Valdano Sarwom, Team Jurnalistik Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi [ImaKo] STPMD “APMD” Yogyakarta).











