News  

‘Mekar Fun Kit’ Karya Mahasiswa UNY, Sebuah Solusi untuk Kurangi Sampah Anorganik

Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), pembuat karya Mekar Fun Kit, berbahan sampah anorganik. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Persoalan sampah tentu menjadi isue menarik di manapun karena menyangkut kebersihan dan kesehatan. Seperti halnya Jogja hingga kini masih dalam kondisi ‘Darurat Sampah’, warga diminta kesedaraannya untuk mengelola sampah secara mandiri dengan melakukan 3 R (Reduce, Reuse, Recycle), mengurangi, menggunakan ulang, dan mendaur ulang.

Dan yang menjadi pokok persoalan terkait sampah adalah sampah anorganik. Sampah anorganik merupakan sampah yang sifatnya sulit diurai oleh pembusukan, seperti plastic, kaleng, dan Styrofoam atau bahan-bahan dari pengolahan bahan tambang non hayati. Guna mengurangi jenis sampah anorganik ini dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Mereka adalah Fathun Ayuba, Talitha Rasendria Nugraheni, Azizah Sekarhani dan Anggit Windyarti dari prodi PG PAUD, yang memanfaatkan sampah anorganik menjadi inovasi permainan kit anak yang dinamai ‘Mekar Fun Kit’. Produk ini memanfaatkan botol plastik sebagai bahan utama dalam pembuatannya karena mudah didapat dan terjangkau, sertai tambahan kain perca sebagai bahannya.

Menurut Fathun Ayuba, mereka membuat fun kit dari sampah organic lantaran didasari permasalahan sampah terutama di DIY. “Banyak masyarakat yang belum sadar terhadap hal tersebut, sehingga sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan dan akhirnya tutup sementara,” ujar Fathun, di Kampus UNY, Senin (2/10/2023).

Dikatakan, padahal berbagai jenis sampah pada dasarnya dapat diolah kembali menjadi barang yang berharga, termasuk sampah anorganik yang butuh perhatian khusus karena merupakan jenis sampah yang tidak dapat terurai atau membutuhkan waktu lama. Sementara dalam memanfaatkan sampah masyarakat Indonesia masih kurang kesadaran maupun wawasan mengenai hal tersebut.

“Walau sudah mulai banyak masyarakat Indonesia yang mulai memilah sampah namun hanya berhenti di situ saja. Belum banyak yang menyalurkan ide kreatifnya untuk membuatnya menjadi sesuatu yang berharga. Sehingga sampah yang diolah umumnya hanya menjadi hiasan atau barang yang kurang fungsional,” lanjut Fathun.

Talitha Rasendria Nugraheni menambahkan, bahwa fun kit yang mereka buat bertarget pasar para orang tua yang memiliki anak usia 3-5 tahun. “Media pembelajaran tersebut akan menstimulasi berbagai perkembangan anak usia dini, utamanya perkembangan motorik halus anak saat menyelesaikan karya yang ada,” papar Talitha.

Dengan media berkarya tersebut juga dapat memberikan lapangan pekerjaan pada pemulung di sekitar Yogyakarta untuk dapat memilah lagi sampah yang akan diolah sebagai bahan media. “Dengan adanya berbagai benefit tersebut, Mekar Fun Kit dapat dipasarkan dengan harga terjangkau agar anak-anak dapat merasakan manfaatnya,” harap Talitha.

Penampakkan isi kemasan Mekar Fun Kit. (Foto: Istimewa)

Azizah Sekarhani mengemukan, bahan yang dibutuhkan untuk membuat Mekar Fun Kit adalah botol plastik, kain flannel dan kain perca, mata ikan, lem kayu, perekat Velcro serta cat akrilik. “Alatnya menggunakan gunting, penggaris, cutter, bolpoin, pensil, kuas, pistol lem,” bebernya.

Cara membuatnya, pertama siapkan botol plastik lalu dicat menggunakan cat akrilik warna putih sebagai warna dasar. Untuk membuat celengan botol dilubangi di samping atas dan jika digunakan untuk tempat pensil botol dipotong seperempatnya.

“Kain flannel dipotong sesuai dengan keliling botol dan diberi perekat pada ujungnya. Kemudian dipackaging dan diberi label merk. Fun kit siap dipasarkan,” ujar Azizah.

Sementara Anggit Windyarti menjelaskan, bahwa fun kit ini melatih motorik halus anak yang di dalamnya terdapat kegiatan menggunting, menempel, merekatkan dan mengancing. “Melalui produk Mekar Fun Kit ini anak akan melakukan beberapa kegiatan yang melatih motorik halusnya yaitu menggunting pola pada kain flanel, menempelkan pola yang telah digunting, merekatkan kain flanel dan mengancingnya,” katanya.

Karya ini berhasil meraih dana dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi RI dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang PKM-K tahun 2023. (*/ ted)