Salah Satu Cara Kurangi Sampah: Limbah Minyak Jelantah Dibikin Lilin Aromaterapi

Mahasiswa KKNR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) saat mengajari warga cara membuat lilin aromaterapi dari limbah minyak jelantah. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Persoalan sampah akibat dari kebijakan penutupan pelayanan TPA Regional Piyungan, akibat dari lokasi eksiting TPA tersebut yang sudah sangat penuh dan melebih kapasitas sehingga memunculkan respon masyarakan yang bermacam-macam.

Meskipun kini kebijakan telah diubah dengan sistem penjadwalan dimana warga masyarakat hanya diperboleh membuang sampah di TPS/ Depo yang telah ditunjuk pada hari-hari tertentu saja. Kebijak ini masih menuai pro dan kontra, berlum dapat memuaskan semua pihak.

Mengelola sampah khususnya sampah rumah tangga atau hasil dari aktifitas rumah, memasak maupun aktifitas lainnya adalah kembali pada kesadaran masing-masing. Guna pengelolaannya sudah dicanangkan program 3 R (Reduce, Reuse, dan Recycle) atau mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang.

Salah satu sampah hasil rumah tangga yang luput dari perhatian adalah minyak jelantah atau limbah minyak sisa proses penggorengan yang telah dipakai berulang-ulang dan dianggapnya sebagai sampah yang harus dibuang seperti halnya sampah jenis organik lainnya. Padahal sejatinya limbah minyak jelantah ini dapat didaur ulang menjadi produk yang bermanfaat.

Seperti yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa KKNR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 8340, di Desa Pinggir, Sidomulyo, Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY. Mereka adalah Muhammad Raffi Argifari, Sony Ardiansyah Yekti Wibowo, Media Binar Yedeya, Ja’far Yanuar Sugrindo As Salafi, Syifa Kamila Khairunnisa, Rhiski Husniati, Najla Nashirah, Rahma Chairunissa, Restu Maisaroh dan Ratih Kumalasari Sujono.

Guna mengurangi limbah jelantah para mahasiswa ini mengolahnya menjadi lilin aromaterapi. Menurut Ketua KKN Muhammad Raffi Argifari, jelantah merupakan minyak sisa penggorengan yang telah digunakan berulangkali. “Minyak jelantah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan,” terang dia, di sela-sela kegiatan, Senin (11/9/2023).

Selain itu imbuh Raffi menjelaskan, mengkonsumsi minyak jelantah juga dapat menimbulkan bahaya seperti kanker dan penyempitan pembuluh darah yang dapat menimbulkan hipertensi, stroke dan penyakit jantung coroner.

Dalam kesempatan itu, Rhiski Husniati selaku Penanggungjawab kegiatan memaparkan cara pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah ini. “Awalnya rendam minyak jelantah bersama arang selama satu jam untuk mengabsorbsi bau dari minyak tersebut,” terang dia.

Lebih lanjut mahasiswa prodi kimia FMIPA UNY mengatakan, kemudian panaskan minyak jelantah bersama stearin dan krayon. Berikutnya jika semua bahan sudah mencair dan agak mendidih ditambahkan aromatik.

“Kemudian aduk sebentar kemudian diangkat. Tuang cairan lilin aromatic tersebut dalam cetakan yang sudah diberi sumbu lalu diamkan hingga beku,” ujar Rhiski.

Sementara itu, Ratih Kumalasari Sujono selaku Anggota KKN mengatakan, bahwa pemanfaatan limbah jelantah untuk dijadikan lilin aromaterapi ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Juga dapat digunakan sebagai sumber penerangan, dekorasi ruangan, media aromaterapi, bahkan punya nilai ekonomis.

“Sedangkan manfaat lilin aromaterapi ini dapat mengatasi insomnia, mengurangi stress, serta memberi efek menenangkan dan merilekskan pikiran,” pungkas Ratih. (*/ ted)