News  

Gelaran Event Komunitas Underground Jogja: Kelola Sampahmu, Ayo Terus Menanam!

Narasumber, panitia, dan anak band pengisi acara foto bersama usai penyerahan secara simbolis bibit tanaman. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews — Komunitas Underground sebuah kumpulan anak muda yang dipandang ‘minor’ pemberentok yang mengemas protesnya melalui karya musik keras, bergaya urakan, bertato, dan sebagainya yang terkadang menimbulkan persepsi buruk terhadap mereka.

Pandangan dan persepsi itu tentu akan mencair, setelah memahami dan menyaksikan kiprah mereka secara langsung terhadap masyarakat, sosial, ekonomi, budaya maupun lingkungan dan kecintaan terhadap alam semesta.

Hal ini, seperti yang dilakukan oleh Komunitas Underground Jogja, yang menggelar sebuah event epik bertajuk ‘Hitam Semangatku Putih Kejujuranku Untuk Kelestarian Alam Yogyakarta Istimewa’, bertempat di Pyramid, Jalan Parangtritis, Sewon, Bangunharjo, Kabupaten Bantul, DIY, Minggu (10/9/2023).

Kegiatan yang digelar sehari dan gratis itu terdiri beberapa rangkaian acara yaitu Talkshow Lingkungan Hidup; Music Performace Yogyakarta Blasting #1 menampilkan grup band Propaganda, Starlight, Murder 27, Dynamite, dan Sunday Morning Breakfast; Gelar UMKM Yogyakarta Oke!; Berbagi Tanaman, 1000 Bibit Tanaman Hutan dan Buah.

Dalam acara Talkshow Lingkungan Hidup, dengan tema ‘Mewujudkan Pariwisata Berbasis Kelestarian Alam dan Budaya Yogya Istimewa’ menghadirkan narasumber Nazir Foead (Kepala Badan Restorasi Gambut RI 2015 -2019), Y. Sri Susilo (Dosen FEB UAJY, Pengurus KADIN DIY, Pengurus ISE Jogja, dan Ketua Pokdarwis Panembahan Gumegah, Kraton Yogyakarta), dan Purnomo Widyo Nugroho (Cathak) dari Cagar Urip Samigaluh, Kulon Progo. Sebagai Moderator, Fajar Surya Pratomo dari Yayasan Lnsekap Nusantara Hijau.

Dalam paparannya, Nazir Foed mengemukakan, bahwa persoalan sampah regulasi atau peraturan yang dibuat oleh pengampu wilayah telah jelas namun semua itu kembali pada perilaku masyarakatnya yang masih sering lupa sehingga diperlukan ‘polisi’ dari masyarakat itu sendiri.

“Persoalan sampah dimulai dari diri sendiri, kemudian berkontribusi dengan lingkungan. Sedang untuk menyampaikan suara atau aspirasi terkait sampah berelasilah dengan politik, misalnya dengan anggota dewan atau pejabat dan lakukanlah secara berulang penyampaian soal sampah,” kata Nazir.

Narasumber dan moderator talkshow lingkungan hidup. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

Sementara, Purnomo Widyo Nugroho atau yang akrab disapa Cathak ini mengungkapkan, Indonesia sebagai bangsa yang besar, luhur dan banyak nasihat bijak yang adiluhung namun telah banyak yang melupakan. Menurut Cathak, bahwa banyak tempat atau daerah dengan toponame terkait alam yang menyiratkan agar kita tidak melupakan alam.

“Kehadiran teknologi memang memudahkan namun dampaknya menjadikan kita lupa terhadap alam. Salah satu contoh, produk pipa pvc yang juga telah merambah ke pedesaan membuat warga lupa untuk ngaruhke dan merawat sumber mata airnya. Banyak yang suka sebut healing dan berwisata ke alam, healing sendiri kan penyembuhan artinya sesorang dalam kondisi sakit mencari obatnya dengan alam,” kata dia.

Dalam politik, lanjut Cathak menambahkan, terkait sampah juga pernah kejadian hanya untuk pencitraan semata yang berujung pada kerusakan alam. “Yaitu pernah ada pembangunan TPST Sampah di sebuah dataran tinggi sekitar 600 MDPL, dibangun di antara dua sungai sedangkan di bawahnya berdiri gedung sekolah SD,” ungkap penggiat pelestarian alam di Samigaluh.

Hal senada juga disampaikan oleh Y. Sri Susilo, lingkungan alam adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Pariwisatan yang berbasis dari alam untuk DIY ini sangat komplit, dari gunung, pegunungan, sungai, laut semuanya ada. Namun dalam implementasi kebijakan belum menyentuh hulu hilir yang dampaknya pada masyarakat seperti pariwisata di Bali.

Menurut penggiat wisata dan penghobi gowes ini, yang juga menjadi perhatian adalah sebagai negara yang berkembang tentu muncul persoalan sampah akibat dari industrialisasi. Bahkan ada yang mengimpor sampah berupa busana bekas pakai. “Adanya program 3R(Reduce,Reuse, Recycle juga tidak konsisten, padahal jika dilakukan konsisten dapat mengurangi beban planet,” ungkap Susilo.

Dosen FEB UAJY ini menambahkan, persoalan sampah berkaitan pariwisata ini dibutuhkan kolaborasi dan sinergi semua pihak. Seperti kegiatan yang digelar hari ini, ada komunitas, ada pelaku usaha UMKM. “Atau disebut pentahelix, unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas. Dan satu lagi peran media massa untuk berkolaborasi dan bersinergi serta berkomitmen untuk tujuan bersama,” pungkas Susilo. (ted)