News  

Akibat Jogja Darurat Sampah, Jumlah Bank Sampah Kemantren Kraton Meningkat

MPP Kemantren Kraton Drs. Sumargandi, M.Si di dampingi oleh Faskel Bank Sampah Harti (Kanan) saat berkunjung di Bank Sampah Surya Indah RW 08 Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews — Kondisi Jogja darurat sampah akibat ditutup sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, sejak 23 Juli hingga tanggal 5 September 2023 mendatang menumbuhkan semangat warga untuk memilah sampah semakin tinggi juga disertai pertumbuhan secara signifikan keberadaan bank sampah.

Demikian disampaikan oleh Mantri Pamong Praja (MPP) Kemantren Kraton Drs. Sumargandi, M.Si saat berkunjung ke Bank Sampah Surya Indah RW 08 Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, Jumat (25/8/2023).

Sumargandi mengemukakan, bahwa kinerja bank sampah di Kemantren Kraton perlu digalakkan lagi, yang dahulunya hanya menangani sampah anorganik kekinian juga menangani sampah yang organik dimana volumenya 60 persen dari total sampah yang dihasilkan keluarga. “Diharapkan sampah yang dibuang di depo/ tps adalah sampah yang benar-benar residu, yang organik ini bisa untuk menambah income-nya yang dibuat jadi pupuk dan dijual,” kata dia.

“Hanya saja ini perlu adanya peralatan-perlatan pendukung yang lebih mempercepat proses pembuatan pupuk. Cukup yang sederhana saja sehingga tiga minggu proses pembuatan pupuk bisa jadi,” lanjut Sumargandi.

Dari volume sampah yang dibuang oleh warga Kemantren Kraton dari data setiap minggunya ada pengurangan, dengan adanya program ‘Mbah Dirjo Resik’ dengan berbagai variasi dan kreatifitas dari warga sendiri. “Pertumbuhan bank sampah-bank sampah juga meningkat, di Kemantren Kraton sendiri naik berkisar 30 persen. Selain itu kinerjanya juga meningkat termasuk dalam penambahan nasabahnya,”bebernya.

MPP Kemantren Kraton berharap, pengelolaan sampah dan pemilahan sampah dari rumah itu bisa menjadi budaya yang baik. Menurut Sumargandi, pertama memang orang itu terpaksa kemudian menjadi biasa yang akhirnya menjadi kebiasaan yang menjadi adat dan budaya. “Kedepan orang itu sudah sadar sendiri (mengelola sampah),” tandasnya.

Kalau sudah menjadi budaya, imbuh Sumargandi, yang menjadi tantangan bersama adalah anak-anak muda dimana kita perlu mematik untuk terlibat dalam kegiatan di bank sampah. “Sebenarnya Karang Taruna juga bisa dimanfaatkan untuk itu (bank sampah). Semoga ke depan dari sisi anggaran bisa dilakukan sebagai usulan untuk kegiatan yang melibatkan anak-anak muda,” ungkapnya. (ted)